Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ancaman Retinopati Diabetik di Tengah Lonjakan Kasus Diabetes

Ancaman Retinopati Diabetik di Tengah Lonjakan Kasus Diabetes
acara yang bertemakan ‘Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik’ di Jakarta, pada Senin (20/07/2026) (IDN Times/Misrohatun)
Intinya Sih
  • Indonesia menempati peringkat kelima dunia untuk jumlah penderita diabetes, dengan proyeksi lebih dari 23 juta kasus pada 2030 dan kesenjangan besar dalam deteksi dini penyakit ini.

  • Retinopati diabetik menjadi komplikasi serius yang sering diabaikan, menyebabkan kebutaan yang sebenarnya bisa dicegah jika pemeriksaan dan pengendalian gula darah dilakukan sejak awal.

  • Konsorsium DRIVE membangun proyek tele-ophthalmology nasional untuk memperluas skrining retina, melatih tenaga medis primer, dan mendukung target Kemenkes menurunkan gangguan penglihatan sebesar 25 persen hingga 2030.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Indonesia menghadapi ancaman karena menempati peringkat kelima sebagai negara dengan populasi diabetes terbesar di dunia, dengan proyeksi angka pasien akan melampaui 23 juta jiwa pada tahun 2030.

Saat ini, diperkirakan 26 juta penduduk dewasa hidup dengan diabetes, tetapi sistem kesehatan nasional baru berhasil mendeteksi sekitar 15 juta kasus.

Kesenjangan diagnostik ini menciptakan fenomena gunung es yang berbahaya, di mana jutaan individu berisiko mengalami komplikasi mikrovaskular yang mengancam penglihatan tanpa menyadarinya hingga gejala stadium lanjut muncul.

Beban sosial dan ekonomi yang ditimbulkan pun parah. Sebuah studi di Yogyakarta mengungkap prevalensi retinopati diabetik sebesar 43,1 persen di antara pasien diabetes, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 35,4 persen.

Tanpa intervensi sistematis, kerugian ekonomi akibat penurunan kualitas hidup di Indonesia diproyeksikan dapat mencapai Rp84,7 triliun. Hal ini menjadi pembahasan dalam acara yang bertemakan "Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik" di Jakarta, pada Senin (20/07/2026).

Pasien diabetes yang tidak terdeteksi jadi tantangan

Tingginya angka penyandang diabetes yang belum terdiagnosis menjadi tantangan besar saat ini. Gula darah yang tidak terkendali dengan baik akan membuat kerusakan terus berjalan.

“Sayangnya, diabetes ini tidak datang sendiri, ia membawa 'teman-temannya' seperti kolesterol, obesitas, dan hipertensi yang memperparah kerusakan pembuluh darah—mulai dari memicu retinopati diabetik pada mata, hingga menyumbang 20 hingga 30 persen kasus pasien cuci darah,” ujar Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, Ketua Umum PERKENI.

Oleh karena itu, pasien retinopati diabetik wajib mengendalikan gula darahnya sedini mungkin. Stigma sosial yang membuat orang takut diperiksa harus disingkirkan. Pemeriksaan lebih awal justru penting demi menjaga kualitas hidup pasien dan menunjukkan rasa sayang pada keluarga melalui peningkatan kesadaran dan sistem pendukung yang kuat.

Kebutaan masih dianggap wajar di usia tua

Seorang pria lanjut usia mengenakan kacamata dan menyentuh telinganya dengan kedua tangan di luar ruangan dengan latar bunga.
ilustrasi orang tua atau lansia, penuaan (magnific.com/prostooleh)

Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M, mengatakan bahwa retinopati diabetik merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai, tetapi ironisnya menjadi isu kesehatan yang paling jarang dibahas.

Akibatnya, muncul normalisasi yang kurang pas di tengah masyarakat bahwa gangguan fungsi penglihatan di usia tua akibat diabetes dianggap sebagai sesuatu yang wajar, padahal kebutaan ini sebenarnya sangat bisa dicegah.

“Kita harus ingat bahwa 85 persen informasi harian kita ditangkap secara visual, sehingga hilangnya kemampuan melihat tidak hanya menurunkan kualitas hidup pasien secara drastis, tetapi juga menjadi beban psikologis dan fisik bagi keluarga yang merawatnya,” ia menjelaskan.

Kerusakan pembuluh darah di belakang bola mata ini terjadi secara bertahap dan membuat sebagian besar pasien sama sekali tidak menyadari ancamannya dalam lima tahun pertama diabetes.

Misi mencari pasien diabetes yang belum terdeteksi

Untuk mengatasi berbagai hambatan, Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) dibentuk, yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan, di antaranya akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi yang berkontribusi sesuai bidang keilmuannya dalam mempersiapkan dan mengimplementasikan studi.

Tujuan utama dari kemitraan ini adalah membangun proyek percontohan (pilot project) tele-ophthalmology komprehensif dari hulu ke hilir untuk menjembatani kesenjangan infrastruktur, termasuk kurangnya ketersediaan tenaga kesehatan mata, di mana saat ini Indonesia rata-rata hanya memiliki satu dokter spesialis mata per 116.961 penduduk.

Dengan menempatkan kamera retina (kamera fundus) serta melatih dokter umum dan perawat di fasilitas kesehatan primer (puskesmas), konsorsium ini berupaya untuk menemukan kasus tersembunyi secara sistematis dan menghasilkan bukti ilmiah yang kuat untuk selanjutnya menjadi landasan pembuatan kebijakan pemerintah.

Inisiatif ini secara langsung mendukung tercapainya target Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025-2030 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Mereka menargetkan penurunan gangguan penglihatan sebesar 25 persen dengan memastikan minimal 80 persen individu dengan diabetes menjalani skrining retina berkala dan 60 persen dari mereka yang terdeteksi vision‑threatening diabetic retinopathy (VTDR) atau retinopati diabetik yang mengancam penglihatan mendapatkan akses pengobatan yang tepat.

Studi yang dilaksanakan oleh para anggota Konsorsium DRIVE diharapkan dapat memberikan pembelajaran dan bukti empiris yang dapat digunakan oleh pemangku kebijakan dalam implementasi skala nasional nantinya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More