Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Autoimun?

Kenapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Autoimun?
ilustrasi perempuan dengan penyakit autoimun (magnific.com/benzoix)
  • Penyakit autoimun lebih sering menyerang perempuan karena kombinasi faktor genetik, hormon, dan lingkungan yang memengaruhi cara sistem imun bekerja.

  • Dua kromosom X pada perempuan dapat menyebabkan produksi protein imun berlebih dan meningkatkan risiko peradangan serta autoimunitas.

  • Gejala autoimun sering samar seperti kelelahan, nyeri sendi, atau ruam kulit sehingga diagnosis kerap terlambat dan perlu pemeriksaan medis menyeluruh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada penyakit autoimun, sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi justru menyerang jaringan sehat. Penyakit autoimun sendiri mencakup lebih dari 140 kondisi dan dapat menyerang hampir semua organ tubuh.

Gejalanya bisa berupa lelah yang tidak hilang meski sudah tidur, nyeri sendi, ruam kulit, rambut rontok, sariawan berulang, mata kering, atau demam ringan yang datang dan pergi.

Menariknya, penyakit autoimun lebih sering dialami perempuan. Berbagai tinjauan ilmiah global menunjukkan, hampir 80 persen orang dengan penyakit autoimun adalah perempuan, dan pola ini konsisten ditemukan di banyak negara.

Salah satu penjelasannya adalah karena sistem imun perempuan cenderung lebih aktif dan responsif. Dalam kondisi tertentu, respons yang kuat ini bisa menjadi pedang bermata dua. Yuk, simak pembahasannya lebih lanjut!

  1. 1. Perempuan punya dua kromosom X, dan ini memengaruhi sistem imun

    Perempuan umumnya memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki umumnya memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y. Banyak gen yang berperan dalam pengaturan imun berada di kromosom X.

    Secara normal, salah satu kromosom X pada sel perempuan akan “dimatikan” agar dosis gennya tidak berlebihan. Namun, proses ini tidak selalu berjalan mulus. Sebuah tinjauan pada 2024 menjelaskan bahwa sekitar 15–23 persen gen dapat lolos dari inaktivasi kromosom X, sehingga beberapa protein terkait imun bisa diproduksi lebih banyak dan ikut mendorong peradangan serta risiko autoimun.

    Riset terbaru juga menyoroti molekul bernama Xist, yaitu RNA yang membantu mematikan salah satu kromosom X. Studi dalam jurnal Cell pada 2024 menemukan bahwa kompleks Xist dapat mengandung komponen yang dikenali sistem imun sebagai autoantigen, sehingga berpotensi ikut menjelaskan mengapa autoimun lebih sering terjadi pada individu dengan dua kromosom X.

  2. 2. Ada peran dari hormon

    Hormon seks seperti estrogen, progesteron, dan androgen ikut memengaruhi cara sistem imun bekerja.

    Estrogen, misalnya, dapat memperkuat beberapa respons imun. Ini berguna saat tubuh melawan infeksi, tetapi pada orang yang rentan, respons imun yang terlalu aktif dapat meningkatkan peluang terjadinya serangan terhadap jaringan sendiri.

    Itulah mengapa beberapa penyakit autoimun sering muncul atau berubah polanya pada fase hidup yang banyak dipengaruhi hormon, seperti usia reproduktif, kehamilan, setelah melahirkan, atau menopause.

    Sebuah tinjauan ilmiah tentang perbedaan jenis kelamin pada autoimunitas menjelaskan bahwa faktor hormon, genetik, epigenetik, dan lingkungan saling berinteraksi dalam membentuk risiko autoimun pada perempuan.

    Namun, jangan apa-apa langsung menyalahkan hormon, karena ini cuma satu aspek dari autoimun.

  3. 3. Sistem imun perempuan cenderung lebih kuat merespons infeksi

    Ilustrasi sistem imun dengan perisai biru bergambar tanda tambah putih yang melindungi dari berbagai virus dan bakteri berwarna-warni.
    ilustrasi sistem imun (IDN Times/NRF)

    Secara umum, perempuan sering menunjukkan respons imun yang lebih kuat terhadap infeksi dan vaksin. Sisi positifnya, tubuh jadi lebih sigap mengenali ancaman. Akan tetapi, sistem imun yang lebih reaktif juga bisa lebih mudah “salah sasaran” jika ada faktor pemicu lain.

    Sebuah studi tahun 2025 tentang kromosom X dan autoimunitas menjelaskan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi infeksi dibanding laki-laki, tetapi juga lebih rentan mengembangkan autoimunitas.

    Yang menjadi perhatian adalah sistem imun perempuan yang terlalu waspada sampai keliru menyerang bagian tubuh sendiri.

  4. 4. Faktor lingkungan bisa menjadi pemicu pada orang yang rentan

    Genetik dan hormon bisa membuat seseorang lebih rentan, tetapi penyakit autoimun sering butuh pemicu.

    Penyakit autoimun kemungkinan besar muncul akibat interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Paparan tertentu, termasuk infeksi, bahan kimia, polusi, asap rokok, dan faktor lingkungan lain, dapat berperan dalam risiko autoimun.

    Ini bukan berarti satu paparan langsung menyebabkan autoimun. Biasanya, prosesnya lebih kompleks: ada kerentanan genetik, sistem imun yang mudah aktif, lalu dipicu oleh faktor lingkungan tertentu.

    Dua orang bisa terpapar hal yang sama, tetapi hanya satu yang akhirnya mengalami penyakit autoimun.

  5. 5. Gejalanya sering samar, sehingga diagnosis bisa terlambat

    Banyak penyakit autoimun tidak muncul dengan gejala yang jelas, dan gejalanya bisa tumpang tindih dengan kelelahan biasa, stres, kurang tidur, anemia, masalah tiroid, atau gangguan hormon.

    Berbagai gejala autoimun dapat meliputi kelelahan, nyeri atau bengkak sendi, masalah kulit, nyeri perut, gangguan pencernaan, demam berulang, dan pembengkakan kelenjar. Yang jadi masalah, itu semua sering dianggap cuma capek atau menyalahkan hormon.

    Ingat, jika gejala menetap, berulang, atau makin mengganggu aktivitas, pemeriksaan dokter diperlukan.

  6. Kapan perlu curiga dan periksa?

    Seorang perempuan duduk di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuhnya, tampak cemas dan termenung di kamar tidur.
    ilustrasi perempuan terlihat cemas (magnific.com/freepik)

    Sebaiknya temui dokter jika mengalami lelah ekstrem yang tidak membaik, nyeri atau bengkak pada sendi yang berulang, ruam yang memburuk setelah terpapar matahari, rambut rontok tidak biasa, sariawan berulang, mata atau mulut sangat kering, demam ringan tanpa sebab jelas, mati rasa/kesemutan, diare kronis, atau berat badan berubah tanpa alasan.

    Pemeriksaan autoimun tidak bisa mengandalkan satu tes saja. Dokter biasanya akan menilai pola gejala, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik, tes darah peradangan, fungsi organ, autoantibodi tertentu, dan rujukan ke spesialis jika perlu.

    Jadi, yang membuat perempuan lebih rentan terkena penyakit autoimun karena kombinasi faktor biologis dan lingkungan: dua kromosom X, hormon, respons imun yang lebih aktif, kerentanan genetik, dan pemicu dari luar tubuh.

    Namun, risiko lebih tinggi bukan berarti perempuan pasti terkena penyakit autoimun. Yang terpenting, jangan menyepelekan gejala yang menetap. Makin cepat dikenali, makin besar peluang penyakit dikendalikan sebelum merusak organ atau kualitas hidup.

    Referensi

    Office of Autoimmune Disease Research, Office of Research on Women’s Health, National Institutes of Health. “Office of Autoimmune Disease Research.” Diakses Juli 2026.

    Fairweather, DeLisa, Karen Cihakova, and colleagues. “Mechanisms Underlying Sex Differences in Autoimmunity.” Journal of Clinical Investigation 134, no. 18 (2024).

    Dou, Diana R., Xiaoyu Zhao, Siyuan Zhang, et al. “Xist Ribonucleoproteins Promote Female Sex-Biased Autoimmunity.” Cell 187, no. 3 (2024): 733–749.e16.

    National Institutes of Health. “Understanding Sex Differences in Autoimmune Disease.” Diakses Juli 2026.

    Ferrayé, Léa, and colleagues. “The Inactive X Chromosome: A Genetic Driver of Female-Biased Autoimmunity.” Clinical & Translational Immunology 14, no. 5 (2025).

    National Institute of Environmental Health Sciences. “Autoimmune Diseases.” Diakses Juli 2026.

    Office on Women’s Health. “Autoimmune Diseases.” Diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More