Telur merupakan salah satu sumber protein yang sering diberikan kepada anak karena kaya akan vitamin, mineral, dan nutrisi penting untuk mendukung tumbuh kembang. Namun, di balik manfaatnya, telur juga menjadi salah satu makanan yang paling sering memicu alergi pada anak.
5 Penyebab Anak Bisa Alergi Telur dan Cara Mengatasinya

- Alergi telur terjadi karena sistem imun anak bereaksi berlebihan terhadap protein telur, terutama pada putih telur, dan dapat menimbulkan gejala dari ringan hingga anafilaksis.
- Faktor risiko utama meliputi riwayat eksim, alergi dalam keluarga, serta sistem pencernaan dan kekebalan tubuh anak yang masih berkembang.
- Pencegahan dilakukan dengan menghindari makanan mengandung telur, menjaga kesehatan kulit anak, serta memperkenalkan telur secara bertahap sesuai arahan dokter.
Dilansir Mayo Clinic, alergi terhadap telur dapat muncul sejak bayi dan umumnya terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein yang terdapat di dalam telur. Reaksi ini dapat muncul hanya dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah anak mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur.
Beberapa gejala yang sering muncul antara lain ruam kemerahan, biduran, gatal-gatal, hidung meler atau bersin, batuk, mual, muntah, sakit perut, diare, hingga pembengkakan pada bibir, lidah atau tenggorokan. Pada kondisi yang sangat jarang, alergi terhadap telur juga dapat menyebabkan anafilaksis, yaitu alergi berat yang mengancam nyawa dan harus segera ditangani di rumah sakit.
Mengetahui penyebab anak bisa alergi telur dan cara mengatasinya dapat membantu orangtua dalam mencegah reaksi penyakit tersebut secara berlebihan. Ini dia lima penyebab anak bisa alergi telur dan cara mengatasinya. Orangtua wajib paham!
1. Sistem kekebalan tubuh menganggap protein telur sebagai ancaman

Dilansir Mayo Clinic, penyebab utama alergi terhadap telur adalah kesalahan sistem imun dalam mengenali protein telur. Tubuh menganggap protein tersebut sebagai zat berbahaya sehingga memicu pelepasan berbagai zat kimia seperti histamin yang akhirnya menimbulkan gejala alergi.
Dilansir Cleveland Clinic, protein penyebab alergi paling banyak terdapat pada putih telur, meski pada beberapa anak protein dalam kuning telur juga dapat memicu reaksi. Karena itulah, anak yang benar-benar alergi terhadap telur biasanya harus menghindari seluruh bagian telur sampai dokter menyatakan kondisinya sudah membaik.
2. Anak memiliki riwayat eksim atau dermatitis atopik

Dilansir PubMed Central, anak yang memiliki dermatitis atopik atau eksim memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi terhadap telur dibandingkan dengan anak tanpa gangguan tersebut. Hal ini berkaitan dengan fungsi lapisan kulit yang terganggu sehingga lebih mudah memicu sensitisasi pada sistem imun.
Dilansir Mayo Clinic, anak dengan dermatitis atopik memiliki kemungkinan lebih besar mengalami alergi makanan dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki gangguan kulit. Karena itu, eksim menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan.
3. Ada riwayat alergi dalam keluarga

Dilansir Mayo Clinic, riwayat alergi dalam keluarga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi terhadap telur pada anak. Risiko tersebut akan lebih tinggi apabila salah satu atau kedua orangtua memiliki riwayat asma, eksem, alergi makanan, atau alergi lainnya.
Dilansir PubMed Central, bayi dengan anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit alergi atau atopik cenderung lebih berisiko mengalami alergi terhadap telur. Meski demikian, faktor genetik bukan berarti penentu mutlak. Ada anak yang berasal dari keluarga dengan riwayat alergi tetapi tidak mengalami alergi terhadap telur, begitu pula sebaliknya.
4. Sistem pencernaan dan kekebalan tubuh masih berkembang

Alergi terhadap telur paling sering ditemukan pada bayi dan anak usia dini. Dilansir Cleveland Clinic, kondisi ini terjadi karena sistem pencernaan dan sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang sehingga lebih mudah memberikan respons berlebihan terhadap protein telur.
Dilansir Mayo Clinic, banyak anak akan kehilangan alergi tersebut seiring bertambahnya usia karena sistem pencernaan anak akan semakin matang sehingga reaksi alergi terhadap makanan menjadi lebih jarang terjadi. Oleh sebab itu, banyak anak yang dapat mengatasi alergi terhadap telur ketika memasuki usia sekolah atau remaja.
5. Paparan protein telur pada anak yang berisiko tinggi

Dilansir PubMed Central, sensitisasi terhadap protein telur dapat terjadi bahkan sebelum pertama kali mengonsumsi telur. Paparan protein telur melalui kulit yang mengalami eksim atau melalui lingkungan diduga dapat membuat sistem imun mengenali protein telur sebagai zat yang berbahaya sehingga memicu alergi saat telur mulai dikonsumsi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian telur matang pada waktu yang tepat selama masa MPASI justru berpotensi membantu menurunkan risiko alergi pada sebagian bayi. Oleh karena itu, pengenalan telur sebaiknya dilakukan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, terutama pada anak yang berisiko tinggi.
6. Cara mengatsi alergi telur pada anak

Alergi memang belum bisa dicegah sepenuhnya, terutama jika berkaitan dengan faktor genetik atau sistem kekebalan tubuh. Namun, dilansir Mayo Clinic, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi risiko munculnya reaksi alergi sekaligus menjaga kondisi anak tetap aman.
Hindari memberikan telur dan makanan yang mengandung telur, serta biasakan membaca label komposisi pada makanan kemasan untuk mencegah paparan protein telur.
Jaga kondisi kulit anak tetap sehat dengan merawat eksim sesuai anjuran dokter agar risiko sensitisasi terhadap alergen dapat berkurang.
Jika keluarga memiliki riwayat alergi, konsultasikan dengan dokter sebelum memperkenalkan telur agar anak mendapatkan rekomendasi dan pemantauan yang sesuai.
Banyak anak dapat mengatasi alergi terhadap telur seiring bertambahnya usia, sehingga pemeriksaan rutin dapat membantu mengetahui apakah anak sudah mulai memiliki toleransi terhadap telur.
Pada anak yang berisiko tinggi mengalami alergi, pengenalan telur sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan.
Meski termasuk salah satu alergi makanan yang cukup sering terjadi pada anak, alergi terhadap telur bukan berarti tidak bisa dikelola. Dengan mengenali penyebab anak bisa alergi telur dan cara mengatasinya, orangtua dapat membantu mencegah reaksi alergi sekaligus memastikan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi melalui pilihan makanan yang sesuai.





![[QUIZ] Dari Kebiasaan Dudukmu Seharian, Ini Kondisi Tulang dan Ototmu](https://image.idntimes.com/post/20210504/pexels-photo-7718814-25e8951ca418654ec4d6e13c7ffff30b-52edd07e02e75f2dff93b6f27d36e2bc.jpeg)
![[QUIZ] Dari Cara Kamu Pakai AC di Rumah, Kami Tebak Risiko Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20260714/other-1545_3bfb5d54-aeb6-4f5e-8e30-528bdf384627.jpg)
![[QUIZ] Dari Kebiasaan Olahragamu, Kami Tebak Kamu Sudah Siap Ikut HYROX atau Belum](https://image.idntimes.com/post/20260711/3b12b7e9-1964-4f46-987d-335389a347c0_813eb20e-af68-4319-a7b7-f6b7b9c50718.jpeg)
![[QUIZ] Dari Jenis Bau Mulut Kamu, Ini Penyakit yang Harus Kamu Waspadai](https://image.idntimes.com/post/20260209/upload_c8202c630ce37446b3c6d2259690caa2_18287248-037e-4f23-b211-fd4e39251e01.png)
![[QUIZ] Kami Ungkap Kondisi Kesehatanmu dari Cara Kamu Minum Air](https://image.idntimes.com/post/20250604/pexels-maumascaro-907865-98578fc533dc034ea3dc70254c5ffc9d-6806676fc951453ca0eb738eb04487e0.jpg)



![[QUIZ] Dari Cara Kamu Menghadapi Stres, Kami Bisa Ungkap Kondisi Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20250409/pexels-pavel-danilyuk-7801198-b2e05fd1757b0bb28af7ce8c64af0109-5c57584182fb29bdb12c4c4ff347c38d.jpg)





![[QUIZ] Cek di Sini, Apakah Kamu Berisiko Mengalami Batu Ginjal?](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)

