Referensi
Kirk W. Kerr et al., “Nutritional Deficiencies, Complications, and Nutrition Therapy/Counseling in Pediatric Patients Using GLP-1 Receptor Agonists,” Childhood Obesity, published online September 17, 2026, https://doi.org/10.1177/21532176261486979.
Studi: Hampir 1 dari 6 Anak Pengguna GLP-1 Kekurangan Nutrisi

Studi di Amerika Serikat menemukan 16,8 persen anak pengguna obat GLP-1 didiagnosis mengalami defisiensi nutrisi atau komplikasi terkait dalam setahun.
Kekurangan vitamin D paling sering tercatat. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa obat GLP-1 menjadi penyebabnya.
Peneliti menyarankan dukungan dan pemantauan nutrisi sejak awal terapi, terutama karena anak masih berada dalam masa pertumbuhan.
Obat GLP-1 dapat menekan nafsu makan dan membantu mengendalikan gula darah atau berat badan. Namun, ketika obat ini digunakan oleh anak dan remaja, kecukupan asupan gizi juga perlu diperhatikan. Pasalnya, tubuh mereka masih butuh energi dan zat gizi untuk tumbuh.
Sebuah studi di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa hampir satu dari enam anak pengguna GLP-1 didiagnosis mengalami defisiensi nutrisi atau komplikasi terkait dalam setahun setelah memulai pengobatan.
Berikut sejumlah hal penting dari penelitian yang terbit dalam jurnal Childhood Obesity ini.
Table of Content
1. Studi mengamati lebih dari 2.000 anak pengguna GLP-1
Peneliti menganalisis data klaim kesehatan di AS dari tahun 2017 hingga 2022. Mereka mengamati 2.031 anak berusia 10–17 tahun yang baru memulai obat GLP-1 dan tidak memiliki diagnosis kekurangan nutrisi atau komplikasinya dalam enam bulan sebelum terapi.
Sebagian besar peserta memiliki diabetes tipe 2; sebagian lainnya mengalami obesitas atau pradiabetes, dan ada pula yang tidak tercatat memiliki diagnosis diabetes. Obat yang paling banyak digunakan dalam kelompok ini adalah liraglutide. Semaglutide mencakup 9,1 persen penggunaan, sedangkan tirzepatide tidak termasuk dalam analisis.
Karena data penelitian dikumpulkan pada tahun 2017–2022 dan jenis obat yang tercatat beragam, hasilnya tidak otomatis menggambarkan risiko setiap obat GLP-1 yang digunakan anak saat ini.
2. Sebanyak 16,8 persen menerima diagnosis dalam satu tahun
Dalam enam bulan pertama, 10,2 persen peserta tercatat mendapat setidaknya satu diagnosis kekurangan nutrisi atau komplikasi terkait. Angkanya meningkat menjadi 16,8 persen dalam 12 bulan—setara hampir satu dari enam anak dalam kelompok penelitian.
Kekurangan vitamin D menjadi diagnosis yang paling banyak tercatat, yaitu pada 12,4 persen peserta. Peneliti juga mencatat anemia terkait nutrisi dan anemia kekurangan zat besi, meski jumlahnya lebih kecil.
Angka 16,8 persen itu merupakan gabungan diagnosis defisiensi nutrisi dan komplikasi terkait, tidak berarti satu dari enam anak mengalami kekurangan semua jenis vitamin atau mineral.
3. Nafsu makan yang berkurang dapat membuat asupan perlu diawasi

Ilustrasi anak minum susu (pexels.com/Ketut Subiyanto) Obat GLP-1 bekerja antara lain dengan menekan nafsu makan dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Efek ini dapat membantu tujuan terapi, tetapi juga membuat pemenuhan kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral perlu diperhatikan.
Kebutuhan tersebut penting pada masa anak dan remaja karena tubuh sedang bertumbuh, mengalami pubertas, membangun tulang, dan menambah massa otot.
Penelitian ini menggarisbawahi vitamin D dan zat besi sebagai zat gizi yang perlu diperhatikan, tetapi tidak mengukur secara langsung apa yang dimakan peserta atau kadar zat gizi mereka melalui pemeriksaan laboratorium.
4. Konseling nutrisi belum banyak tercatat dalam enam bulan pertama
Hanya 23,3 persen peserta yang tercatat menjalani terapi atau konseling nutrisi dalam 180 hari setelah memulai obat. Di antara mereka yang mendapat layanan tersebut, waktu rata-rata kunjungan pertama tercatat sekitar 149 hari setelah terapi dimulai.
Peneliti mendorong agar dukungan nutrisi dipertimbangkan sejak awal pengobatan, bukan hanya setelah masalah ditemukan. Namun, kelompok yang mendapat konseling justru lebih sering memiliki diagnosis kekurangan nutrisi. Salah satu kemungkinan yang dibahas peneliti adalah mereka menjalani pemeriksaan lebih lanjut sehingga masalah lebih banyak terdeteksi.
5. Keterbatasan penelitian
Studi ini menggunakan data klaim asuransi, bukan hasil tes darah atau catatan pola makan anak. Karena itu, tidak diketahui apakah kekurangan nutrisi muncul setelah menggunakan obat atau sebenarnya sudah ada sebelumnya tetapi baru terdeteksi saat anak menjalani pemeriksaan kesehatan.
Selain itu, penelitian ini hanya mengamati hubungan dan tidak membandingkan dengan anak yang tidak menggunakan obat GLP-1. Jadi, hasilnya tidak bisa membuktikan obat tersebut menyebabkan kekurangan nutrisi.
Studi ini juga didanai oleh Abbott, dan lima penulisnya bekerja di perusahaan tersebut.
Temuan ini bukan berarti anak harus berhenti menggunakan obat. Jika ada perubahan nafsu makan, pola makan, atau pertumbuhan anak, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa saran dokter.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















