Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hari Kanker Sedunia 2026, Data Kanker Indonesia Masih Jadi PR Besar

Ilustrasi penyintas kanker serviks.
ilustrasi penyintas kanker serviks (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya sih...
  • Peringatan Hari Kanker Sedunia 2026 menjadi momen refleksi penanganan kanker di Indonesia.
  • Kualitas data kanker masih menjadi tantangan utama, terutama kurangnya pencatatan riwayat pasien.
  • Penelitian menjadi kunci kemajuan layanan kanker, dengan penguatan pendidikan dan pelatihan tenaga medis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Peringatan Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) 2026 menjadi momen refleksi bagi penanganan kanker di Indonesia. Di tengah upaya peningkatan layanan dan akses pengobatan, persoalan mendasar justru masih menjadi pekerjaan rumah besar, yaitu ketersediaan data kanker yang berkualitas.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS, dalam peringatan World Cancer Day 2026 yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Onkologi Indonesia (PP POI) dengan tema global "United by Unique" pada Minggu (1/2/2026).

Menurut dr. Soeko, keterbatasan data yang akurat dan terintegrasi berisiko menghambat perencanaan kebijakan dan strategi penanganan kanker secara nasional.

Kualitas data kanker masih menjadi tantangan utama

Peringatan World Cancer Day 2026 oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Onkologi Indonesia.
Peringatan World Cancer Day 2026 oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Onkologi Indonesia (IDN Times/Rifki Wuda)

Salah satu persoalan mendasar dalam pengelolaan kanker di Indonesia adalah kualitas data yang belum optimal. Ia menyoroti masih kurangnya pencatatan riwayat pasien oleh tenaga kesehatan saat pasien datang berobat, sehingga data yang terkumpul menjadi tidak lengkap.

"Padahal dunia itu menilai keseriusan sebuah negara mengelola kanker salah satunya adalah Data yang bermutu," kata dr. Soeko kepada awak media.

Bahkan, ketika Indonesia sempat mengajukan data kanker dari berbagai daerah, mulai dari Sabang sampai Merauke, data tersebut ditolak karena kualitas yang belum merata.

Meski rumah sakit rujukan seperti RS Kanker Dharmais atau RSCM memiliki data yang baik, tetapi lemahnya data dari daerah justru menurunkan kredibilitas keseluruhan. Karena itu, ke depannya pengumpulan data akan lebih difokuskan pada wilayah dengan populasi lebih kecil, asalkan kualitas pencatatannya terjaga dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penelitian menjadi kunci kemajuan layanan kanker

Dokter Soeko menegaskan, hampir seluruh penanganan kanker saat ini tidak bisa dilepaskan dari kegiatan penelitian. Kementerian Kesehatan pun mendorong semua rumah sakit untuk aktif melakukan riset, tidak hanya di bidang kanker, tetapi juga penyakit prioritas lain seperti jantung, stroke, urologi, dan neurologi.

Melalui penelitian, kualitas layanan akan meningkat karena diikuti dengan penguatan pendidikan dan pelatihan tenaga medis. Dokter yang jarang melakukan tindakan tertentu bisa dievaluasi dan dirujuk untuk mendapatkan pelatihan di pusat layanan yang lebih berpengalaman, sehingga keterampilannya meningkat.

Upaya ini tidak hanya menyasar dokter, tetapi juga perawat, tenaga kesehatan lain, fisikawan medik, hingga ilmuwan. Semuanya perlu terus dilatih agar kemampuan, pengetahuan, dan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia semakin maju, menurut dr. Soeko.

Apa yang disampaikan oleh dr. Soeko menjadi pengingat bahwa perbaikan data dan penguatan penelitian merupakan fondasi dalam pengendalian kanker di Indonesia. Tanpa data yang bermutu dan riset yang berkelanjutan, upaya pencegahan hingga pengobatan kanker tidak akan berjalan optimal dan sulit diakui secara global.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

16 Penyebab Rasa Terbakar di Vagina, dari Ringan Hingga Serius

04 Feb 2026, 22:38 WIBHealth