- Otak.
- Sumsum tulang belakang.
- Bagian dalam telinga.
- Retina.
- Ginjal.
- Pankreas.
- Kelenjar adrenal.
Hemangioblastoma: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Prognosis

Hemangioblastoma adalah tumor non-kanker yang berkembang di bagian bawah otak, sumsum tulang belakang, atau retina. Tumor jinak ini berkembang di pembuluh darah. Tidak seperti perkembangan kanker, hemangioblastoma tidak menyerang jaringan di sekitarnya.
Namun meski hemangioblastoma bersifat jinak dan tumbuh lambat, ketika tumor ini membesar, ia akan menekan otak dan bisa menyebabkan gejala neurologis, termasuk sakit kepala, kehilangan sensorik, kelemahan, masalah keseimbangan dan koordinasi, atau hidrosefalus (penumpukan cairan tulang belakang di otak).
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut deretan fakta medis seputar hemangioblastoma yang penting untuk diketahui.
1. Penyebab

Penyebab sebagian besar hemangioblastoma masih belum diketahui. Hemangioblastoma jarang terjadi. Terhitung tumor ini menyumbang sekitar 2 persen dari seluruh kasus tumor otak, dan 2 persen hingga 10 persen dari tumor sumsum tulang belakang.
Dalam kebanyakan kasus, hemangioblastoma berkembang secara acak (sporadis). Namun sekitar 25 persen dari seluruh kasus hemangioblastoma, bisa berkembang sebagai bagian dari sindrom genetik, yang disebut dengan sindrom von Hippel-Lindau (VHL).
VHL adalah penyakit bawaan yang ditandai dengan tumbuhnya berbagai tumor jinak dan berpotensi ganas. Ini merupakan cacat genetik yang menyebabkan pertumbuhan kapiler tidak terkontrol. Orang dengan VHL cenderung mengembangkan tumor jinak atau kanker di berbagai bagian tubuh, termasuk hemangioblastoma di seluruh tubuh, seperti di:
Faktor risiko utama VHL yaitu riwayat keluarga, meskipun mutasi pada gen VHL bisa terjadi pada mereka yang tidak memiliki orang tua dengan VHL. Mengutip Verywell Health, kasus hemangioblastoma lebih sering terjadi 1,5 hingga 2 kali pada pria daripada wanita. Tidak ada laporan dominasi etnis. Tumor hemangioblastoma sporadis biasanya terjadi pada seseorang yang berusia antara 50 dan 60-an, sedangkan tumor yang terkait VHL biasanya terdeteksi lebih awal, yaitu pada usia 30 atau 40-an.
2. Gejala

Kebanyakan penderita hemangioblastoma akan memiliki gejala, namun ini tidak selalu terjadi. Gejala bervariasi antar individu, dan beberapa memiliki sedikit atau tidak ada gejala sama sekali. Gejala yang muncul tergantung pada ukuran dan lokasi tumor.
Mengutip Verywell Health, gejala umum hemangioblastoma yaitu meliputi:
- Sakit kepala.
- Pusing atau vertigo.
- Mual atau muntah.
- Masalah keseimbangan dan koordinasi, atau ataksia.
- Penglihatan kabur atau kehilangan penglihatan jika tumor memengaruhi retina.
Ketika hemangioblastoma tumbuh, tumor bisa menekan struktur sistem saraf pusat dan menyebabkan gejala neurologis. Namun ini jarang terjadi. Gejala-gejala ini kemungkinan termasuk:
- Kelemahan ekstremitas bawah, atau kelemahan pada kaki.
- Kelemahan ekstremitas atas, atau kelemahan pada lengan.
- Kandung kemih neurogenik atau kurangnya kontrol kandung kemih karena cedera sistem saraf.
3. Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis hemangioblastoma, dokter akan meninjau gejala dan riwayat medis pasien. Setelah itu, dokter kemungkinan akan merekomendasikan tes pencitraan untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan kelainan.
MRI dan CT scan merupakan tes pencitraan yang paling umum digunakan dalam menegakkan diagnosis kondisi ini. Pemutaran tanpa rasa sakit dan non-invasif ini, memberikan gambaran rinci tentang tumor, serta jaringan yang bengkak di sekitarnya. Ultrasound, metode skrining non-invasif lainnya, juga bisa membantu dokter untuk menemukan tumor.
Tes pencitraan yang lebih melibatkan kemungkinan dibutuhkan jika pemeriksaan lainnya tidak mengarah pada diagnosis. Angiogram tulang belakang adalah salah satu tes pencitraan yang bisa digunakan. Selama tes ini, kateter dimasukkan ke dalam pembuluh darah di paha dan dipandu ke arteri tulang belakang. Setelah posisinya pas, kateter dengan lembut akan melepaskan pewarna khusus ke dalam arteri yang dicurigai memiliki tumor. Pewarna membuatnya lebih mudah untuk melakukan rontgen pada bentuk dan ukuran tumor.
Beberapa suntikan pewarna kemungkinan dibutuhkan sampai arteri kanan ditemukan. Sesudah arteri yang benar diidentifikasi, dokter bisa menggunakan angiogram, untuk mengevaluasi bagaimana tumor memengaruhi aliran darah.
Hemangioblastoma bisa dibedakan dengan tumor lain yang umum terjadi berdasarkan lokasi spesifiknya dan suplai darah yang lebih besar.
4. Pengobatan

Hemangioblastoma bisa diobati dengan dua cara. Kedua cara melibatkan pengangkatan atau penghancuran tumor. Ini termasuk:
- Pembedahan: Ini biasanya digunakan untuk mengangkut seluruh tumor. Jenis operasi ini disebut reseksi, yang artinya adalah operasi yang menghilangkan jaringan dari organ. Jika seluruh tumor diangkat, penderitanya mungkin sembuh. Namun jika bagian dari tumor tetap ada, ia bisa tumbuh kembali dan mungkin terus menimbulkan gejala. Operasi reseksi kemungkinan bukan pilihan, jika hemangioblastoma dikaitkan dengan penyakit VHL.
- Radiosurgery stereotactic: Ini merupakan alternatif untuk reseksi bedah. Ini merupakan prosedur non-invasif, yang menggunakan sinar radiasi yang sangat berfokus untuk menargetkan tumor. Meskipun prosedur ini hanya memakan waktu satu sesi, kemungkinan dibutuhkan beberapa bulan sebelum tumor benar-benar musnah. Tidak seperti reseksi bedah, tidak ada risiko pendarahan atau komplikasi lainnya. Ini berarti bahwa pasien bisa melanjutkan aktivitas sehari-hari segera sesudah prosedur selesai. Radiosurgey kemungkinan pilihan terbaik jika hemangiblastoma terletak di bagian otak atau sumsum tulang belakang yang sulit diobati dengan aman menggunakan teknik bedah tradisional.
5. Prognosis

Hemangioblastoma yang dihilangkan pada pasien tanpa VHL, biasanya mempunyai prognosis jangka panjang yang sangat baik tanpa kekambuhan. Namun jika hemangioblastoma telah merusak struktur atau saraf di sumsum tulang belakang, otak, atau retina, mereka mungkin tidak sembuh, mengutip Verywell Health.
Hemangioblastoma besar yang tidak diobati bisa menyebabkan kerusakan saraf otak, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan. Akhirnya, hemangioblastoma yang tidak diobati bisa menyebabkan komplikasi seperti penumpukan cairan di otak. Faktanya, para ahli memperkirakan bahwa hidrosefalus berkembang pada 5 persen hingga 29 persen penderita kondisi ini. Hidrosefalus bisa menyebabkan perubahan status mental pada sekitar 10 persen dari kasus ini.
Itulah deretan fakta medis seputar hemangioblastoma. Jika memiliki tanda atau gejala yang mengarah pada kondisi ini, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Semakin cepat penyakit ini didiagnosis dan mendapat pengobatan, maka semakin besar juga peluang kesembuhannya.

![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Gaya Main Partner Padel Kamu Berdasarkan Zodiak](https://image.idntimes.com/post/20251031/upload_b042ee2cc937d4e0a40ff0426b5b810a_300e7cc9-fbf3-4990-9a14-88e39f9bd940.jpg)
![[QUIZ] Dari Kepribadian Kamu, Ini Jenis Journaling yang Paling Pas](https://image.idntimes.com/post/20260107/pexels-anthonyshkraba-production-8374246_98aefee2-2b00-4e5c-8131-f59e657df461.jpg)









![[QUIZ] Matamu Sehat atau Rabun? Cek dengan Tebak Karakter Upin & Ipin dari Siluetnya](https://image.idntimes.com/post/20250519/1000008633-573aa37ad6c115e82c0f9cac0f446fd8.jpg)





![[QUIZ] Kami Tahu Jenis Plank yang Paling Cocok Buat Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260514/1000000974_527de4ae-f27a-4997-8ca1-b3385c1cef0d.jpg)
