- Mulai berkeringat lebih cepat.
- Produksi keringat lebih efisien.
- Sirkulasi darah lebih baik.
- Suhu tubuh lebih stabil saat olahraga.
Kenapa Ada Pelari yang Gampang Overheat?

Overheat saat lari terjadi karena tubuh menghasilkan panas lebih cepat dari kemampuan mendinginkannya, dipengaruhi intensitas, kelembapan, hidrasi, dan adaptasi panas individu.
Kelembapan tinggi memperlambat penguapan keringat sehingga suhu tubuh naik lebih cepat, membuat performa pelari menurun dan risiko penyakit akibat panas meningkat.
Untuk mencegah overheat, pelari perlu aklimatisasi panas bertahap, menyesuaikan pace dengan kondisi cuaca, menjaga hidrasi, serta mengenali tanda awal stres panas.
Ada pelari yang masih bisa ngobrol santai saat lari di cuaca terik. Ada juga yang baru beberapa kilometer sudah merasa kepala berat, wajah memerah, jantung seperti meledak, dan tubuh terasa seperti oven berjalan. Sekilas ini mungkin dikira karena tidak kuat panas, tetapi yang terjadi di dalam tubuh tidak sesederhana itu.
Saat berlari, tubuh memproduksi panas dalam jumlah besar. Otot tidak hanya menghasilkan tenaga untuk bergerak, tetapi juga menghasilkan panas sebagai “limbah” metabolisme. Makin cepat dan lama kamu berlari, makin tinggi panas yang diproduksi.
Masalah muncul ketika tubuh tidak mampu membuang panas itu cukup cepat. Nah, di sinilah sebagian pelari mulai mengalami apa yang disebut sebagai heat stress atau stres panas, yaitu kondisi ketika suhu tubuh naik lebih cepat dibanding kemampuan tubuh mendinginkannya.
Dalam kasus ringan, kamu mungkin cuma merasa sangat gerah dan performa turun drastis. Namun, pada kondisi berat, panas yang berlebih bisa berkembang menjadi heat exhaustion hingga exertional heat stroke, kondisi medis serius yang dapat merusak organ tubuh.
Table of Content
Tubuh manusia tidak dirancang untuk tetap dingin
Banyak pelari mengira panas hanya berasal dari cuaca. Padahal, sumber panas terbesar justru berasal dari tubuh sendiri.
Penelitian menjelaskan bahwa produksi panas metabolik saat lari jarak jauh meningkat tajam seiring intensitas olahraga. Makin tinggi effort, makin besar “mesin panas” yang bekerja di dalam tubuh.
Tubuh mencoba mendinginkan diri melalui beberapa mekanisme seperti berkeringat, meningkatkan aliran darah ke kulit, mempercepat napas, dan melebarkan pembuluh darah. Namun, sistem pendinginan ini punya batas.
Kalau udara terlalu lembap, keringat sulit menguap. Kalau pace terlalu agresif, panas diproduksi lebih cepat daripada yang bisa dibuang. Kalau tubuh kekurangan cairan, proses pendinginan juga ikut terganggu. Akibatnya, suhu inti tubuh perlahan naik.
Di bawah ini dipaparkan beberapa alasan kenapa ada orang yang lebih mudah kepanasan (overheat).
1. Tingkat adaptasi panas setiap orang tidak sama
Ini salah satu faktor terbesar.
Tubuh sebenarnya bisa dilatih menghadapi panas melalui proses yang disebut heat acclimatization atau aklimatisasi panas. Orang yang rutin berlari di cuaca panas biasanya:
Sebaliknya, pelari yang jarang terpapar panas akan lebih cepat kewalahan.
Studi menemukan bahwa banyak pelari ultra yang sebenarnya belum melakukan persiapan panas secara optimal sebelum lomba di cuaca panas dan lembap.
Ini menjelaskan kenapa seseorang bisa merasa baik-baik saja saat lari di treadmill ber-AC, tetapi langsung ambruk performanya ketika race di jalanan panas.
2. Kelembapan lebih jahat daripada panas
Banyak orang fokus pada suhu, padahal kelembapan sering kali lebih berpengaruh.
Tubuh manusia sangat bergantung pada penguapan keringat untuk mendinginkan diri. Saat kelembapan tinggi, keringat memang keluar banyak, tetapi tidak mudah menguap.
Akibatnya:
- Tubuh tetap panas.
- Pakaian terasa basah.
- Denyut jantung naik.
- Effort terasa jauh lebih berat.
Itulah kenapa lari di suhu 30 derajat Celcius dengan kelembapan tinggi bisa terasa lebih menyiksa dibanding suhu yang lebih tinggi tetapi udaranya kering.
Penelitian pada kejuaraan atletik internasional menunjukkan bahwa meningkatnya apparent temperature (suhu yang dirasakan) berkaitan dengan peningkatan signifikan heat-related illness (penyakit terkait panas) pada atlet, terutama pelari maraton dan jalan cepat (race walk).
3. Pace terlalu kencang untuk kondisi cuaca

Banyak pelari tetap memaksa pace biasa mereka meski cuaca berubah drastis. Padahal, tubuh tidak peduli target Strava atau target race. Tubuh cuma menghitung beban fisiologis.
Makin tinggi intensitas lari, maka makin tinggi produksi panas, makin berat kerja jantung, dan makin besar kebutuhan pendinginan.
Saat cuaca panas, pace yang biasanya terasa easy bisa berubah menjadi zona threshold.
Inilah alasan kenapa pelari yang sebenarnya fit tetap bisa tumbang saat cuaca ekstrem.
4. Komposisi tubuh juga berpengaruh
Orang dengan massa tubuh lebih besar cenderung menghasilkan dan menyimpan panas lebih banyak.
Selain itu, persentase lemak tubuh yang lebih tinggi juga dapat menghambat pelepasan panas karena lemak bekerja seperti insulator.
Namun, bukan berarti pelari kurus otomatis tahan panas.
Ada faktor lain seperti kapasitas keringat, efisiensi sirkulasi, kondisi jantung, genetika, kualitas tidur, dan status hidrasi yang mana semuanya ikut menentukan.
5. Ada orang yang memang berkeringatnya kurang efisien
Ini sering tidak disadari. Ada pelari yang berkeringat sangat banyak tetapi tetap cepat panas. Ada juga yang sedikit berkeringat tetapi suhu tubuh stabil.
Yang perlu diperhatikan bukan cuma jumlah keringat, tetapi juga seberapa efektif keringat menguap dan mendinginkan tubuh.
Penelitian tentang termoregulasi pelari ultra menunjukkan respons tubuh terhadap panas sangat individual. Strategi hidrasi dan pendinginan yang efektif pada satu orang belum tentu bekerja sama pada orang lain.
Tanda tubuh mulai kewalahan karena panas
Pelari sering terlambat menyadari tubuhnya sudah terlalu panas.
Beberapa tanda awal yang perlu diperhatikan:
- Pace tiba-tiba drop drastis.
- Jantung terasa sangat tinggi.
- Merinding saat cuaca panas.
- Pusing.
- Mual.
- Menggigil.
- Kulit terasa panas.
- Bingung atau sulit fokus.
- Keringat berhenti keluar.
Kalau muncul gejala seperti linglung, kehilangan koordinasi, atau merasa ingin pingsan, segera hentikan lari.
Dehidrasi berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya penyebab

Ada mitos bahwa semua masalah panas saat lari disebabkan kurang minum.
Dehidrasi memang dapat memperberat stres panas karena volume darah berkurang dan kemampuan pendinginan tubuh menurun. Namun, kamu tetap bisa mengalami overheating meski sudah minum cukup.
Faktor-faktor yang turut memengaruhi meliputi:
- Intensitas lari.
- Kelembapan.
- Aklimatisasi.
- Pakaian.
- Paparan matahari.
- Kurang tidur.
- Kelelahan.
- Sakit sebelumnya.
Heat illness juga bisa dialami atlet
Kadang orang berpikir heat illness hanya terjadi pada pelari pemula.
Data dari berbagai kompetisi internasional menunjukkan atlet elite pun tetap rentan mengalami gangguan akibat panas berlebih, terutama pada kategori endurance.
Pada akhirnya tubuh manusia tetap punya limit biologis, sebaik apa pun VO2 max-nya.
Cara mengurangi risiko cepat kepanasan saat lari
- Latih adaptasi panas secara bertahap. Tubuh butuh waktu sekitar 1–2 minggu untuk beradaptasi dengan cuaca panas.
- Turunkan ekspektasi pace. Cuaca panas memang membuat pace melambat. Itu normal.
- Prioritaskan pendinginan. Topi, pakaian yang breathable, air dingin, es, dan mencari jalur teduh sangat membantu.
- Perhatikan kelembapan, bukan cuma suhu. Kelembapan membuat beban panas melonjak.
- Jangan abaikan tanda awal. Kalau tubuh mulai terasa aneh, jangan dipaksa demi ego atau target pace.
Tubuh yang cepat kepanasan atau overheat saat lari disebabkan oleh kombinasi kompleks antara produksi panas tubuh, cuaca, kelembapan, hidrasi, intensitas olahraga, adaptasi panas, hingga respons biologis individual. Itulah kenapa dua orang yang lari di tempat dan pace yang sama bisa mengalami sensasi yang berbeda.
Namun bagaimanapun juga, overheat tidak boleh dianggap sepele. Panas berlebih dapat menurunkan performa, mengganggu fungsi tubuh, bahkan berbahaya jika diabaikan. Kenali batasan tubuh juga merupakan strategi menjadi pelari yang cerdas.
Referensi
Carl A. James et al., “Defining the Determinants of Endurance Running Performance in the Heat,” Temperature 4, no. 3 (May 25, 2017): 314–29, https://doi.org/10.1080/23328940.2017.1333189.
Karsten Hollander et al., “Apparent Temperature and Heat‐related Illnesses During International Athletic Championships: A Prospective Cohort Study,” Scandinavian Journal of Medicine and Science in Sports 31, no. 11 (August 1, 2021): 2092–2102, https://doi.org/10.1111/sms.14029.
Nicolas Bouscaren et al., “Heat Acclimatization, Cooling Strategies, and Hydration During an Ultra-Trail in Warm and Humid Conditions,” Nutrients 13, no. 4 (March 26, 2021): 1085, https://doi.org/10.3390/nu13041085.
Nicolas Bouscaren et al., “Thermoregulation and Hydration Dynamics in a 160-km Ultra-Endurance Race in a Tropical Environment: A Field Study on 80 Runners,” Sports Medicine 56, no. 3 (December 4, 2025): 805–20, https://doi.org/10.1007/s40279-025-02356-6.
Franck Brocherie, Olivier Girard, and Grégoire Millet, “Emerging Environmental and Weather Challenges in Outdoor Sports,” Climate 3, no. 3 (July 14, 2015): 492–521, https://doi.org/10.3390/cli3030492.



![[QUIZ] Kami Tahu Jenis Plank yang Paling Cocok Buat Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260514/1000000974_527de4ae-f27a-4997-8ca1-b3385c1cef0d.jpg)


![[QUIZ] Cara Kamu Menenangkan Diri saat Cemas Mirip Siapa di 'Upin & Ipin'?](https://image.idntimes.com/post/20260505/screenshot_20260505-172134_youtube_e14e3aa1-93bd-4770-8b32-75b302d13c59.jpeg)

![[QUIZ] Tipe Overthinking Kamu Mirip Siapa di 'Upin & Ipin'?](https://image.idntimes.com/post/20240912/untitled-3d8bdd425f726b46c9d7d09f73e5ab42.png)

![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Lari Sendiri atau Bareng?](https://image.idntimes.com/post/20241023/1000144639-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-50153375959c0484954342b8f037de34.jpg)


![[QUIZ] Dari Genre Musik Favorit, Kami Tahu Kondisi Mentalmu Sekarang](https://image.idntimes.com/post/20250514/pexels-ivan-samkov-6799976-6474ff340cedaa9cf87218f6fdedf2da-cafd3ce1c298065407e2a2ddcdf06a1e.jpg)


![[QUIZ] Dari Aktivitas Harianmu, Plank atau Push Up yang Cocok Buatmu?](https://image.idntimes.com/post/20250527/rekomendasi-jadwal-workout-di-rumah-jadwal-workout-di-rumah-hari-keempat-push-up-9cde86371d7fc78c91ae80a6ffab250e-e9e34022b49f39951bd44c66acf23603.jpg)

