Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Infeksi Saluran Napas saat Haji: Mengapa Begitu Mudah Menular?

Infeksi Saluran Napas saat Haji: Mengapa Begitu Mudah Menular?
ilustrasi infeksi saluran napas (freepik.com/wayhomestudio)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Ibadah haji melibatkan jutaan orang dalam kerumunan padat, membuat infeksi saluran napas akut seperti flu dan pneumonia mudah menyebar di antara jemaah.

  • Kepadatan ekstrem, suhu tinggi, serta kelelahan fisik menurunkan daya tahan tubuh jemaah, meningkatkan risiko tertular virus pernapasan terutama bagi lansia dan penderita penyakit kronis.

  • Pencegahan disarankan melalui penggunaan masker, kebersihan tangan, istirahat cukup, hidrasi baik, serta vaksin influenza dan pneumonia sebelum keberangkatan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ibadah haji punya ciri khas sekumpulan besar manusia yang bergerak serempak mengelilingi Ka'bah, berbagi tenda, hingga berdesakan saat ritual lempar jumrah, membuatnya menjadi salah satu pertemuan massa terbesar di dunia. 

Dalam kondisi seperti itu, batuk kecil dari satu jemaah bisa cepat menyebar ke banyak orang lain hanya dalam hitungan jam. Tak heran, infeksi saluran napas akut (ISPA) menjadi keluhan kesehatan paling sering dialami setiap tahunnya, mulai dari flu biasa hingga pneumonia yang butuh perawatan intensif.

Table of Content

Alasan tingkat penularan yang tinggi

Alasan tingkat penularan yang tinggi

Menurut berbagai studi, penularan infeksi saluran napas saat haji sangat tinggi karena jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul dalam area yang padat dan melakukan aktivitas fisik dalam cuaca ekstrem.

Virus seperti rhinovirus, influenza, hingga virus corona yang bukan penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS), mengalami peningkatan signifikan setelah pelaksanaan haji akibat kontak erat antarmanusia dalam kerumunan yang padat.

Salah satu alasan utama ISPA mudah menular saat haji adalah kondisi overcrowding atau kepadatan ekstrem. Dalam beberapa titik ritual, kepadatan jemaah bahkan bisa mencapai sekitar tujuh orang per meter persegi. Situasi ini membuat droplet dari batuk, bersin, atau percakapan sangat mudah berpindah dari satu orang ke orang lain.

Infeksi saluran napas akut merupakan penyakit paling dominan selama ibadah haji. Pneumonia pyogenik (pneumonia yang disebabkan oleh bakteri penghasil nanah, misalnya Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, atau Klebsiella) bahkan menyumbang lebih dari separuh kasus infeksi yang membutuhkan rawat inap.

Selain itu, jemaah juga tinggal bersama dalam tenda besar, menggunakan transportasi umum yang padat, serta melakukan aktivitas ibadah dalam jarak sangat dekat selama berhari-hari. Kombinasi ini menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran virus dan bakteri.

Daya tahan tubuh menurun

Ribuan jemaah haji berpakaian ihram mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, dengan latar bangunan tinggi di sekitarnya.
Ilustrasi jemaah haji (pixabay.com/Koveni)

Haji juga dilakukan dalam suhu yang bisa mencapai 40–47 derajat Celsius. Paparan panas ekstrem, kurang cairan, kurang tidur, dan aktivitas fisik berat dapat menurunkan sistem imun tubuh.

Ketika daya tahan tubuh menurun, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi pernapasan. Risiko ini makin tinggi pada jemaah lansia atau yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan paru kronis. 

Kondisi di atas tertulis dalam sebuah artikel ilmiah yang menyebutkan bahwa overcrowding dan kondisi fisik jemaah disebut sebagai faktor utama peningkatan penyebaran penyakit pernapasan.

Cara mencegah penularan

Pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menurunkan risiko ISPA selama ibadah haji, seperti:

  • Menggunakan masker di area padat jemaah.
  • Rajin mencuci tangan atau memakai hand sanitizer.
  • Menjaga hidrasi agar tubuh tidak dehidrasi.
  • Istirahat cukup untuk menjaga imunitas.
  • Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang batuk atau demam.
  • Mendapatkan vaksin influenza dan pneumonia sebelum berangkat haji, terutama bagi lansia dan yang memiliki komorbid.

Juga, ingat selalu etika batuk, pakai masker, dan menjaga kebersihan tangan selama berada di Tanah Suci.

Referensi

Gautret, Phillipe, Samir Benkouiten, Jaffar A. Al-Tawfiq, and Ziad A. Memish. “Hajj-Associated Viral Respiratory Infections: A Systematic Review.” Travel Medicine and Infectious Disease 14, no. 2 (December 31, 2015): 92–109.

"KKHI Identifikasi Faktor Risiko Sebagai Pencetus Kasus Pneumonia Bagi Jemaah Haji". Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Diakses Mei 2026.

Salmon-Rousseau, A., E. Piednoir, V. Cattoir, and A. De La Blanchardière. “Hajj-Associated Infections.” Médecine Et Maladies Infectieuses 46, no. 7 (May 24, 2016): 346–54.

Devita, Ninda, Farida Juliantina Rachmawaty, Eko Andriyanto, and Afivudien Muhammad. “Post-Hajj Acute Respiratory Infections: Proportion and Associated Factors Pilgrims from an Indonesian Hajj Guidance Group.” Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Indonesia, April 29, 2026, 61–71.

"Panduan Kesehatan untuk Haji dan Umrah". Ministry of Health. Diakses Mei 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More