Aaron M. Love et al., “Reversal of the Leloir Pathway to Promote Galactose and Tagatose Synthesis From Glucose,” Cell Reports Physical Science 6, no. 12 (December 1, 2025): 102993, https://doi.org/10.1016/j.xcrp.2025.102993.
"Researchers Develop Way to Make Healthier Sugar Substitute." Tufts University. Diakses Januari 2026.
Ilmuwan Temukan Gula Manis Rendah Kalori Tanpa Bikin Insulin Melonjak

- Para ilmuwan menemukan kandidat pemanis buatan yang tak cuma manis seperti gula pasir, tetapi kalorinya pun hanya sepertiganya. Namanya adalah tagatose.
- Tidak memicu lonjakan insulin seperti sukrosa dan pemanis buatan.
- Meski masih perlu penyempurnaan sebelum masuk produksi skala besar, tetapi pendekatan ini membuka jalan baru bagi industri gula alternatif.
Kalau kamu perhatikan, sekarang di pasaran banyak produk pemanis dengan klaim manis yang lebih sehat dan aman. Namun, seiring waktu, pemanis buatan justru menuai tanda tanya baru, dari dampaknya pada metabolisme hingga respons insulin. Di tengah kegamangan itu, para ilmuwan menemukan kandidat lain yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan: manis, rendah kalori, dan tidak menyebabkan lonjakan insulin.
Namanya tagatose. Gula alami langka ini rasanya hampir setara gula pasir—sekitar 92 persen tingkat kemanisannya—tetapi kalorinya hanya sepertiga sukrosa.
Yang paling menarik, tagatose tidak memicu lonjakan insulin seperti gula biasa atau pemanis intensitas tinggi. Bagi orang dengan diabetes atau masalah gula darah, karakter ini menjadikannya opsi yang menjanjikan.
Secara alami, tagatose hanya ditemukan dalam jumlah sangat kecil pada beberapa produk susu dan buah-buahan. Di dalam tubuh, sebagian besar tagatose tidak langsung diserap di usus halus, melainkan difermentasi di usus besar. Inilah salah satu alasan mengapa respons insulin terhadap tagatose jauh lebih landai.
Di usus, metabolisme tagatose mirip fruktosa. Artinya, orang dengan intoleransi fruktosa tetap perlu berhati-hati. Meski begitu, tagatose telah diakui aman dikonsumsi oleh FDA dan WHO. Bonus lainnya, gula ini tergolong ramah untuk gigi. Tidak seperti sukrosa yang memberi “makan” bakteri penyebab gigi berlubang, studi awal menunjukkan tagatose dapat menghambat pertumbuhan mikroba oral yang merugikan, bahkan berpotensi bersifat prebiotik bagi mikrobioma mulut.
Keunggulan lain yang jarang dimiliki pemanis alternatif: tagatose bisa dipanggang. Karakter ini membuatnya lebih fleksibel digunakan dalam makanan rumahan maupun produk industri.
Tantangannya ada pada proses produksi

Selama ini, masalah utama tagatose bukan pada manfaatnya, melainkan pada produksi. Proses yang ada cenderung mahal dan tidak efisien, sehingga membatasi pasokan di pasaran.
Titik terang datang dari studi proof-of-principle yang dipimpin peneliti Universitas Tufts, bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Manus Bio (AS) dan Kcat Enzymatic (India). Tim ini menunjukkan bahwa tagatose bisa diproduksi secara lebih berkelanjutan dan efisien, bahkan dengan tingkat hasil hingga 95 persen, jauh di atas metode lama yang hanya mencapai sekitar 40–77 persen.
Kuncinya ada pada enzim unik yang ditemukan pada slime mold. Enzim bernama galactose-1-phosphate-selective phosphatase (Gal1P) ini kemudian “disisipkan” ke dalam bakteri Escherichia coli. Hasilnya, bakteri tersebut bekerja layaknya pabrik mini yang mengubah glukosa—bahan baku yang melimpah dan murah—menjadi galaktosa, lalu diproses lebih lanjut menjadi tagatose.
Menurut Nik Nair, insinyur biologi dari Tufts, inovasi terbesar riset ini adalah keberhasilan membalik jalur biologis alami. Alih-alih mengubah galaktosa menjadi glukosa seperti yang terjadi di alam, tim peneliti justru memaksa sistem biologis menghasilkan galaktosa dari glukosa. Dari titik inilah, tagatose—dan bahkan gula langka lainnya—bisa disintesis.
Meski masih perlu penyempurnaan sebelum masuk produksi skala besar, tetapi pendekatan ini membuka jalan baru bagi industri gula alternatif. Bukan hanya lebih efisien, tetapi juga berpotensi lebih ramah lingkungan. Tak heran jika nilai pasar tagatose diperkirakan bisa menembus US$250 juta pada 2032.
Referensi


















