Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kasus Campak Merebak, IDAI: Jadi Alarm yang Harus Menyadarkan Kita

Kasus Campak Merebak, IDAI: Jadi Alarm yang Harus Menyadarkan Kita
Pasien anak pada kasus campak di RSUD Soedarso Pontianak. (IDN Times/Teri).
Intinya Sih
  • Kemenkes dan IDAI memperingatkan lonjakan kasus campak di berbagai daerah, terutama menyerang anak-anak yang belum diimunisasi.

  • Ketua IDAI menegaskan campak bukan penyakit ringan karena bisa menyebabkan komplikasi berat seperti radang paru, otak, hingga kebutaan.

  • IDAI mendorong penguatan layanan kesehatan primer, peningkatan cakupan imunisasi, serta perbaikan gizi anak untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kewaspadaan di tengah masih ditemukannya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah Indonesia.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengonfirmasi bahwa banyak kasus campak dilaporkan dan rata-rata anak yang terkena karena tidak diimunisasi.

Sebuah peringatan

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp.Kardio(K) menyebut bahwa fenomena ini menjadi peringatan yang seharusnya menyadarkan semua pihak bahwa campak tidak bisa dianggap sebagai penyakit ringan.

"Jadi sebetulnya ini adalah sebuah wake up call ya, alarm yang harusnya menyadarkan kita bahwa campak ini tidak bisa dianggap ringan," ujarnya dalam webinar "Update Kasus Campak pada Anak, Apa yang Harus Dilakukan?" pada Sabtu (28/02/2026).

Lebih lanjut dikatakan oleh Dr. Piprim, 20 kasus kematian di Sumenep seharusnya sudah memberi pelajaran bahwa penguatan layanan kesehatan primer perlu dilakukan segera.

Masalah cakupam vaksin

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp.Kardio(K).
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp.Kardio(K) (IDN Times/Misrohatun)

Komplikasi dari campak bisa menjadi radang paru, radang otak bahkan kebutaan.

"Penularannya jauh lebih tinggi daripada COVID-19. Kita dengan COVID aja heboh, tapi kenapa dengan campak sepertinya masyarakat masih menganggap ringan," Dr. Piprim heran.

Adapun masalah campak adalah pada cakupan imunisasi. Campak termasuk penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

"Untuk mencapai imunisasi ini ada banyak cerita, ada yang kesulitan akses, ada yang vaksinnya rusak karena cold chain-nya bermasalah, ada yang penolakan vaksin di masyarakat, banyak isu beredar ya," jelasnya.

Pencegahan campak

IDAI menekankan bahwa ini sesuatu yang serius, tidak bisa lagi diabaikan oleh pemerintah bahwa penguatan pelayanan kesehatan primer, termasuk meningkatkan cakupan imunisasi butuh dilakukan oleh semua pihak.

"Pemerintah juga tidak bisa sendirian, perlu bantuan profesi seperti di IDAI dan melalui kegiatan-kegiatan seperti pediatrician social responsibility, itu kita membantu dokter anak turun ke puskesmas. Ini juga bisa dimanfaatkan supaya keilmuan dari dokter anak itu bisa mendampingi tenaga kesehatan di puskesmas, termasuk pada saat campak ini," imbuh Dr. Piprim.

Selain imunisasi, juga harus dilakukan perbaikan nutrisi yang bergizi, tinggi protein hewani supaya anak-anak memiliki kekebalan yang kuat.

Penting juga untuk mengenali deteksi awal campak apabila perlu dirujuk untuk dirawat di rumah sakit. Beberapa kasus yang dibiarkan di rumah tanpa mengenali tanda bahaya seperti pneumonia, meninggal karena tanpa pertolongan yang memadai.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More