Apa yang dilakukan beberapa jam sebelum tidur ternyata dapat memengaruhi seberapa cepat seseorang terlelap. Misalnya, konsumsi kafein pada sore atau malam hari dapat membuat tubuh tetap terjaga lebih lama.
Penggunaan HP atau perangkat elektronik menjelang tidur juga dapat menjadi salah satu faktor pengganggu. Cahaya dari layar, terutama jika digunakan dalam waktu lama, dapat memengaruhi sinyal biologis yang membantu tubuh mempersiapkan diri untuk tidur.
Lingkungan kamar pun tidak kalah penting. Suhu yang terlalu panas, suara berisik, atau cahaya yang terlalu terang dapat membuat tubuh sulit benar-benar rileks. Sebaliknya, kamar yang sejuk, gelap, dan tenang biasanya lebih mendukung proses seseorang untuk tertidur.
Jadi, ada banyak hal yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk tertidur. Mulai dari ritme sirkadian, genetik, tekanan tidur, kondisi emosional, hingga kebiasaan sehari-hari.
Kalau kamu membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur sesekali, itu belum tentu menjadi masalah. Namun, jika kamu hampir selalu membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk terlelap, sering terbangun, atau tetap merasa sangat mengantuk pada siang hari, kondisi tersebut layak diperhatikan karena bisa menjadi tanda adanya gangguan tidur.
Referensi
Cleveland Clinic. Diakses pada September 2026. "What Does ‘Sleep Latency’ Mean?"
How To Info. Diakses pada September 2026. "The Science Behind How Long Should It Take You to Fall Asleep—And Why It Matters."
Science Insights. Diakses pada September 2026. "Why Do I Fall Asleep as Soon as I Lay Down?"
Tom's Guide. Diakses pada September 2026. "5 Differences Between an Insomniac and Someone Who Gets 7+ Hours Sleep a Night — and Why Sleep Experts Say It Matters."