Referensi
Centers for Disease Control and Prevention, “CMV in Newborns,” January 17, 2025, https://www.cdc.gov/cytomegalovirus/congenital-infection/index.html.
Amy L. Leber, “Maternal and Congenital Human Cytomegalovirus Infection: Laboratory Testing for Detection and Diagnosis,” Journal of Clinical Microbiology 62, no. 4 (2024): e00313-23, https://doi.org/10.1128/jcm.00313-23.
J. Pamungkas, P. Wardhani, D. Husada, E. Ernawati, N. Purnami, and M. Fitriah, “Diagnostic Agreement between Simplexa Direct Real-Time PCR and Conventional Nested PCR for Detecting Congenital Cytomegalovirus in Neonatal Urine in Indonesia,” Tropical Biomedicine 43, no. 2 (2026): 180–84, https://doi.org/10.47665/tb.43.2.006.
Universitas Airlangga, “Deteksi Dini Virus Cytomegalovirus pada Bayi Baru Lahir: Lompatan Teknologi PCR di Indonesia,” UNAIR News, October 22, 2026, https://unair.ac.id/deteksi-dini-virus-cytomegalovirus-pada-bayi-baru-lahir-lompatan-teknologi-pcr-di-indonesia/.
PCR Baru Bantu Deteksi CMV Bawaan pada Bayi Baru Lahir

Infeksi CMV bawaan bisa tidak menunjukkan gejala saat bayi lahir, tetapi tetap berisiko mengganggu pendengaran atau tumbuh kembang.
Pemeriksaan PCR untuk memastikan infeksi bawaan perlu dilakukan dalam tiga minggu pertama kehidupan.
Studi di Surabaya menemukan kecocokan tinggi antara metode PCR baru dan PCR konvensional.
Bayi yang terinfeksi cytomegalovirus (CMV) saat masih di dalam kandungan sering kali tampak sehat setelah lahir. Sebagian tidak menunjukkan tanda yang mudah dikenali, sementara gangguan pendengaran dapat muncul belakangan, bahkan pada bayi yang lolos pemeriksaan pendengaran awal. Karena itu, deteksi dini dapat membantu keluarga dan dokter memantau kesehatan bayi sedini mungkin.
CMV adalah virus yang dapat menular dari ibu ke janin selama kehamilan. Infeksi yang sudah terjadi sebelum bayi lahir disebut CMV bawaan atau CMV kongenital (cCMV). Banyak bayi dengan cCMV tidak mengalami masalah kesehatan, tetapi sebagian dapat mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, atau perkembangan.
Table of Content
Mengapa pemeriksaan perlu dilakukan sebelum bayi berusia 21 hari?
Pemeriksaan cCMV menggunakan tes yang mencari materi genetik virus, umumnya dengan metode polymerase chain reaction (PCR). Sampel dapat berasal dari urine atau air liur. Batas waktu pemeriksaan penting. Apabila CMV baru terdeteksi setelah bayi berusia tiga minggu, dokter tidak dapat memastikan apakah virus sudah ada sejak dalam kandungan atau baru didapat setelah lahir.
Dilansir UNAIR, sampel yang digunakan adalah urine. Para peneliti membandingkan metode PCR konvensional bernama nested PCR dengan Simplexa direct real-time PCR. Secara sederhana, kedua metode sama-sama mencari DNA CMV, tetapi alur kerjanya berbeda.
Nested PCR memerlukan proses ekstraksi materi genetik dan dua tahap penggandaan DNA. Simplexa memproses sampel secara langsung dalam sistem tertutup, sehingga lebih sedikit pemindahan sampel secara manual.
Apa yang ditemukan dalam penelitian di Surabaya?

ilustrasi tangisan bayi baru lahir (magnific.com/freestockcenter) Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Soetomo pada bayi baru lahir berusia kurang dari 21 hari yang dicurigai mengalami infeksi bawaan. Dari 87 sampel urine yang dianalisis, Simplexa mendeteksi CMV pada 29 sampel, sedangkan nested PCR mendeteksinya pada 28 sampel. Hasil kedua metode memiliki tingkat kecocokan tinggi: nilai kappa Cohen sebesar 0,87.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kedua metode sering memberikan hasil yang sama. Namun, penelitian ini tidak menggunakan pemeriksaan acuan independen untuk menghitung sensitivitas dan spesifisitas Simplexa. Studi juga dilakukan di satu rumah sakit dengan jumlah sampel terbatas.
Jumlah hasil positif dalam studi itu, sekitar sepertiga sampel, juga bukan perkiraan prevalensi CMV bawaan di Indonesia. Pesertanya adalah bayi yang sudah menjalani pemeriksaan karena dicurigai mengalami infeksi, bukan sampel acak dari seluruh bayi baru lahir. Penelitian ini terutama menilai kesesuaian dua metode di kelompok berisiko tersebut.
Apa arti temuan ini bagi keluarga?
Sistem PCR langsung seperti Simplexa berpotensi menyederhanakan proses laboratorium dan mengurangi penanganan sampel terbuka, yang dapat menekan risiko kontaminasi. Namun, penelitian ini menilai kesesuaian hasil kedua metode, tidak mengukur langsung berapa lama hasil klinis dapat dipercepat atau apakah sistem ini sudah tersedia secara luas. Jadi, temuan studi ini merupakan bukti awal yang menjanjikan untuk pemeriksaan terarah.
Apabila CMV bawaan terdeteksi, dokter dapat menilai kondisi bayi lebih lanjut, termasuk pendengaran dan penglihatan. Sebagian bayi dengan gejala dapat dipertimbangkan untuk mendapat obat antivirus, tetapi keputusan pengobatan perlu dibuat dokter karena obat tersebut dapat memiliki efek samping serius. Pemeriksaan dan pemantauan berkala juga penting karena gangguan pendengaran dapat muncul atau berkembang setelah lahir.




![[QUIZ] Dari Warna Outfit Favoritmu, Kami Ungkap Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)








![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)
![[QUIZ] Dari Film yang Ditonton saat Capek Mental, Ini Cara Kamu Memulihkan Diri](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)

![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Detoks Media Sosial? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250528/screenshot-2025-05-28-082018-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-14379681e8b0768ac8adbcb2187d5670.png)


![[QUIZ] Apakah Kamu Mulai Ketergantungan AI? Cari Tahu Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250524/pexels-theshantanukr-17603742-1-6c6a1669e817ff8e87b5ca629e8363cc-870f20e35bbce1dc96c6860147a680f8.jpg)


