Sepak bola adalah salah satu jenis olahraga yang mampu memicu emosi kuat, mulai dari tegang, gembira, marah, hingga kecewa.
Ketika tim favorit kalah, sebagian pendukung mengalami apa yang disebut identity threat, yaitu rasa kehilangan atau ancaman terhadap identitas sebagai pendukung tim tersebut.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa setelah tim favorit kalah, para penggemar mengonsumsi sekitar 10 persen lebih banyak kalori dan hingga 16 persen lebih banyak lemak jenuh dibanding hari-hari biasa.
Respons ini termasuk dalam emotional eating, yaitu kecenderungan makan sebagai cara meredakan emosi negatif, bukan karena benar-benar lapar. Makanan tinggi lemak, gula, atau garam memberikan rasa nyaman sementara sehingga otak terdorong mencarinya ketika sedang stres atau kecewa.
Penelitian yang sama juga menemukan bahwa teknik self-affirmation, misalnya mengingat nilai atau hal penting dalam hidup, dapat membantu mengurangi dorongan makan berlebihan setelah mengalami kekecewaan akibat pertandingan.