Schmidt-Lauber, Christian, Merle Ebinghaus, Katrin Borof, Berit Lieske, Alexandre Klopp, Christina Thompson, Loujain Wees, et al. “Association of Periodontitis with Reduced Kidney Function and Albuminuria in Early Chronic Kidney Disease: A Population-Based Study.” International Journal of Oral Science 18, no. 33 (2026).
Centers for Disease Control and Prevention. “About Periodontal (Gum) Disease.” Diakses Juli 2026.
National Institute of Dental and Craniofacial Research. “Periodontal (Gum) Disease.” Diakses Juli 2026.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Chronic Kidney Disease Tests & Diagnosis.” Diakses Juli 2026.
National Kidney Foundation. “Chronic Kidney Disease.” Diakses Juli 2026.
Kapellas, Kostas, A. Singh, M. Bertotti, G. G. Nascimento, and L. M. Jamieson. “Periodontal and Chronic Kidney Disease Association: A Systematic Review and Meta-Analysis.” Nephrology 24, no. 2 (2019): 202–212.
Delbove, Thierry, François Gueyffier, Laurent Juillard, and colleagues. “Effect of Periodontal Treatment on the Glomerular Filtration Rate, Reduction of Inflammatory Markers and Mortality in Patients with Chronic Kidney Disease: A Systematic Review.” PLOS ONE 16, no. 1 (2021): e0245619.
Apakah Gusi Berdarah Bisa Menjadi Tanda Ginjal Rusak?

Masalah gusi yang perlu diwaspadai adalah periodontitis, yaitu radang gusi yang sudah menyerang jaringan penyangga gigi.
Studi populasi 2026 dalam International Journal of Oral Science menemukan periodontitis berat berkaitan dengan eGFR lebih rendah dan albumin urine lebih tinggi, dua penanda penting penyakit ginjal kronis tahap awal.
Gusi berdarah tidak otomatis berarti ginjal rusak, tetapi bisa menjadi alasan untuk cek kesehatan, terutama bila disertai diabetes, hipertensi, urine berbusa, bengkak, atau mudah lelah.
Sering disepelekan, banyak orang mengira gusi berdarah terjadi akibat menyikat gigi terlalu keras, kurang vitamin C, atau belum scaling.
Kadang, memang itu yang terjadi. Akan tetapi, kalau gusi sering bengkak, mudah berdarah, terus-terusan bau mulut, gigi terasa goyang, atau gusi tampak turun, mungkin itu adalah tanda periodontitis.
Periodontitis adalah penyakit radang kronis pada jaringan penyangga gigi. Gingivitis adalah bentuk awal penyakit gusi, ditandai gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi periodontitis, yaitu peradangan yang merusak jaringan dan tulang penyangga gigi.
Periodontitis kini makin sering dikaitkan dengan kesehatan organ lain, termasuk ginjal. Sebuah studi baru berbasis populasi menganalisis 6.179 peserta dengan usia median 62 tahun. Para peneliti menemukan bahwa periodontitis berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal dan albuminuria pada tahap awal penyakit ginjal kronis.
Namun, perlu ditekankan bahwa mengalami gusi berdarah sudah pasti ginjal kamu bermasalah. Kamu tidak bisa menyimpulkan masalah ginjal cuma dari kondisi gusi. Akan tetapi, masalah gusi yang berat bisa menandakan tubuh sedang mengalami peradangan kronis atau memiliki faktor risiko yang sama dengan penyakit ginjal, seperti diabetes, hipertensi, merokok, dan usia yang lebih tua.
Table of Content
1. Gusi mudah berdarah, bengkak, dan tidak membaik
Gusi yang sesekali berdarah saat menyikat gigi bisa terjadi karena teknik menyikat terlalu keras. Namun, kalau pendarahannya sering, bengkak, merah, atau nyeri, itu perlu diperiksa terutama jika berlangsung lama.
Gejala penyakit gusi dapat meliputi gusi merah, bengkak, nyeri, berdarah, gusi yang menjauh dari gigi, gigi sensitif atau goyang, nyeri saat mengunyah, dan bau mulut yang menetap.
Dalam studi baru, periodontitis berat lebih sering ditemukan pada orang dengan fungsi ginjal yang lebih rendah. Prevalensi periodontitis berat meningkat dari 14 persen pada peserta dengan fungsi ginjal normal menjadi 36 persen pada peserta dengan eGFR yang menurun secara moderat.
Artinya, pada sebagian orang, gusi yang meradang bisa menjadi bagian dari gambaran kesehatan yang lebih luas.
2. Gusi turun, gigi tampak memanjang, atau gigi mulai goyang
Selain menyebabkan gusi berdarah, lama-kelamaan peradangan dapat merusak jaringan penyangga gigi.
Tanda yang bisa terlihat adalah gusi turun, gigi tampak lebih panjang, muncul celah di antara gigi, atau gigi terasa mulai goyang.
Pada studi yang sama, disebutkan bahwa makin buruk kategori fungsi ginjal, makin banyak pula tanda kerusakan periodontal yang ditemukan. Jumlah gigi yang hilang juga meningkat seiring kategori penyakit ginjal yang lebih berat.
Hubungannya kemungkinan tidak berdiri sendiri. Para peneliti menjelaskan bahwa periodontitis dan penyakit ginjal kronis dapat saling berkaitan lewat peradangan sistemik, stres oksidatif, gangguan pembuluh darah, serta faktor risiko yang tumpang tindih seperti diabetes dan merokok.
3. Terus-terusan bau mulut walaupun sudah menjaga kebersihan mulut

Bau mulut yang dimaksud beda dengan bau mulut sesaat setelah makan makanan tertentu. Pada periodontitis, bakteri dan peradangan di area gusi dapat membuat bau mulut sulit hilang, meski sudah menyikat gigi.
Masalahnya, penyakit ginjal kronis juga sering berkembang diam-diam. Banyak orang dengan penyakit ginjal kronis tidak merasakan gejala sampai tahap lebih lanjut atau sampai muncul komplikasi.
Gejalanya meliputi urine berbusa, perubahan frekuensi buang air kecil, kulit gatal atau kering, mudah lelah, mual, nafsu makan menurun, dan penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
Jadi, jika bau mulut menetap disertai gusi bermasalah dan tanda lain seperti urine berbusa, bengkak di kaki atau wajah, tekanan darah tinggi, atau diabetes yang tidak terkontrol, sebaiknya segera temui dokter.
4. Masalah gusi muncul bersama diabetes atau hipertensi
Diabetes dan hipertensi adalah dua faktor risiko besar penyakit ginjal kronis. Keduanya juga berkaitan erat dengan kesehatan gusi.
Pada orang dengan diabetes, misalnya, infeksi dan peradangan gusi bisa lebih mudah terjadi dan lebih sulit membaik jika gula darah tidak terkontrol.
Dalam studi baru, partisipan studi dengan periodontitis tahap IV cenderung lebih tua dan lebih sering memiliki hipertensi, dislipidemia, diabetes, serta kadar penanda inflamasi yang lebih tinggi dibanding peserta dengan periodontitis tahap I/II.
Dari situ, bisa disimpulkan bahwa orang dengan diabetes atau hipertensi tidak cukup hanya memantau gula darah dan tekanan darah. Kesehatan gigi dan gusi juga perlu mendapat perawatan rutin.
Waktu yang tepat untuk cek ginjal

Masalah gusi perlu ditindaklanjuti ke dokter gigi. Namun, pemeriksaan ginjal juga perlu dipertimbangkan jika kamu punya faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, riwayat keluarga penyakit ginjal, penyakit jantung, obesitas, merokok, atau sering memakai obat pereda nyeri tertentu tanpa pengawasan dokter.
Untuk mengecek penyakit ginjal, kamu biasanya butuh tes darah untuk menilai glomerular filtration rate (GFR), dan tes urine untuk melihat albumin, yaitu protein yang bisa masuk ke urine ketika ginjal mengalami kerusakan.
Dalam studi baru, periodontitis tahap IV berhubungan dengan eGFR yang lebih rendah dan rasio albumin-kreatinin urine (uACR) yang lebih tinggi dibanding periodontitis tahap I/II, bahkan setelah peneliti menyesuaikan faktor usia, jenis kelamin, diabetes, dan status merokok. Namun, karena desain studinya potong lintang, hasil ini menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa periodontitis pasti menyebabkan penyakit ginjal.
Jika gusi sering berdarah, bengkak, turun, nyeri, bau mulut menetap, atau gigi mulai goyang, jangan menunda-nunda untuk menemui dokter gigi.
Perawatan untuk periodontitis bisa meliputi pembersihan karang, scaling dan root planing, memperbaiki kebiasaan kebersihan mulut, serta kontrol secara berkala.
Di rumah, sikat gigi setidaknya dua kali sehari dengan teknik lembut, bersihkan sela-sela gigi, berhenti merokok, dan kendalikan gula darah serta tekanan darah jika kamu punya diabetes atau hipertensi.
Jika muncul tanda yang mengarah ke gangguan ginjal—misalnya urine berbusa, pembengkakan di kaki atau sekitar mata, tekanan darah sulit dikendalikan, mudah lelah, atau perubahan frekuensi buang air kecil—konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan fungsi ginjal (eGFR) dan albumin urine.
Singkatnya, gusi bermasalah bukan otomatis ginjal kamu rusak. Namun periodontitis berat bisa menandakan beban peradangan dan risiko metabolik yang perlu dievaluasi oleh dokter.
Referensi





![[QUIZ] Kuis Kehamilan: Seberapa Paham Kamu soal Trimester Pertama?](https://image.idntimes.com/post/20240404/ilustrasi-ibu-hamil-3-439ba35c2eddc3609f4199c00217243d.png)





![[QUIZ] Dari Posisi Tidur, Cek Risiko Kesehatan yang Mengintai](https://image.idntimes.com/post/20260705/img_8137_dedfcc13-95a2-4841-9ff2-ca5acb04b06c.jpeg)








![[QUIZ] Cek Risiko Asam Urat dari Kebiasaan Harianmu](https://image.idntimes.com/post/20251103/pexels-paolino96-19732424_c24e0d2d-9f5c-4e78-9d55-f52e73ccc966.jpg)
