ilustrasi bau mulut (freepik.com/Stockking)
Bau mulut saat puasa bukan sekadar karena “tidak makan dan minum”, tetapi dipengaruhi oleh beberapa proses biologis di dalam tubuh dan rongga mulut. Berikut penjelasan lengkapnya:
Menurut drg. Desiana Radithia, Sp.PM(K), dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, bau mulut saat puasa terutama disebabkan oleh berkurangnya produksi saliva. Air liur memiliki fungsi penting sebagai pembersih alami rongga mulut. Secara mekanis, saliva membantu membersihkan sisa makanan, plak, serta mikroorganisme yang terus terbentuk di dalam mulut.
Ketika produksi saliva menurun akibat dehidrasi ringan selama puasa, mulut menjadi kering (xerostomia). Kondisi ini membuat bakteri lebih mudah berkembang biak dan menghasilkan senyawa volatil sulfur (volatile sulfur compounds/VSC) yang berbau tidak sedap. Di sisi lain, meski sebagian mikroorganisme bisa mati karena kondisi kering, sisa mikroorganisme yang tidak terangkat justru dapat menimbulkan aroma kurang sedap.
Saat tidak ada asupan makanan dalam waktu lama, tubuh mulai membakar cadangan lemak sebagai sumber energi. Proses ini menghasilkan zat yang disebut keton. Keton dapat keluar melalui napas dan menimbulkan aroma khas yang terkadang terasa lebih tajam atau asam.
Perubahan pola makan saat Ramadan, misalnya konsumsi makanan berlemak atau pedas saat berbuka, dapat memicu peningkatan produksi asam lambung. Pada beberapa orang, asam lambung yang naik bisa memengaruhi aroma napas. Jika asam lambung tidak terkontrol, aroma tidak sedap dapat muncul dari saluran pencernaan dan tercium melalui napas.
Beberapa makanan seperti bawang putih, bawang merah, dan makanan berbumbu kuat mengandung senyawa sulfur. Senyawa ini dapat diserap ke dalam aliran darah, kemudian dikeluarkan melalui paru-paru saat bernapas. Akibatnya, aroma tidak sedap bisa bertahan lama meskipun gigi sudah disikat.