Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Musim Kemarau Rentan Memicu Mimisan, Ini Penyebabnya

Musim Kemarau Rentan Memicu Mimisan, Ini Penyebabnya
ilustrasi mimisan (vecteezy.com/Sakuna Thongkum)
Intinya Sih
  • Musim kemarau membuat udara kering sehingga lapisan mukosa hidung kehilangan kelembapan, menyebabkan pembuluh darah kecil mudah pecah dan memicu mimisan.
  • Kebiasaan seperti mengorek hidung, membuang ingus terlalu keras, atau paparan debu dan asap dapat memperparah kondisi hidung kering hingga menimbulkan perdarahan.
  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga kelembapan udara memakai humidifier atau saline spray, cukup minum air, serta menghindari kebiasaan yang melukai bagian dalam hidung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat musim kemarau, banyak orang mengeluhkan hidung terasa kering, gatal, bahkan tiba-tiba mengeluarkan darah atau mimisan. Kondisi ini memang lebih sering terjadi ketika udara menjadi lebih kering dibandingkan musim hujan.

Mimisan saat musim kemarau sebenarnya berkaitan erat dengan kondisi lapisan dalam hidung. Udara yang minim kelembapan dapat membuat jaringan di dalam hidung kehilangan cairan sehingga lebih mudah mengalami luka. Lalu, kenapa ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya.

1. Lapisan dalam hidung sangat tipis dan penuh pembuluh darah

Bagian dalam hidung dilapisi oleh membran mukosa, yaitu jaringan tipis yang kaya akan pembuluh darah kecil. Letaknya sangat dekat dengan permukaan sehingga berfungsi membantu menghangatkan dan melembapkan udara yang kita hirup sebelum masuk ke paru-paru.

Sayangnya, susunan seperti ini juga membuat pembuluh darah di hidung menjadi cukup rapuh. Ketika lapisan mukosa mengering, permukaannya lebih mudah pecah dan pembuluh darah kecil di bawahnya bisa ikut robek. Akibatnya, darah keluar melalui lubang hidung.

2. Udara kering membuat hidung kehilangan kelembapan alami

Penyebab utama mimisan saat musim kemarau adalah rendahnya kelembapan udara. Ketika udara sangat kering, kelembapan alami pada lapisan hidung ikut menguap lebih cepat. Akibatnya, lendir yang biasanya menjaga hidung tetap lembap menjadi berkurang. Lapisan mukosa pun menjadi tipis, kasar, bahkan dapat muncul retakan-retakan kecil yang mudah berdarah.

Tak hanya terjadi di luar ruangan, udara dalam rumah juga bisa memperparah kondisi ini. Penggunaan pendingin ruangan (AC) atau pemanas ruangan secara terus-menerus dapat membuat udara di dalam ruangan makin kering sehingga hidung lebih rentan mengalami iritasi.

3. Kebiasaan sederhana juga bisa memicu mimisan

Seorang wanita mengenakan sweter gelap menekan hidungnya dengan tangan, tampak seperti sedang mimisan di latar belakang biru gelap.
ilustrasi mimisan (pexels.com/Brandon Nickerson)

Saat hidung sudah dalam kondisi kering, gesekan kecil saja bisa menyebabkan pembuluh darah pecah. Beberapa kebiasaan yang sering menjadi pemicu antara lain:

  • Terlalu sering menggosok atau mengorek hidung.
  • Membuang ingus terlalu keras ketika sedang flu atau alergi.
  • Terpapar debu, asap rokok, atau bau-bauan yang mengiritasi saluran hidung.
  • Menggunakan semprotan dekongestan hidung terlalu sering tanpa anjuran dokter.

Selain itu, orang yang mengonsumsi obat pengencer darah juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami mimisan, terutama jika lapisan hidung sudah kering.

4. Sebagian besar mimisan berasal dari bagian depan hidung

Kabar baiknya, sebagian besar mimisan saat musim kemarau termasuk mimisan anterior, yaitu perdarahan yang berasal dari bagian depan sekat hidung. Di area ini terdapat banyak pembuluh darah halus yang sangat mudah pecah akibat udara kering maupun gesekan ringan.

Mimisan jenis ini biasanya hanya keluar dari satu lubang hidung dan umumnya tidak berbahaya. Meski begitu, jika sering berulang tentu bisa mengganggu aktivitas.

5. Cara mencegah mimisan saat musim kemarau

Mencegah mimisan sebenarnya cukup sederhana. Tujuannya adalah menjaga lapisan dalam hidung tetap lembap agar tidak mudah retak. Beberapa langkah yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Gunakan humidifier untuk meningkatkan kelembapan udara di dalam ruangan.
  • Semprotkan cairan saline (larutan garam steril) secara rutin agar rongga hidung tetap lembap.
  • Jika perlu, oleskan gel hidung berbahan dasar air atau sedikit petroleum jelly pada bagian depan lubang hidung sebelum tidur sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  • Minum air putih yang cukup agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.
  • Hindari mengorek hidung atau membuang ingus terlalu kuat.
  • Kurangi paparan asap rokok, debu, dan zat-zat yang dapat mengiritasi hidung.

Langkah-langkah sederhana tersebut terbukti membantu menjaga kelembapan mukosa hidung sehingga risiko mimisan selama musim kemarau dapat berkurang.

6. Kapan mimisan perlu diperiksa oleh dokter?

Dokter mengenakan masker sedang berbicara dengan pasien di ruang pemeriksaan medis yang bersih dan terang.
ilustrasi dokter sedang memeriksa pasien (pexels.com/SHVETS production)

Walaupun umumnya tidak berbahaya, tetapi mimisan sebaiknya tidak dianggap remeh jika terjadi berulang kali atau perdarahannya cukup banyak.

Temui dokter apabila mimisan sulit berhenti, sering kambuh dalam waktu singkat, terjadi setelah cedera pada wajah atau hidung, atau dialami oleh seseorang yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah. Kondisi tersebut mungkin perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya. Pada sebagian kasus, dokter THT mungkin akan melakukan tindakan khusus untuk menghentikan perdarahan atau mencari apakah ada gangguan lain pada rongga hidung.

Akhir kata, mimisan rentan terjadi saat musim kemarau karena udara menjadi lebih kering sehingga lapisan pelindung di dalam hidung kehilangan kelembapannya. Akibatnya, pembuluh darah kecil yang berada tepat di bawah permukaan menjadi lebih rapuh dan mudah pecah sehingga memicu mimisan.

Risikonya dapat diminimalkan dengan menjaga kelembapan udara, rutin menggunakan saline jika diperlukan, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta menghindari kebiasaan yang dapat melukai bagian dalam hidung. Dengan perawatan sederhana tersebut, hidung akan tetap sehat meski cuaca sedang sangat kering.

Referensi

EntOne. Diakses pada Juli 2026. "Nosebleeds – A Common Occurance in Drier Climates And Higher Elevations."

Mayo Clinic. Diakses pada Juli 2026. "Mayo Clinic Q and A: Managing Nosebleeds."

NasoNeb. Diakses pada Juli 2026. "Dry Nose and Nosebleeds: Causes, Treatment, and Prevention."

Sinus & Allergy Wellness Center. Diakses pada Juli 2026. "Why Nosebleeds Are Worse in Scottsdale’s Dry Season—and How You Can Prevent Them."

Sleep and Sinus Centers of Georgia. Diakses pada Juli 2026. "Dry Nose Causing Nosebleeds: ENT Causes and Care."

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More