Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Suka Cabut Bulu Hidung? Kenali Risiko Kesehatan dari Kebiasaan Ini

Suka Cabut Bulu Hidung? Kenali Risiko Kesehatan dari Kebiasaan Ini
ilustrasi mencabut bulu hidung (magnific.com/magnific)
  • Mencabut bulu hidung dapat menciptakan luka kecil pada folikel rambut dan meningkatkan risiko nasal vestibulitis atau infeksi folikel di dalam hidung.

  • Komplikasi berat seperti penyebaran infeksi ke jaringan wajah atau cavernous sinus thrombosis memang mungkin terjadi, tetapi sangat jarang.

  • Jika bulu hidung terasa terlalu panjang, memangkasnya dengan alat yang sesuai lebih aman daripada mencabutnya sampai ke akar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Satu helai bulu yang mencuat dari lubang hidung bisa mengganggu estetika. Akhirnya kamu mengambil pinset. Sekali tarik, selesai.

Yang jadi perhatian, tarikan tersebut mengeluarkan rambut dari folikelnya dan dapat meninggalkan luka kecil pada jaringan di dalam hidung. Area ini juga bukan lingkungan yang steril. Bakteri seperti Staphylococcus aureus dapat hidup di rongga hidung tanpa menimbulkan masalah, tetapi kerusakan kulit memberi bakteri kesempatan masuk ke jaringan.

Salah satu akibat yang dapat muncul adalah nasal vestibulitis, infeksi pada bagian paling depan rongga hidung. Kebiasaan mencabut bulu hidung sebagai salah satu pemicunya.

  1. 1. Bisa menyebabkan infeksi folikel rambut

    Bulu hidung tumbuh dari folikel seperti rambut di bagian tubuh lainnya. Setelah rambut dicabut, folikel dapat mengalami iritasi atau menjadi pintu masuk bakteri.

    Penelitian terhadap 118 pasien dengan nasal vestibulitis menemukan kebiasaan mencabut bulu hidung pada sekitar 14 persen pasien, menjadikannya salah satu faktor risiko yang teridentifikasi bersama mengorek hidung dan membuang ingus terlalu kuat. Pada sampel yang menjalani kultur, Staphylococcus aureus sensitif methicillin merupakan bakteri yang paling sering ditemukan.

    Infeksi ringan dapat menimbulkan:

    • Rasa nyeri atau perih di dalam lubang hidung.
    • Kemerahan.
    • Kerak atau koreng.
    • Perdarahan ringan.
    • Benjolan menyerupai jerawat.

    Jika infeksi terjadi lebih dalam pada folikel, dapat terbentuk furunkel atau bisul di vestibulum hidung. Kemerahan, pembengkakan, dan nyeri pada ujung hidung merupakan gambaran umum nasal vestibular furunculosis.

  2. 2. Bulu yang tumbuh kembali bisa masuk ke dalam

    Mencabut rambut juga dapat menyebabkan ingrown hair, yaitu rambut yang tumbuh kembali ke dalam kulit alih-alih keluar melalui permukaannya.

    Kondisi tersebut dapat menyebabkan benjolan merah, iritasi, rasa nyeri, dan terkadang infeksi sekunder. Para ahli karena itu menyarankan menghindari mencabut maupun melakukan waxing pada bulu di dalam hidung dan memilih memangkasnya jika mengganggu penampilan.

  3. 3. Fungsi bulu hidung

    Ilustrasi bulu hidung pada bagian dalam lubang hidung manusia, menggambarkan rambut halus di area hidung.
    ilustrasi bulu hidung (pixabay.com/derneuemann)

    Bulu hidung atau vibrissae letaknya di bagian depan rongga hidung dan keberadaannya membantu menangkap sebagian partikel yang ikut masuk bersama udara.

    Studi pemodelan biomekanik menunjukkan keberadaan dan kepadatan bulu hidung dapat meningkatkan deposisi atau penangkapan mikropartikel pada vestibulum hidung. Penelitian dengan model saluran napas manusia juga menemukan konfigurasi bulu hidung yang diuji meningkatkan efisiensi penyaringan mikropartikel sekitar 12–38 persen dibandingkan tanpa bulu hidung.

    Namun, penelitian tersebut tidak menunjukkan bahwa mencabut beberapa helai bulu hidung langsung meningkatkan risiko penyakit pernapasan.

    Studi observasional pada 233 orang dengan rinitis alergi sebelumnya memang menemukan mereka yang mempunyai bulu hidung lebih lebat lebih jarang mengalami asma, tetapi studi ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.

  4. 4. Benarkah infeksi dari hidung bisa menyebar ke otak?

    Hidung berada dalam wilayah wajah yang kerap disebut danger triangle, membentang kurang lebih dari pangkal hidung ke sudut mulut.

    Jaringan vena pada area ini memiliki hubungan dengan pembuluh di dalam tengkorak. Karena itu, secara anatomis infeksi berat pada wajah atau hidung dapat menyebar dan menyebabkan komplikasi seperti cavernous sinus thrombosis (CST). Namun, mencabut satu bulu hidung bukan berarti infeksi akan menyebar ke otak.

    CST sendiri merupakan kondisi langka, dengan perkiraan insiden keseluruhan hanya sekitar 0,2–1,6 kasus per 100.000 orang. Bahkan pada studi 118 pasien nasal vestibulitis—banyak di antaranya sudah mengalami selulitis atau abses—tidak ditemukan komplikasi serius. Tinjauan sistematis mengenai infeksi vestibulum hidung menyimpulkan bahwa komplikasi serius tampaknya jarang terjadi.

  5. 5. Kalau terlalu panjang, sebaiknya jangan dicabut

    Cara yang lebih aman adalah memotong bagian yang mencuat. Gunakan nose-hair trimmer atau gunting kecil dengan ujung membulat. Tidak perlu memangkas seluruh rambut sampai bagian dalam hidung terlihat bersih karena bulu tersebut masih memiliki fungsi sebagai filter mekanis.

    Jika setelah mencabut bulu muncul benjolan, jangan dipencet atau dikorek. Infeksi ringan pada vestibulum hidung dapat memerlukan antibiotik topikal, sedangkan bisul, abses, atau infeksi yang menyebar dapat membutuhkan antibiotik oral atau penanganan lain oleh dokter.

    Pemeriksaan medis diperlukan jika muncul nyeri dan bengkak yang makin berat, kemerahan menyebar ke ujung hidung atau wajah, demam, abses, sakit kepala berat, atau gangguan pada mata dan penglihatan.

    Jadi, masalah utama dari mencabut bulu hidung sampai ke akarnya adalah potensi rusaknya pertahanan kulit di area yang memang dihuni bakteri. Kalau cuma mau merapikan penampilan, memendekkannya sudah cukup.

    Referensi

    Y. Lipschitz et al., “Nasal Vestibulitis: Etiology, Risk Factors, and Clinical Characteristics: A Retrospective Study of 118 Cases,” Diagnostic Microbiology and Infectious Disease 89, no. 2 (2017): 131–34.

    Paola Marra et al., “Nasal Vestibulitis and Vestibular Furunculosis: A Systematic Review about Two Common Nasal Infections and Considerations about Correct Diagnosis and Management,” La Clinica Terapeutica 173, no. 6 (2022): 590–96, doi:10.7417/CT.2022.2487.

    Hasan Fatahi et al., “Numerical Study of Nasal Hair Effects on Breathing Comfort and Particle Deposition in a Simplified Vestibule Region,” Biomechanics and Modeling in Mechanobiology 24, no. 5 (2025): 1513–33, doi:10.1007/s10237-025-01979-y.

    Hasan Fatahi et al., “A CFPD-FSI Analysis of the Impact of Nasal Hairs on Airflow Patterns, Nasal Resistance, and Particle Filtration in a Realistic Human Nasal Airway,” International Journal of Pharmaceutics (2026), doi:10.1016/j.ijpharm.2026.127144.

    A. B. Ozturk et al., “Does Nasal Hair (Vibrissae) Density Affect the Risk of Developing Asthma in Patients with Seasonal Rhinitis?,” International Archives of Allergy and Immunology 156, no. 1 (2011): 75–80, doi:10.1159/000321912.

    Jonathan M. Davies et al., “Cavernous Sinus Thrombosis,” Neurosurgery Clinics of North America 35, no. 3 (2024), doi:10.1016/j.nec.2024.02.002.

Share Article

Related Articles

See More