Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Perut Bunyi saat Puasa? Belum Tentu Lapar, lho!
ilustrasi perut bunyi saat puasa (freepik.com/freepik)
  • Bunyi perut saat puasa umumnya berasal dari kontraksi normal saluran pencernaan yang disebut borborygmi dan terkait dengan ritme migrating motor complex.

  • Mekanisme hormon seperti grelin dan kondisi kosongnya lambung membuat suara tersebut lebih keras dan sering terjadi saat puasa.

  • Bunyi perut umumnya tidak berbahaya, tetapi bisa dikurangi dengan strategi makan sahur yang tepat dan hidrasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama puasa, mungkin kamu sadar perut mengeluarkan suara lebih sering dan kuat dibanding hari-hari biasanya. Suara ini bisa berkisar dari keroncongan halus hingga gemeretak keras, terutama ketika menunggu waktu berbuka. Meskipun sering dihubungkan dengan rasa lapar, tetapi suara perut itu sendiri merupakan fenomena fisiologis yang cukup kompleks.

Perut dan usus adalah bagian dari saluran pencernaan yang panjang dan aktif. Mereka bekerja sepanjang hari, bahkan saat perut kosong, untuk memindahkan makanan, cairan, dan gas melalui kontraksi otot yang terkoordinasi. Ketika saluran pencernaan sedang “kosong” namun tetap bergerak, suara itu jadi terdengar lebih jelas.

Dalam konteks puasa, suara-suara ini sering muncul lebih sering karena tubuh sedang dalam fase khusus dari aktivitas pencernaan.

Mekanisme biologis di balik bunyi perut

Bunyi perut secara medis dikenal sebagai borborygmi, istilah yang digunakan untuk suara rumbling atau gurgling yang berasal dari sistem pencernaan ketika otot-otot di dinding usus dan lambung berkontraksi.

Kontraksi otot ini adalah bagian dari peristalsis, yakni gerakan berulang yang terjadi di sepanjang saluran cerna untuk mendorong makanan, gas, dan cairan ke depan. Walaupun peristalsis terus terjadi sepanjang hari, suara biasanya lebih terdengar ketika saluran cerna kosong. Tanpa lapisan makanan atau cairan untuk “meredam” suara, kontraksi ini menghasilkan bunyi yang lebih nyaring.

Bunyi-bunyi ini bisa terjadi di lambung maupun usus halus dan besar. Seringnya bunyi atau intensitasnya tidak selalu menandakan sesuatu yang patologis, melainkan lebih merefleksikan aktivitas motorik normal dari sistem pencernaan tubuh.

Ada juga mekanisme migrating motor complex

ilustrasi lapar (freepik.com/lapar)

Selain peristalsis dasar, ada mekanisme khusus yang lebih sering aktif ketika saluran cerna kosong lama, seperti saat puasa. Fenomena ini disebut migrating motor complex (MMC), yaitu pola gelombang kontraksi kuat yang terjadi di perut dan usus secara berkala selama fase tidak makan.

MMC berfungsi sebagai “sapu” internal, yang artinya menggerakkan sisa makanan kecil, lendir, dan bakteri dari lambung dan usus halus menuju usus besar, menjaga kebersihan saluran pencernaan antara waktu makan. Aktivitas ini biasanya berlangsung setiap 90–120 menit saat saluran cerna kosong. Gelombang ini menyebabkan kontraksi lebih kuat daripada peristalsis biasa, sehingga menghasilkan suara yang lebih terdengar saat puasa.

Dalam kondisi puasa panjang seperti Ramadan, MMC bekerja lebih sering karena tidak ada makanan yang memecah siklusnya. Hasilnya adalah suara-suara yang sering kali diartikan sebagai perut keroncongan atau sinyal lapar, padahal itu adalah bagian dari proses pencernaan yang normal.

Peran hormon dan pola fisik saat puasa

Hormon grelin alias hormon lapar meningkat ketika perut kosong dan ikut merangsang sensasi ingin makan.

Meningkatnya grelin bertepatan dengan aktivasi MMC dan peningkatan peristalsis yang terjadi saat tubuh sedang mencari zat gizi. Pergerakan otot-otot pencernaan yang dipicu hormon ini dapat membuat suara lebih intens dan teratur menjelang waktu makan.

Selain itu, ruang kosong dalam saluran cerna saat puasa bertindak seperti ruangan resonansi. Ketika kontraksi otot mendorong gas dan cairan tanpa makanan yang menyerap suara, resonansi itu menjadi lebih jelas, membuat suara terdengar lebih keras di luar tubuh.

Pola diet, kebiasaan sahur, dan bunyi perut

ilustrasi perut bunyi saat puasa (freepik.com/stockking)

Pola sahur yang rendah karbohidrat cepat serap dan tinggi serat mungkin membantu mengurangi intensitas suara perut saat puasa. Serat memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan makanan, memberi “isi” lebih lama yang membantu meredam suara dari MMC dan peristalsis.

Minum cairan cukup saat sahur juga memberi volume tambahan di saluran cerna, yang bisa sedikit meredam resonansi suara dibanding saluran cerna yang benar-benar kosong. Hal ini memberikan penyangga terhadap intensitas suara saat perut menunggu asupan berikutnya.

Suara perut selama puasa adalah fenomena fisiologis yang normal. Meskipun sering dikaitkan dengan lapar, tetapi suara ini merupakan bagian dari fungsi tubuh yang sehat, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan selama tidak disertai gejala lain seperti nyeri hebat atau perubahan kebiasaan buang air besar.

Referensi

"Why Does My Stomach Growl?" Healthline. Diakses Maret 2026.

"Why does your stomach growl when you are hungry?" Scientific American. Diakses Maret 2026.

“Why Do Our Stomachs Growl? The Science Behind Sounds." Hohtaxcalc. Diakses Maret 2026.

"Stomach Growling: When It’s Normal and When It’s a Warning Sign." Times of India. Diakses Maret 2026.

Editorial Team