Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Tangan Dingin saat Nonton Pertandingan Penting?
ilustrasi tegang saat nonton bola (magnific.com/freepik)
  • Tangan dingin saat nonton pertandingan penting bisa terjadi karena respons stres atau fight-or-flight.

  • Saat tegang, pembuluh darah kecil di kulit dapat menyempit sehingga aliran darah ke tangan berkurang sementara.

  • Biasanya tidak berbahaya bila hanya sementara, tetapi perlu diwaspadai bila disertai nyeri dada, sesak, pingsan, atau jari berubah putih-biru berulang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menit-menit terakhir pertandingan bisa terasa menegangkan. Jantung berdebar, napas pendek, perut terasa tidak enak, lalu telapak tangan rasanya dingin. Rasanya seperti sedang olahraga, padahal kamu hanya duduk menonton.

Faktanya, tubuh tidak selalu bisa membedakan ancaman fisik dan tekanan emosional. Bagi otak, pertandingan penting—apalagi final, derby, atau laga tim nasional—bisa diterjemahkan sebagai situasi penuh tekanan. Kemudian, tubuh menyalakan mode siaga.

1. Tubuh masuk mode fight-or-flight

Saat tegang, sistem saraf simpatik aktif. Ini bagian dari respons fight-or-flight, yaitu mekanisme tubuh untuk menghadapi ancaman atau tekanan. Hormon stres seperti adrenalin ikut naik. Dampaknya, detak jantung dan tekanan darah dapat meningkat, napasmu jadi lebih cepat, otot menegang, dan tubuh lebih waspada.

Pada saat yang sama, aliran darah bisa dialihkan ke organ penting dan otot besar. Pembuluh darah kecil di kulit, termasuk di tangan dan kaki, dapat menyempit. Proses ini disebut vasokonstriksi. Akibatnya, tangan terasa lebih dingin, pucat, lembap, atau seperti dingin namun berkeringat.

Tangan dingin saat nonton pertandingan penting bisa menandakan tubuh sedang bereaksi terhadap stres emosional.

2. Nonton pertandingan bisa memicu respons fisik

Reaksi penonton olahraga bukan hanya perasaan. Beberapa studi menunjukkan bahwa menonton pertandingan dapat memicu perubahan fisiologis nyata.

Penelitian pada penonton pertandingan hoki menemukan bahwa detak jantung dapat meningkat tajam saat menonton, terutama saat menonton langsung di arena. Studi lain pada penggemar sepak bola menunjukkan kadar kortisol, hormon yang berkaitan dengan stres, dapat meningkat saat menonton pertandingan, terutama pada fans yang sangat terikat dengan timnya.

Dalam konteks sepak bola, studi besar di Jerman saat Piala Dunia 2006 juga menemukan bahwa menonton pertandingan yang menegangkan dapat berkaitan dengan peningkatan kejadian kardiovaskular akut, terutama pada orang dengan penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.

Namun, ini bukan berarti semua orang harus takut menonton bola. Pada kebanyakan orang sehat, tangan dingin, deg-degan, atau tegang saat pertandingan adalah respons sementara. Yang penting adalah mengenali kapan respons itu masih wajar dan kapan harus dianggap sinyal bahaya.

3. Kapan tangan dingin perlu diwaspadai?

ilustrasi tegang saat nonton pertandingan bola (magnific.com/gpointstudio)

Tangan dingin yang muncul saat momen menegangkan lalu membaik setelah pertandingan biasanya tidak berbahaya. Apalagi jika terjadi di kedua tangan, tidak disertai nyeri, dan hilang setelah kamu menenangkan diri atau menghangatkan tangan.

Namun, waspadai jika tangan dingin sering muncul di luar situasi tegang, terasa nyeri, disertai baal, kesemutan berat, atau jari berubah warna menjadi putih, biru, lalu merah. Pola seperti ini bisa mengarah ke fenomena Raynaud, yaitu kondisi ketika pembuluh darah kecil di jari menyempit berlebihan, sering dipicu dingin atau stres.

Segera temui dokter jika tangan dingin saat menonton pertandingan disertai nyeri dada, sesak napas, keringat dingin berat, pingsan, mual hebat, nyeri menjalar ke lengan atau rahang, kelemahan satu sisi tubuh, bicara pelo, atau kebingungan.

Cara mengatasi tangan dingin

Mulai dari hal sederhana:

  • Letakkan ponsel sebentar, turunkan bahu, lalu tarik napas pelan.

  • Coba embuskan napas lebih panjang daripada tarikan napas. Misalnya, tarik napas 3 detik, embuskan 5–6 detik. Ini membantu tubuh keluar dari mode siaga berlebihan.

  • Gerakkan jari, kepalkan dan buka telapak tangan perlahan, berdiri sebentar, atau berjalan ringan saat jeda pertandingan. Menggerakkan tubuh dapat membantu sirkulasi. Kalau ruangan dingin, pakai jaket tipis atau pegang minuman hangat.

  • Batasi kopi, minuman energi, rokok, dan alkohol berlebihan saat nobar. Kafein dan nikotin dapat memengaruhi pembuluh darah dan membuat tubuh makin “siaga”.

Kalau kamu punya riwayat penyakit jantung, hipertensi, atau gangguan irama jantung, menonton pertandingan yang sangat emosional sebaiknya tidak dibarengi begadang ekstrem, merokok terus-menerus, atau makan sangat berat.

Referensi

Cleveland Clinic. “What Happens to Your Body During the Fight-or-Flight Response?” Diakses Juli 2026.

Cleveland Clinic. “Vasoconstriction.” Diakses Juli 2026.

Khairy, Paul, et al. “Heart Rate Response in Spectators of the Montreal Canadiens Hockey Team.” Canadian Journal of Cardiology 33, no. 10 (2017).

Wilbert-Lampen, Ute, Dieter Leistner, Stephan Greven, et al. “Cardiovascular Events during World Cup Soccer.” New England Journal of Medicine 358, no. 5 (2008): 475–483.

Newson, Martha, Valerie Bortolini, Giulio Buhrmester, et al. “Devoted Fans Release More Cortisol When Watching Live Soccer Matches.” Stress and Health 36, no. 2 (2020): 220–227.

University of Oxford. “Hardcore Football Fans Experience Intense Levels of Physical Stress during Matches.” Diakses Juli 2026.

Cleveland Clinic. “Raynaud’s Syndrome.” Diakses Juli 2026.

Herborn, Katherine A., et al. “Skin Temperature Reveals the Intensity of Acute Stress.” Physiology & Behavior 152 (2015): 225–230.

Dhabhar, Firdaus S. “The Short-Term Stress Response—Mother Nature’s Mechanism for Enhancing Protection and Performance under Conditions of Threat, Challenge, and Opportunity.” Frontiers in Neuroendocrinology 49 (2018): 175–192.

Curated For You

Editorial Team

Related Article