Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kurang Tidur Sebelum Mudik Bisa Berbahaya, Ini Alasannya
ilustrasi mudik dengan kendaraan pribadi (pexels.com/August de Richelieu)
  • Kurang tidur menurunkan konsentrasi dan memperlambat reaksi, yang meningkatkan risiko kecelakaan saat berkendara jarak jauh.

  • Kelelahan akibat kurang tidur bisa menyamai efek alkohol terhadap kemampuan mengemudi.

  • Tidur cukup membantu menjaga fokus, daya tahan tubuh, dan kestabilan emosi selama perjalanan mudik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mudik identik dengan perjalanan panjang, jalanan macet, dan jadwal keberangkatan yang tak menentu. Banyak orang begadang demi mengejar waktu keberangkatan, menyiapkan barang, atau menghindari kemacetan. Akibatnya, sebagian pemudik memulai perjalanan saat kondisi tubuh belum benar-benar siap.

Padahal, kondisi tubuh sebelum memulai perjalanan berperan besar terhadap keselamatan. Salah satu faktor yang paling sering diremehkan adalah kualitas dan durasi tidur sebelum berangkat mudik. Kurang tidur bukan cuma membuat tubuh terasa lelah, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan otak untuk tetap fokus di perjalanan.

Bagi pengemudi maupun penumpang, tidur cukup adalah bagian penting dari persiapan mudik. Sudah terbukti bahwa kelelahan dan kurang tidur berkontribusi terhadap kecelakaan lalu lintas, terutama pada perjalanan jarak jauh.

1. Kurang tidur mengganggu konsentrasi dan reaksi

Saat kamu kurang tidur, otak tidak memiliki waktu yang memadai untuk memulihkan fungsi kognitifnya. Ini bisa berdampak langsung pada konsentrasi, kemampuan mengambil keputusan, dan kecepatan reaksi.

Sebuah penelitian menemukan pengemudi yang tidur kurang dari 5 jam dalam 24 jam terakhir memiliki risiko kecelakaan hampir lima kali lebih tinggi dibanding mereka yang tidur cukup. Risiko itu meningkat drastis karena otak menjadi lebih sulit mempertahankan fokus saat berkendara dalam waktu lama.

Selain itu, kurang tidur juga membuat seseorang lebih mudah mengalami microsleep, yaitu kondisi tertidur sangat singkat selama beberapa detik tanpa disadari. Dalam konteks berkendara, beberapa detik ini dapat berarti kendaraan melaju puluhan meter tanpa kendali.

2. Dampaknya bisa menyerupai efek alkohol

ilustrasi mudik naik motor (ANTARA FOTO/ Raisan Al Farisi/wsj)

Kurang tidur tidak cuma bikin badan capek, tetapi juga menurunkan kemampuan otak dengan cara yang mirip seperti efek alkohol.

Menurut sebuah penelitian, tidak tidur selama 17–19 jam dapat menghasilkan gangguan kognitif yang setara dengan kadar alkohol dalam darah sekitar 0,05 persen.

Artinya, orang yang begadang sebelum berkendara dapat mengalami penurunan kemampuan yang mirip dengan orang yang berada di bawah pengaruh alkohol, meskipun mereka tidak minum minuman beralkohol sama sekali.

Efek ini mencakup beberapa hal penting saat berkendara, seperti:

  • Menurunnya koordinasi motorik.

  • Reaksi yang lebih lambat terhadap situasi darurat.

  • Meningkatnya kesalahan dalam mengambil keputusan.

Dalam perjalanan mudik yang sering kali berlangsung berjam-jam, kondisi tersebut bisa menjadi faktor risiko serius.

3. Tidur membantu tubuh mengelola kelelahan perjalanan

Perjalanan mudik tidak hanya menguji konsentrasi, tetapi juga ketahanan fisik. Duduk lama di kendaraan, perubahan waktu makan, serta kondisi jalanan yang macet dapat membuat tubuh cepat lelah.

Tidur cukup sebelum berangkat membantu tubuh memulihkan energi melalui proses biologis penting, seperti regulasi hormon stres, pemulihan otot, serta konsolidasi memori di otak. Proses ini terjadi selama fase tidur dalam, yang berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh tetap optimal.

Orang dewasa umumnya butuh 7–9 jam tidur per malam untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Kurang dari durasi tersebut dapat menyebabkan penurunan kewaspadaan dan peningkatan rasa kantuk di siang hari.

4. Tidur cukup membantu menjaga emosi selama perjalanan

ilustrasi suasana mudik di jalan raya Puncak Bogor (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

Saat mudik, banyak situasi yang dapat memicu stres, seperti kemacetan panjang, jadwal perjalanan yang molor, atau kondisi jalan yang tidak terduga. Kurang tidur bisa bikin kamu lebih mudah merasa marah, frustrasi, atau tidak sabar.

Menurut penelitian, kurang tidur dapat meningkatkan aktivitas amigdala, bagian otak yang berperan dalam respons emosional. Akibatnya, seseorang menjadi lebih reaktif terhadap situasi yang sebenarnya masih bisa ditoleransi.

Dalam perjalanan panjang, kestabilan emosi sangat penting, terutama bagi pengemudi. Kemampuan tetap tenang membantu seseorang membuat keputusan yang lebih rasional dan mengurangi potensi konflik di jalan.

5. Pastikan tidur kamu berkualitas sebelum mudik

Tidur cukup sebelum mudik tidak selalu mudah dilakukan, terutama ketika banyak hal harus dipersiapkan. Namun, beberapa langkah sederhana dapat membantu meningkatkan kualitas tidur sebelum perjalanan:

  • Usahakan tidur 7–9 jam pada malam sebelum berangkat.

  • Hindari kafein dan layar gadget setidaknya satu jam sebelum tidur.

  • Selesaikan persiapan mudik lebih awal agar tidak perlu begadang.

  • Jika perjalanan sangat panjang, rencanakan waktu istirahat setiap 2 jam.

Bagi pengemudi, istirahat yang cukup sama pentingnya dengan memastikan kendaraan dalam kondisi prima.

Perjalanan mudik menuntut kesiapan fisik dan mental. Di tengah berbagai persiapan seperti tiket, kendaraan, dan barang bawaan, tidur cukup sering diabaikan. Padahal, tidur yang cukup sebelum berangkat dapat membantu menjaga fokus, mempercepat reaksi, serta menjaga kestabilan emosi selama perjalanan.

Dengan memulai mudik dalam kondisi tubuh yang segar dan beristirahat dengan baik, perjalanan panjang menuju kampung halaman dapat menjadi lebih aman, nyaman, dan menyenangkan.

Referensi

AAA Foundation for Traffic Safety. "Acute Sleep Deprivation and Risk of Motor Vehicle Crash Involvement." Washington, DC: AAA Foundation. Diakses Maret 2026.

National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). "Sleep Deprivation and Deficiency." Diakses Maret 2026.

A M Williamson and Anne-Marie Feyer, “Moderate Sleep Deprivation Produces Impairments in Cognitive and Motor Performance Equivalent to Legally Prescribed Levels of Alcohol Intoxication,” Occupational and Environmental Medicine 57, no. 10 (October 1, 2000): 649–55, https://doi.org/10.1136/oem.57.10.649.

Nathaniel F. Watson et al., “Recommended Amount of Sleep for a Healthy Adult: A Joint Consensus Statement of the American Academy of Sleep Medicine and Sleep Research Society,” SLEEP 38, no. 6 (May 29, 2015): 843–44, https://doi.org/10.5665/sleep.4716.

William D.S. Killgore, “Effects of Sleep Deprivation on Cognition,” Progress in Brain Research 185 (January 1, 2010): 105–29, https://doi.org/10.1016/b978-0-444-53702-7.00007-5.

Editorial Team