Pilihan operasi untuk pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) relatif terbatas beberapa tahun lalu. Kini, prosedurnya didukung berbagai teknologi terkini dengan sayatan minimal, pemulihan lebih cepat, hingga mempertahankan fungsi seksual.
Sekilas, pilihan tersebut menjadi solusi bagi banyak pria dengan BPH. Akan tetapi, menurut Dr. Edwin Jonathan Aslim, BSc (Lon), MBBS (Lon), MRCS (Edin), FAMS (Urology), Consultant, dari Departmen Urologi Singapore General Hospital (SGH), setiap prosedur memiliki beberapa aspek yang perlu dipahami sebelum memutuskan terapi.
"Terapi minimal invasif pada umumnya mengutamakan penjagaan fungsi seksual dan ejakulasi. Namun, pasien perlu paham bahwa setiap pilihan punya konsekuensinya," ujar Dr. Edwin dalam presentasinya kepada awal media di Singapura, Rabu (22/7/2026).
