Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi: Manfaat Jus Tomat-Kedelai untuk Mengurangi Inflamasi
ilustrasi jus tomat-kedelai (pexels.com/Charlotte May)
  • Penelitian dari The Ohio State University menemukan bahwa konsumsi jus tomat-kedelai selama empat minggu menurunkan tiga penanda inflamasi utama pada orang dewasa obesitas.
  • Kombinasi likopen dari tomat dan isoflavon dari kedelai diyakini bekerja bersama memengaruhi jalur biologis yang terkait dengan proses inflamasi dalam tubuh.
  • Meskipun hasilnya menjanjikan, studi ini melibatkan hanya 12 peserta sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan manfaat jus tomat-kedelai bagi kelompok masyarakat yang lebih luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Penelitian dari The Ohio State University menunjukkan potensi positif dari kombinasi sederhana tomat dan kedelai dalam membantu mengendalikan peradangan. Melalui uji pada peserta dengan obesitas, jus tomat-kedelai terbukti menurunkan beberapa penanda inflamasi secara signifikan. Temuan ini memperlihatkan bahwa bahan pangan sehari-hari dapat berperan nyata dalam mendukung proses biologis tubuh yang sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Inflamasi atau peradangan merupakan bagian penting dari sistem pertahanan tubuh. Saat mengalami cedera atau infeksi, tubuh akan memicu respons inflamasi untuk membantu proses penyembuhan.

Masalah muncul ketika peradangan terus berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi yang dikenal sebagai inflamasi kronis ini dikaitkan dengan berbagai penyakit, mulai dari diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga beberapa jenis kanker.

Karena itu, para ilmuwan terus mencari cara yang aman dan mudah diterapkan untuk membantu mengendalikan inflamasi. Salah satu pendekatan yang sedang banyak diteliti adalah penggunaan makanan (atau minuman). Penelitian terbaru dari The Ohio State University, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kombinasi sederhana tomat dan kedelai mungkin memiliki potensi tersebut.

Potensi hasil menjanjikan dari tomat dan kedelai

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Nutrition & Food Research ini, peneliti menguji jus tomat-kedelai yang diperkaya dua senyawa bioaktif utama, yaitu likopen dan isoflavon kedelai.

Likopen merupakan pigmen alami yang memberi warna merah pada tomat. Senyawa ini termasuk kelompok karotenoid yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan. Sementara itu, isoflavon adalah senyawa flavonoid pada kedelai yang memiliki struktur mirip hormon estrogen dan telah lama diteliti karena manfaat kesehatannya.

Sebanyak 12 orang dewasa sehat dengan obesitas diminta mengonsumsi dua kaleng kecil jus tomat-kedelai setiap hari selama empat minggu. Setelah masa jeda, peserta kemudian mengonsumsi jus tomat kontrol yang rendah karotenoid selama empat minggu berikutnya.

Sebelum dan sesudah setiap periode intervensi, peneliti mengambil sampel darah untuk mengukur kadar sitokin, yaitu protein yang berperan dalam proses inflamasi.

Hasilnya, hanya jus tomat-kedelai yang mampu menurunkan secara signifikan tiga penanda inflamasi, yaitu interleukin-5 (IL-5), interleukin-12p70 (IL-12p70), dan granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF).

Para peneliti juga menemukan kecenderungan penurunan pada tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), meskipun hasil ini belum mencapai signifikansi statistik.

Menurut penulis utama studi, Jessica Cooperstone, tujuan penelitian ini bukan cuma menyebut suatu makanan bersifat antiinflamasi, tetapi benar-benar menguji apakah makanan tersebut dapat memengaruhi proses biologis yang terkait dengan inflamasi pada manusia.

Sumber efek potensial jus tomat-kedelai

ilustrasi jus tomat-kedelai (magnific.com/azerbaijan_stockers)

Para peneliti menduga manfaat tersebut berasal dari kombinasi berbagai senyawa aktif dalam tomat dan kedelai, bukan hanya satu zat tunggal.

Analisis urine peserta menunjukkan adanya perubahan profil metabolit setelah mengonsumsi jus tomat-kedelai. Metabolit adalah produk dari berbagai reaksi biokimia dalam tubuh yang dapat memberikan gambaran tentang bagaimana tubuh merespons makanan tertentu.

Menariknya, menurut para peneliti, beberapa perubahan memang muncul pada kedua jenis jus tomat. Namun, perubahan yang berkaitan dengan metabolisme isoflavon kedelai terlihat lebih menonjol pada kelompok jus tomat-kedelai.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kombinasi likopen dan isoflavon dapat memengaruhi jalur biologis yang berkaitan dengan inflamasi.

Sebelumnya, sejumlah penelitian juga telah mengaitkan konsumsi produk tomat maupun kedelai dengan risiko yang lebih rendah terhadap beberapa penyakit kronis. Bahkan, riset terdahulu menemukan konsumsi jus tomat-kedelai berhubungan dengan penurunan kadar prostate-specific antigen (PSA) pada sebagian pria dengan kanker prostat.

Menjanjikan, tetapi masih butuh penelitian lebih lanjut

Walaupun hasilnya tampak menjanjikan, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, jumlah peserta dalam penelitian ini sangat kecil, yaitu hanya 12 orang.

Kedua, seluruh peserta merupakan orang dewasa sehat dengan obesitas, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk semua kelompok masyarakat.

Karena itu, studi lanjutan masih diperlukan.

Makanan sehari-hari mungkin memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kesehatan daripada yang selama ini dibayangkan. Namun, tetapi saja tidak ada satu makanan atau minuman mujarab untuk mengatasi inflamasi.

Untuk membantu mengendalikan peradangan kronis, para ahli tetap merekomendasikan pendekatan yang lebih menyeluruh, seperti memperbanyak konsumsi buah dan sayur, menjaga berat badan sehat, rutin berolahraga, tidur cukup, serta tidak merokok.

Jus tomat-kedelai mungkin dapat menjadi salah satu bagian dari pola makan sehat. Namun, manfaat terbaik tetap akan diperoleh ketika dikombinasikan dengan gaya hidup sehat.

Referensi

The Ohio State University. "Tomato-soy juice lowers inflammation in adults with obesity." Diakses Juni 2026.

Maria J. Sholola et al., “Tomato‐Soy Juice Reduces Inflammation and Modulates the Urinary Metabolome in Adults With Obesity,” Molecular Nutrition & Food Research 70, no. 5 (March 1, 2026): e70420, https://doi.org/10.1002/mnfr.70420.

Editorial Team

Related Article