- Ruang kelas: vas, wadah tanaman, dispenser, dan tempat yang dapat menampung air.
- Toilet: bak, ember, saluran air, dan area lembap.
- Kantin: wadah air, tempat pembuangan sampah, serta penampung di bawah peralatan.
- Halaman: pot, ban, botol, talang, tempat sampah terbuka, serta barang bekas.
- Ruang tertutup dan gelap: area tempat nyamuk dewasa beristirahat.
DBD Paling Tinggi pada Usia 5–14 Tahun, Apa Penyebabnya?

SKI 2023 mencatat prevalensi diagnosis DBD tertinggi pada kelompok usia 5–14 tahun, yaitu 0,80 persen, tetapi angka ini tidak berarti usia tersebut secara biologis selalu paling rentan.
Paparan dengue sudah sangat tinggi sejak masa kanak-kanak di Indonesia. Aktivitas Aedes pada siang hari juga bertepatan dengan waktu anak berada di sekolah.
Pencegahan tidak cukup dilakukan di rumah. Sekolah perlu ikut memeriksa tempat berkembang biak nyamuk dan melindungi anak dari gigitan pada siang hari.
Pagi hari anak berangkat sekolah, belajar di kelas, makan di kantin, hingga mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Pada waktu yang sama, nyamuk Aedes aegypti, yang merupakan vektor utama virus dengue, juga aktif mencari makan.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan pola yang perlu diperhatikan. Prevalensi demam berdarah atau DBD berdasarkan riwayat diagnosis dalam satu tahun terakhir mencapai 0,80 persen pada anak usia 5–14 tahun, tertinggi dibanding kelompok usia lainnya.
Angkanya 0,70 persen pada usia 1–4 tahun, 0,73 persen pada usia 15–24 tahun, dan 0,64 persen pada seluruh penduduk.
Kelompok dengan pekerjaan utama “sekolah” juga mencatat prevalensi 0,80 persen.
Temuan tersebut sejalan dengan tinjauan sistematis epidemiologi dengue di Indonesia. Berdasarkan data 2017–2020 yang ditelaah, kasus dengue secara umum paling tinggi pada kelompok usia 5–14 tahun.
Ada beberapa kemungkinan alasan kenapa anak usia sekolah lebih banyak terdiagnosis DBD.
Table of Content
1. Anak-anak sudah banyak terpapar dengue sejak usia dini
Dengue merupakan penyakit endemik di Indonesia sehingga paparan virus dapat terjadi sejak masa kanak-kanak.
Menurut sebuah penelitian nasional terhadap 3.194 anak usia 1–18 tahun yang tinggal di wilayah perkotaan, antibodi dengue ditemukan pada sekitar 65,4 persen anak usia 5–9 tahun dan 83,1 persen anak usia 10–14 tahun. Pada usia 1–4 tahun angkanya 33,8 persen.
Antibodi tersebut menunjukkan anak pernah terinfeksi sebelumnya, termasuk infeksi yang mungkin tidak bergejala.
Penelitian yang sama memperkirakan sekitar 13 persen anak yang sebelumnya belum pernah terinfeksi mengalami infeksi dengue pertama setiap tahun.
Penelitian lanjutan menemukan intensitas penularan berbeda cukup tajam antardaerah. Force of infection (perkiraan laju orang yang belum pernah terinfeksi kemudian mengalami infeksi) bervariasi dari 4,3 hingga 30 persen per tahun di 30 wilayah perkotaan yang diteliti. Kepadatan penduduk juga berhubungan dengan kemungkinan memiliki antibodi dengue.
Artinya, memasuki usia sekolah, sebagian besar anak di daerah dengan penularan tinggi sudah mempunyai riwayat paparan yang cukup panjang.
2. Jam sekolah bertepatan dengan waktu nyamuk Aedes aktif
Berbeda dengan nyamuk malaria yang terutama menggigit malam hari, nyamuk Aedes yang nyamuk penular DBD aktif pada siang hari, dengan aktivitas yang sering meningkat pada pagi dan sore menjelang malam.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), karena itu, memasukkan sekolah, selain rumah dan tempat kerja, sebagai lokasi yang perlu menjadi sasaran pengendalian vektor.
Anak usia 5–14 tahun menghabiskan sebagian besar waktu siangnya di sekolah. Namun, tidak berarti kasus DBD pada anak pasti berasal dari sekolah.
Bukti dari negara endemik lain menunjukkan bahwa penularan memang dapat terjadi di lingkungan tersebut. Penelitian terhadap 1.655 siswa di Thailand menemukan 57 infeksi dengue baru selama masa penelitian. Sebanyak 40 persen infeksi tersebut terkonsentrasi pada hanya 6 dari 88 ruang kelas yang diteliti. A. aegypti juga ditemukan di ruang kelas.
Penelitian di sekolah-sekolah Meksiko bahkan menemukan A. aegypti betina yang membawa materi genetik virus dengue di kelas, kantor, dan kamar mandi.
Rumah dan lingkungan sekitar tetap merupakan habitat penting Aedes. Namun, sekolah merupakan salah satu tempat terjadinya kontak manusia dan nyamuk yang tidak boleh terlewat dalam pencegahan.
3. Infeksi kedua bisa lebih berat

Ada empat serotipe virus dengue, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4.
Seseorang yang sudah terinfeksi satu serotipe mendapatkan perlindungan jangka panjang terhadap serotipe tersebut, tetapi perlindungan terhadap tiga serotipe lainnya tidak permanen. Kalau kemudian seseorang terinfeksi serotipe yang berbeda, risiko mengalami DBD berat dapat meningkat.
Keempat serotipe telah ditemukan beredar luas di Indonesia. Penelitian terhadap anak perkotaan Indonesia menemukan profil antibodi terhadap lebih dari satu serotipe pada 48,2 persen kelompok usia 5–9 tahun dan 63,6 persen kelompok 10–14 tahun dalam subsampel yang dianalisis.
Dengan bertambahnya usia, kesempatan mengalami lebih dari satu infeksi ikut bertambah. Infeksi kedua tidak selalu lebih berat, tetapi riwayat paparan sebelumnya dapat meningkatkan risiko penyakit yang lebih serius dan akhirnya membutuhkan layanan medis.
4. Anak tidak selalu paling rentan
SKI 2023 tidak melakukan tes dengue terhadap seluruh responden. Angka tersebut berasal dari wawancara mengenai riwayat pernah didiagnosis DBD dalam satu tahun terakhir. Jadi, data yang didapat mencerminkan penyakit yang dikenali dan didiagnosis, bukan semua infeksi virus dengue yang terjadi di masyarakat.
Sebagian besar infeksi dengue memang tidak bergejala atau hanya menimbulkan gejala ringan sehingga tidak semuanya terdiagnosis. Angka kasus yang dilaporkan kemungkinan lebih rendah daripada jumlah infeksi sebenarnya.
Pola umur dengue juga dapat berubah dari waktu ke waktu. Analisis surveilans Indonesia selama 1968–2013, misalnya, menemukan bahwa insiden DBD tertinggi berada pada usia 5–14 tahun hingga 1998, kemudian bergeser ke kelompok usia yang lebih tua.
Jadi perlu ditekankan bahwa menurut data SKI 2023, kelompok usia 5–14 tahun mempunyai prevalensi diagnosis DBD tertinggi, tetapi bukan secara permanen merupakan kelompok yang paling mudah terinfeksi.
5. Pencegahan DBD pada anak perlu dilakukan di rumah dan sekolah
Dengan lebih dari 257 ribu kasus dan 1.400 kematian akibat DBD yang dilaporkan di Indonesia sepanjang 2024, perlindungan anak tidak cukup mengandalkan tindakan ketika sudah ada teman sekolah atau tetangga yang sakit.
Di rumah, orang tua dapat menjalankan pemeriksaan sarang nyamuk setidaknya seminggu sekali. Bak mandi dan wadah air perlu dikuras sekaligus disikat, tempat penyimpanan air ditutup rapat, serta wadah kecil yang dapat menampung air dibuang atau dibalik.
Sekolah dapat melakukan langkah serupa dengan membagi pemeriksaan berdasarkan area, seperti:
WHO menganjurkan pengendalian tempat berkembang biak dan perlindungan dari gigitan dilakukan pula di sekolah karena Aedes aktif pada siang hari.
Anak dapat menggunakan repelan yang mengandung DEET, picaridin/icaridin, atau IR3535 sesuai petunjuk produk, serta pakaian yang menutupi kulit jika memungkinkan.
Studi mengenai program DBD di sekolah juga menemukan bahwa melibatkan siswa secara langsung dalam kegiatan pengendalian nyamuk dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan, sekaligus membawa pesan tersebut kembali ke rumah.
Terakhir, pencegahan perlu berjalan bersama deteksi dini. Jika anak mengalami demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri tubuh, mual, muntah, atau ruam, pantau kondisinya dan cari pemeriksaan medis jika curiga DBD.
Nyeri perut berat, muntah terus-menerus, perdarahan, sangat lemas atau gelisah, kulit pucat dan dingin, serta napas cepat merupakan tanda bahaya yang butuh pertolongan segera. Tanda tersebut sering muncul justru ketika demam mulai turun.
Referensi
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. "Survei Kesehatan Indonesia 2023 dalam Angka." Diakses Agustus 2026.
Díaz-González, Esteban E., Rogelio Danis-Lozano, dan Gonzalo Peñaloza. “Schools as Centers for Health Educational Initiatives, Health Behavior Research and Risk Behavior for Dengue Infection in School Children and Community Members: A Systematic Review.” Health Education Research 35, no. 5 (2020): 376–95. https://doi.org/10.1093/her/cyaa019. PubMed
Karyanti, Mulya Rahma, Cuno S. P. M. Uiterwaal, Rita Kusriastuti, Sri Rezeki Hadinegoro, Maroeska M. Rovers, Hans Heesterbeek, Arno W. Hoes, dan Patricia Bruijning-Verhagen. “The Changing Incidence of Dengue Haemorrhagic Fever in Indonesia: A 45-Year Registry-Based Analysis.” BMC Infectious Diseases 14 (2014): 412. https://doi.org/10.1186/1471-2334-14-412. BMC Infectious Diseases
Prayitno, Ari, Anne-Frieda Taurel, Joshua Nealon, Hindra Irawan Satari, Mulya Rahma Karyanti, Rini Sekartini, Soedjatmiko, et al. “Dengue Seroprevalence and Force of Primary Infection in a Representative Population of Urban Dwelling Indonesian Children.” PLOS Neglected Tropical Diseases 11, no. 6 (2017): e0005621. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0005621. PLOS Neglected Tropical Diseases
Ratanawong, Pitcha, Pattamaporn Kittayapong, Phanthip Olanratmanee, Annelies Wilder-Smith, Peter Byass, Yesim Tozan, Peter Dambach, Carlos Alberto Montenegro Quiñonez, dan Valérie R. Louis. “Spatial Variations in Dengue Transmission in Schools in Thailand.” PLOS ONE 11, no. 9 (2016): e0161895. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0161895. PLOS ONE
Sasmono, R. Tedjo, Anne-Frieda Taurel, Ari Prayitno, Hermin Sitompul, Benediktus Yohan, Rahma F. Hayati, Alain Bouckenooghe, Sri Rezeki Hadinegoro, dan Joshua Nealon. “Dengue Virus Serotype Distribution Based on Serological Evidence in Pediatric Urban Population in Indonesia.” PLOS Neglected Tropical Diseases 12, no. 6 (2018): e0006616. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0006616. PLOS Neglected Tropical Diseases
Sasmono, R. Tedjo, Elaine Gallagher, Fauchil Wardati, Carolina Halim, Welly Welly, Randee Kastner, Jing Shen, dan Sri Rezeki Hadinegoro. “Understanding the Epidemiological Trends and Economic Impact of Dengue in Indonesia: A Systematic Literature Review.” IJID Regions 19 (2026): 100860. https://doi.org/10.1016/j.ijregi.2026.100860. PubMed
Tam, Clarence C., Megan O’Driscoll, Anne-Frieda Taurel, Joshua Nealon, dan Sri Rezeki Hadinegoro. “Geographic Variation in Dengue Seroprevalence and Force of Infection in the Urban Paediatric Population of Indonesia.” PLOS Neglected Tropical Diseases 12, no. 11 (2018): e0006932. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0006932. PubMed
World Health Organization. “Dengue.” Diakses Agustus 2026.
World Health Organization Indonesia. “Shaping Indonesia’s Path towards Zero Dengue Deaths by 2030.” Diakses Agustus 2026.














![[QUIZ] Kami Tahu Jenis Plank yang Paling Cocok Buat Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260514/1000000974_527de4ae-f27a-4997-8ca1-b3385c1cef0d.jpg)






