Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bisakah HIV Terkendali Tanpa Antiretroviral (ARV)?

Bisakah HIV Terkendali Tanpa Antiretroviral (ARV)?
ilustrasi orang dengan HIV yang sedang menjalani aktivitas harian (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Kurang dari 1 persen orang dengan HIV diperkirakan mampu menekan virus secara alami tanpa terapi antiretroviral. Mereka disebut elite controller.

  • Elite controller umumnya belum sembuh. HIV masih dapat bersembunyi di dalam sel, memicu peradangan, atau kembali meningkat suatu saat.

  • Viral load tidak terdeteksi saat minum ARV bukan alasan menghentikan pengobatan. Penghentian hanya boleh dilakukan dalam penelitian dengan pengawasan medis ketat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada orang dengan HIV (ODHIV), hasil pemeriksaan viral load yang tidak terdeteksi biasanya diwarnai kelegaan. Artinya obat bekerja, jumlah virus ditekan, dan sistem kekebalan menguat.

Namun, ada kelompok orang yang mencapai kondisi serupa tanpa rutin mengonsumsi terapi antiretroviral (ARV). Tubuh mereka seolah mampu menahan HIV dengan sendirinya selama bertahun-tahun.

Fenomena ini nyata, tetapi langka. Orang-orang ini dikenal sebagai elite controller. Keberadaan mereka memberi harapan besar bagi penelitian penyembuhan HIV, tetapi bukan berarti ODHIV pada umumnya dapat mencoba hidup tanpa pengobatan.

1. Elite controller bisa menekan HIV tanpa ARV

Elite controller adalah ODHIV yang mampu mempertahankan viral load di bawah batas deteksi pemeriksaan standar selama bertahun-tahun tanpa ARV. Sel CD4 mereka biasanya juga tetap berada pada tingkat yang relatif baik.

Definisinya sedikit berbeda antarpenelitian. Ada yang mensyaratkan viral load kurang dari 50 kopi per mililiter selama setidaknya satu tahun, sedangkan penelitian lain menggunakan periode yang lebih panjang. Secara umum, kelompok ini diperkirakan mencakup kurang dari 1 persen ODHIV. Sebuah penelitian bahkan menyebut pengendalian bebas obat yang bertahan lama terjadi pada kurang dari 0,5 persen orang yang terinfeksi.

Ada juga kelompok yang disebut viremic controller. Mereka dapat menjaga viral load tetap rendah tanpa obat, tetapi virusnya masih terdeteksi. Kondisi ini berbeda dengan long-term non-progressor, yaitu orang yang mempertahankan jumlah CD4 dalam waktu lama meskipun viral load belum tentu rendah.

Dari istilah-istilah tersebut, kita belajar bahwa perjalanan HIV tidak selalu sama pada setiap orang. Namun, tidak ada gejala fisik yang dapat menunjukkan bahwa seseorang adalah elite controller. Status ini hanya dapat dikenali melalui rangkaian pemeriksaan viral load dan CD4 dalam jangka panjang sebelum menggunakan ARV.

2. Sistem imunnya mampu menekan virus lebih kuat

Pengendalian HIV pada elite controller kemungkinan muncul dari perpaduan faktor genetik, karakteristik virus, respons kekebalan, dan lokasi virus bersembunyi di dalam tubuh.

Sebagian elite controller memiliki variasi gen tertentu, termasuk beberapa tipe HLA, yang membantu sel T CD8 mengenali dan membunuh sel terinfeksi secara lebih efektif. Respons sel T mereka tidak hanya kuat, tetapi juga mampu menyerang bagian HIV yang sulit berubah tanpa mengurangi kemampuan virus untuk bertahan hidup.

Penelitian juga menemukan perbedaan pada reservoir HIV, yaitu kumpulan sel yang menyimpan materi genetik virus. Pada sebagian elite controller, virus yang masih utuh lebih sering terselip di wilayah kromosom yang tidak aktif, membuat materi genetik HIV menjadi lebih sulit digunakan untuk membuat virus baru.

Akan tetapi, mekanismenya beragam. Faktor genetik pada satu orang belum tentu ada pada elite controller lainnya. Karena itulah para ilmuwan belum dapat mengubah kemampuan alami tersebut menjadi terapi yang dapat diberikan secara luas.

3. Terkendali tidak sama dengan sembuh

Ilustrasi orang dengan HIV yang memiliki viral load terkendali sebagai gambaran pengobatan dan pemantauan kesehatan.
ilustrasi orang dengan HIV yang viral load-nya terkendali (pexels.com/Ryanniel Masucol)

Viral load yang tidak terdeteksi tidak selalu berarti HIV telah hilang dari tubuh. Pada kebanyakan elite controller, virus yang mampu bereplikasi masih dapat ditemukan menggunakan pemeriksaan yang jauh lebih sensitif.

HIV dapat tetap bersembunyi di reservoir, terutama pada sel T CD4. Aktivitas virus yang sangat rendah juga masih mungkin terjadi. Pada sebagian orang, pengendalian alami akhirnya melemah, bisa terlihat dari peningkatan viral load, jumlah CD4 menurun, atau muncul komplikasi terkait HIV.

Ada pula post-treatment controller, yaitu orang yang mempertahankan viral load rendah setelah sebelumnya menggunakan ARV lalu menghentikannya.

Dalam studi VISCONTI, tim peneliti mendeskripsikan 14 orang yang memulai ARV sangat awal setelah tertular dan mampu mengendalikan virus selama beberapa tahun setelah terapi dihentikan. Reservoir virus mereka sangat kecil, kemungkinan karena pengobatan dimulai ketika infeksi masih berada pada tahap awal. Namun, kondisi ini juga langka. Pada mayoritas orang, viral load kembali meningkat tidak lama setelah ARV dihentikan.

4. Ada laporan sembuh secara alami, tetapi buktinya sangat terbatas

Ada beberapa kasus luar biasa.

Pada tahun 2020, tim peneliti melaporkan seorang elite controller yang dijuluki "pasien San Francisco". Mereka tidak menemukan HIV utuh setelah menganalisis lebih dari 1,5 miliar sel darah.

Kasus lain, "pasien Esperanza" dari Argentina dilaporkan memiliki viral load yang tidak terdeteksi tanpa ARV selama lebih dari delapan tahun. Para peneliti tidak menemukan provirus HIV yang utuh setelah memeriksa lebih dari satu miliar sel darah dan ratusan juta sel plasenta.

Kedua kasus tersebut disebut sebagai kemungkinan sterilizing cure, yakni kondisi ketika seluruh HIV yang mampu berkembang biak telah tersingkir.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa pembersihan alami HIV mungkin dapat terjadi dalam keadaan yang sangat ekstrem. Akan tetapi, itu belum dapat dijadikan prosedur diagnosis, target yang dapat diprediksi, maupun alasan menghentikan pengobatan.

5. Elite controller tetap dianjurkan mengonsumsi ARV

Mengendalikan virus secara alami tidak selalu berarti tubuh bebas dari dampak HIV. Sejumlah elite controller tetap mengalami aktivasi imun dan peradangan kronis meskipun viral load tidak terdeteksi. Pada sebagian orang, kondisi ini dikhawatirkan berkontribusi terhadap gangguan kardiovaskular dan penyakit lain di luar AIDS.

Bukti mengenai manfaat ARV untuk kelompok ini memang belum seragam. Sebuah penelitian kohort melibatkan 1.007 HIV controller, termasuk 60 elite controller. Penelitian tersebut tidak menemukan penurunan kejadian penyakit berat non-AIDS setelah kelompok controller memulai ARV. Namun, penelitian ini bersifat observasional, jumlah elite controller-nya kecil, dan tidak dapat memastikan keputusan terbaik bagi setiap individu.

Para ahli tetap merekomendasikan ARV bagi semua elite controller. Rekomendasinya lebih kuat jika terdapat penurunan CD4, viral load yang sesekali terdeteksi, komplikasi terkait HIV, penyakit jantung, kanker, koinfeksi hepatitis B atau C, maupun kehamilan. Apabila terapi ditunda setelah diskusi bersama dokter, viral load dan CD4 harus dipantau secara ketat.

Di Indonesia, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV menetapkan bahwa ARV diberikan kepada semua orang dengan HIV tanpa bergantung pada stadium klinis atau jumlah CD4. Pengobatan dini membantu mencegah penyakit berat, mempertahankan kekebalan, memperpanjang harapan hidup, dan mengurangi penularan.

Karena itu, seseorang yang mendapatkan hasil viral load tidak terdeteksi saat menggunakan ARV tidak boleh menghentikan obat untuk menguji apakah tubuhnya mampu mengendalikan HIV. Penghentian dapat menyebabkan virus meningkat, merusak sel CD4, memicu resistansi/kekebalan, dan membuka kembali risiko penularan.

Konsep tidak terdeteksi berarti tidak menularkan atau U=U juga dibuktikan pada orang yang mempertahankan viral load di bawah 200 kopi per mililiter dengan ARV. Status elite controller tidak boleh otomatis dianggap memberikan jaminan U=U yang sama tanpa evaluasi dokter dan pemeriksaan viral load berulang.

Dari elite controller, ada harapan bahwa tubuh manusia dapat menahan HIV tanpa obat. Para ilmuwan mempelajarinya untuk mengembangkan vaksin, imunoterapi, dan remisi jangka panjang. Namun, bagi ODHIV hari ini, ARV tetap merupakan cara paling aman dan terbukti untuk menjaga kesehatan.

Referensi

World Health Organization, “HIV and AIDS,” diakses Juli 2026.

Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents, “Initiation of Antiretroviral Therapy,” dalam Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Adults and Adolescents with HIV, diakses Juli 2026.

Chenyang Jiang et al., “Distinct Viral Reservoirs in Individuals with Spontaneous Control of HIV-1,” Nature 585 (2020): 261–67, https://doi.org/10.1038/s41586-020-2651-8.

Jiang et al., “Distinct Viral Reservoirs,” 261–67.

Asier Sáez-Cirión et al., “Post-Treatment HIV-1 Controllers with a Long-Term Virological Remission after the Interruption of Early Initiated Antiretroviral Therapy: ANRS VISCONTI Study,” PLOS Pathogens 9, no. 3 (2013): e1003211, https://doi.org/10.1371/journal.ppat.1003211.

Jiang et al., “Distinct Viral Reservoirs,” 261–67; Gabriela Turk et al., “A Possible Sterilizing Cure of HIV-1 Infection Without Stem Cell Transplantation,” Annals of Internal Medicine 175, no. 1 (2022): 95–100, https://doi.org/10.7326/L21-0297.

Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents, “Initiation of Antiretroviral Therapy”; A. L. Groenendijk et al., “Risk of Non–AIDS–Defining Events Is Lower in Antiretroviral Therapy–Naive HIV Controllers Than in Normal Progressors,” Clinical Infectious Diseases 80, no. 3 (2025): 585–93, https://doi.org/10.1093/cid/ciae440.

Kementerian Kesehatan RI, "Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/90/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV," 36–37, diakses Juli 2026.

Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents, “Initiation of Antiretroviral Therapy," diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More