Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berapa Kali Full Body Workout Sebaiknya Dilakukan? Ini Jawabannya

Berapa Kali Full Body Workout Sebaiknya Dilakukan? Ini Jawabannya
ilustrasi full body workout (pexels.com/Li Sun)
Intinya Sih
  • Full body workout umumnya ideal dilakukan dua hingga tiga kali seminggu untuk melatih seluruh otot sambil memberi jeda pemulihan satu hingga dua hari.
  • Pemula disarankan memulai dua atau tiga sesi mingguan, bukan setiap hari, agar tubuh beradaptasi, risiko cedera berkurang, dan kebiasaan latihan terbentuk konsisten.
  • Frekuensi perlu disesuaikan dengan intensitas, pengalaman, dan tujuan; hari istirahat serta pemulihan aktif penting karena adaptasi otot berlangsung setelah latihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Full body workout menjadi salah satu metode latihan yang paling sering direkomendasikan bagi pemula karena mampu melatih hampir seluruh kelompok otot dalam satu sesi. Namun, bukan berarti latihan ini bisa dilakukan setiap hari tanpa jeda. Sama seperti program latihan beban lainnya, tubuh tetap membutuhkan waktu untuk memulihkan otot setelah bekerja dengan intensitas tertentu agar dapat beradaptasi dan berkembang.

Frekuensi full body workout yang ideal sebenarnya bergantung pada pengalaman latihan, intensitas yang digunakan, hingga tujuan kebugaran masing-masing orang. Ada yang cukup berlatih dua kali seminggu, tetapi ada juga yang bisa melakukannya hingga empat kali. Lantas, berapa kali full body workout sebaiknya dilakukan agar hasilnya tetap optimal?

1. Intensitas 2 hingga 3 kali seminggu menjadi pilihan yang paling umum

ilustrasi  full body workout
ilustrasi full body workout (pexels.com/Miguel González)

Bagi sebagian besar orang, melakukan full body workout sebanyak dua hingga tiga kali dalam seminggu sudah cukup untuk meningkatkan kekuatan sekaligus membangun massa otot. Jadwal tersebut memberikan rangsangan yang konsisten pada seluruh kelompok otot tanpa membuat tubuh terus-menerus berada dalam kondisi lelah. Selain itu, frekuensi ini juga lebih mudah dijalankan oleh orang yang memiliki kesibukan bekerja maupun kuliah.

Jeda satu hingga dua hari di antara sesi latihan memberi kesempatan bagi otot untuk menjalani proses pemulihan. Selama masa tersebut, tubuh memperbaiki serat-serat otot yang mengalami kerusakan mikroskopis akibat latihan beban sehingga otot dapat beradaptasi menjadi lebih kuat. Karena alasan inilah banyak program latihan untuk pemula maupun tingkat menengah menggunakan pola latihan tiga kali seminggu. Frekuensi tersebut dinilai mampu menjaga keseimbangan antara latihan dan pemulihan.

2. Pemula sebaiknya tidak terburu-buru berlatih setiap hari

ilustrasi latihan di gym
ilustrasi latihan di gym (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Semangat yang tinggi sering membuat orang yang baru mulai gym ingin berlatih setiap hari. Padahal, tubuh yang belum terbiasa dengan latihan beban membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dibandingkan orang yang sudah berpengalaman. Memaksakan latihan tanpa jeda justru dapat menyebabkan tubuh terasa pegal berkepanjangan, performa menurun, bahkan meningkatkan risiko cedera apabila teknik latihan ikut memburuk.

Memulai dengan dua atau tiga sesi latihan setiap minggu biasanya sudah cukup untuk membangun kebiasaan berolahraga. Setelah tubuh mulai terbiasa dan proses pemulihan terasa lebih cepat, frekuensi latihan bisa ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan. Cara ini membantu tubuh beradaptasi tanpa memberikan beban yang berlebihan sejak awal. Konsistensi dalam jangka panjang jauh lebih penting daripada memaksakan latihan setiap hari.

3. Intensitas latihan ikut menentukan seberapa sering kamu bisa berlatih

ilustrasi latihan di gym
ilustrasi latihan di gym (pexels.com/ Andrea Piacquadio)

Frekuensi latihan tidak bisa dipisahkan dari seberapa berat sesi yang dijalani. Jika setiap latihan menggunakan beban tinggi, volume latihan yang besar, dan dilakukan hingga mendekati batas kemampuan, tubuh tentu memerlukan waktu pemulihan yang lebih panjang. Sebaliknya, latihan dengan intensitas sedang biasanya memungkinkan seseorang kembali berlatih lebih cepat karena tingkat kelelahan yang ditimbulkan tidak terlalu besar.

Itulah sebabnya dua orang yang sama-sama menjalani full body workout belum tentu memiliki jadwal latihan yang sama. Ada yang nyaman berlatih tiga kali seminggu, sementara yang lain masih mampu menjalankannya hingga empat kali karena mengatur intensitas setiap sesi. Daripada berpatokan pada jumlah hari latihan, lebih baik memperhatikan bagaimana tubuh merespons program yang dijalankan. Jika performa terus menurun atau tubuh terasa lelah berkepanjangan, bisa jadi frekuensi latihan perlu dikurangi.

4. Hari istirahat tetap menjadi bagian penting dari program latihan

ilustrasi istirahat nge-gym
ilustrasi istirahat nge-gym (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Banyak orang mengira perkembangan otot hanya terjadi ketika sedang mengangkat beban. Padahal, proses adaptasi justru berlangsung ketika tubuh beristirahat setelah latihan selesai. Selama masa pemulihan, tubuh memperbaiki jaringan otot sekaligus mempersiapkannya agar mampu menghadapi beban yang lebih besar pada sesi berikutnya. Tanpa waktu istirahat yang cukup, proses tersebut tidak dapat berlangsung secara optimal.

Hari tanpa latihan beban bukan berarti kamu harus berhenti bergerak sama sekali. Aktivitas ringan seperti berjalan kaki, bersepeda santai, atau melakukan peregangan tetap dapat membantu tubuh tetap aktif tanpa memberikan tekanan berlebihan pada otot. Pendekatan ini sering dikenal sebagai active recovery, yaitu pemulihan aktif yang bertujuan membantu tubuh merasa lebih segar. Dengan begitu, kamu bisa kembali berlatih dalam kondisi yang lebih siap.

5. Sesuaikan frekuensi latihan dengan tujuan yang ingin dicapai

ilustrasi latihan di gym
ilustrasi latihan di gym (pexels.com/Cesar Galeão)

Tidak semua orang datang ke gym dengan target yang sama. Ada yang ingin menjaga kebugaran, menurunkan berat badan, meningkatkan kekuatan, atau membangun massa otot. Perbedaan tujuan tersebut membuat kebutuhan latihan setiap orang juga berbeda. Karena itu, tidak ada angka pasti yang bisa diterapkan untuk semua orang.

Jika tujuan utamanya adalah menjaga kesehatan dan kebugaran, full body workout dua hingga tiga kali seminggu umumnya sudah memadai. Namun, ketika pengalaman latihan semakin meningkat dan target menjadi lebih spesifik, sebagian orang mulai beralih ke program lain seperti split workout agar volume latihan pada setiap kelompok otot bisa ditingkatkan. Apa pun program yang dipilih, pastikan jadwal latihan tetap realistis sehingga dapat dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang.

Melakukan full body workout sebanyak dua hingga tiga kali seminggu menjadi pilihan yang paling ideal bagi kebanyakan orang karena mampu memberikan keseimbangan antara latihan dan pemulihan. Frekuensi tersebut dapat disesuaikan kembali berdasarkan intensitas latihan, pengalaman, serta tujuan kebugaran yang ingin dicapai. Dibandingkan mengejar jumlah hari latihan, jauh lebih penting menjaga kualitas setiap sesi, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta memberi tubuh waktu istirahat yang cukup agar hasil latihan berkembang secara optimal.

Referensi

"How Often Should You Work Out?" Cleveland Clinic. Diakses pada Juli 2026.

"Full Body Program (1–3 Days/Week): Why Less Really Is More" Nordic Performance Training. Diakses pada Juli 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More