Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tanda Kamu Sedang Ego Lifting Saat Latihan, Sebaiknya Hindari!

Tanda Kamu Sedang Ego Lifting Saat Latihan, Sebaiknya Hindari!
ilustrasi latihan di gym (pexels.com/frenco Monsalvo)
Intinya Sih
  • Ego lifting terjadi saat seseorang mengangkat beban melebihi kemampuan demi terlihat kuat, sehingga teknik latihan diabaikan dan manfaat latihan menurun.

  • Tanda-tandanya meliputi form berantakan, rentang gerak tidak penuh, terlalu mengandalkan momentum, sering membandingkan diri dengan orang lain, serta nyeri sendi setelah latihan.

  • Kebiasaan ini meningkatkan risiko cedera dan memperlambat progres otot; solusinya adalah fokus pada teknik benar, menaikkan beban bertahap, serta menjaga koneksi antara pikiran dan otot.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyak orang datang ke gym dengan semangat untuk terus meningkatkan performa. Setiap minggu beban terasa harus lebih berat agar latihan dianggap berhasil. Padahal, kebiasaan tersebut bisa berubah menjadi ego lifting jika dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan tubuh.

Ego lifting sering muncul tanpa disadari, terutama ketika mulai membandingkan diri dengan orang lain atau terlalu fokus mengejar angka di barbel. Alhasil, teknik latihan perlahan diabaikan dan risiko cedera justru meningkat.

1. Kenali apa itu ego lifting sebelum terlambat

ilustrasi latihan
ilustrasi latihan (pexels.com/Ardit Mbrati)

Ego lifting adalah kebiasaan mengangkat beban yang melebihi kemampuan hanya demi terlihat lebih kuat atau merasa lebih hebat. Fokus utamanya bukan lagi kualitas gerakan, melainkan angka yang terpasang pada barbel atau mesin latihan. Kondisi ini cukup sering ditemui, baik pada pemula maupun mereka yang sudah lama berlatih.

Padahal, tujuan utama latihan beban adalah memberikan rangsangan yang tepat kepada otot. Jika teknik mulai dikorbankan demi beban yang lebih berat, manfaat latihan justru menurun. Kendati begitu, banyak orang tetap melakukannya karena merasa progres hanya diukur dari besarnya beban yang mampu diangkat.

2. Perhatikan tanda-tanda kamu mulai terjebak ego lifting

ilustrasi latihan beban
ilustrasi latihan beban (magnific.com/pvproduction)

Ada beberapa kebiasaan yang sering menjadi sinyal bahwa ego mulai mengambil alih saat latihan. Jika satu atau bahkan beberapa di antaranya sering kamu lakukan, mungkin sudah saatnya mengevaluasi kembali cara berlatih.

  • Form latihan mulai berantakan: Punggung membungkuk saat deadlift, lutut masuk ke dalam ketika squat, atau bahu ikut terangkat saat shoulder press biasanya menandakan beban sudah terlalu berat. Tubuh mulai mencari cara agar repetisi tetap selesai meski tekniknya salah.
  • Range of motion tidak penuh: Kamu hanya menurunkan barbel setengah jalan saat bench press atau melakukan squat yang terlalu dangkal supaya beban tetap terasa ringan. Padahal, rentang gerakan yang penuh membantu otot bekerja lebih optimal.
  • Terlalu mengandalkan momentum: Mengayunkan tubuh ketika biceps curl, memantulkan beban, atau terus-menerus membutuhkan bantuan spotter untuk menyelesaikan repetisi merupakan tanda kontrol gerakan mulai hilang.
  • Sering membandingkan diri dengan orang lain: Beban dipilih karena orang di sebelah mengangkatnya, bukan karena memang sesuai kemampuan. Latihan akhirnya berubah menjadi ajang pembuktian, bukan proses berkembang.
  • Sendi lebih sakit daripada otot: Setelah latihan, rasa nyeri justru muncul di bahu, siku, lutut, atau punggung bawah. Kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa teknik latihan sudah terganggu akibat beban yang berlebihan.

3. Bahaya ego lifting terhadap progres latihan

ilustrasi pria latihan beban
ilustrasi pria latihan beban (pexels.com/andrea Placqquadio)

Ego lifting bukan hanya meningkatkan risiko cedera, tetapi juga membuat latihan menjadi kurang efektif. Otot yang seharusnya menjadi target justru bekerja lebih sedikit karena tubuh menggunakan otot lain untuk membantu mengangkat beban. Alhasil, perkembangan massa otot bisa berjalan lebih lambat meski latihan terasa sangat berat.

Cedera pada bahu, punggung bawah, lutut, hingga siku juga lebih mudah terjadi ketika teknik terus dipaksakan. Jika kondisi ini berulang, waktu latihan justru akan banyak terbuang untuk proses pemulihan. Tak pelak, target kebugaran maupun pembentukan otot menjadi semakin sulit dicapai.

4. Cara sederhana agar terhindar dari ego lifting

ilustrasi wanita latihan di gym
ilustrasi wanita latihan di gym (pexels.com/andrea Placqquadio)

Menghindari ego lifting sebenarnya tidak rumit selama kamu mau lebih sabar dalam membangun progres. Beban memang penting, tetapi kualitas setiap repetisi tetap harus menjadi prioritas utama.

Beberapa kebiasaan berikut bisa membantu menjaga latihan tetap aman dan efektif.

  • Utamakan teknik yang benar sebelum menambah beban.
  • Naikkan beban secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
  • Rekam latihan sesekali untuk menguasai form.
  • Fokus merasakan kerja otot atau mind-muscle connection selama latihan.

Ingat, tujuan utama datang ke gym bukan untuk mengesankan orang lain, melainkan menjadi versi yang lebih kuat dari dirimu sendiri. Beban memang bisa terus bertambah, tetapi teknik dan keselamatan tetap harus menjadi prioritas. Nah, apakah selama ini kamu benar-benar berlatih untuk berkembang, atau tanpa sadar sedang terjebak ego lifting?

Referensi;

"How to Know When You’re Ego Lifting (Plus, 6 Ways to Avoid It)." Hone Health. Diakses Juni 2026.

"Ego Lifting: Understanding the Risks and How to Avoid It." Pursue Fitness. Diakses Juni 2026.

"3 Sign You're Ego Lifting, and How to Stop." Peloton. Diakses Juni 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More