Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

79,8 Persen Rumah Tangga Belum Lengkap 3M dan 3M Plus

79,8 Persen Rumah Tangga Belum Lengkap 3M dan 3M Plus
ilustrasi membuang air dalam wadah, langkah mencegah DBD dengan 3M dan 3M Plus (pexels.com/ cottonbro studio)
Intinya Sih
  • SKI 2023 mencatat 79,8 persen rumah tangga belum menjalankan 3M dan 3M Plus lengkap, sementara angka kasus DBD pada 2024 dilaporkan melampaui 257 ribu kasus dengan 1.400 kematian.

  • Banyak keluarga hanya melakukan sebagian pencegahan. Wadah air perlu dikuras dan disikat, ditutup, serta diperiksa minimal seminggu sekali karena siklus Aedes dapat berlangsung 7–10 hari.

  • Pencegahan dipengaruhi oleh akses air, biaya, kondisi hunian, dan layanan lingkungan. Pemberantasan sarang nyamuk perlu melibatkan keluarga, warga, serta dukungan sistem, bukan mengandalkan fogging.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyak rumah tangga telah melakukan upaya pencegahan demam berdarah (DBD), tetapi tidak dalam rangkaian lengkap. Misalnya, sudah menguras bak mandi namun toren belum ditutup rapat. Kaleng bekas sudah dibuang, tetapi tatakan pot, penampung air dispenser, dan talang di belakang rumah belum pernah diperiksa.

Temuan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 79,8 persen rumah tangga masuk kategori belum melakukan 3M maupun 3M Plus secara lengkap. Hanya 12 persen yang memenuhi tiga komponen utama 3M, sedangkan 8,1 persen menjalankan 3M Plus.

Angka itu penting karena DBD masih menjadi masalah besar di Indonesia. Pada tahun 2024, lebih dari 257 ribu kasus dan 1.400 kematian dilaporkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut rendahnya partisipasi masyarakat sebagai salah satu tantangan pengendalian DBD di Indonesia.

1. Angka 79,8 persen bukan berarti tidak melakukan apa pun

Dalam SKI 2023, 3M berarti melakukan ketiga tindakan berikut:

  • Menguras tempat penampungan air.
  • Menutup tempat penampungan air.
  • Memusnahkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Rumah tangga disebut melakukan 3M Plus apabila ketiga langkah tersebut dilengkapi dengan setidaknya satu perlindungan tambahan, seperti menggunakan obat antinyamuk, menaburkan larvasida, atau memasang kasa pada ventilasi. Sayangnya, banyak keluarga hanya melakukan sebagian.

Secara nasional, 64,3 persen rumah tangga melaporkan menguras bak mandi, ember besar, atau drum. Namun, hanya 34,9 persen yang menutup tempat penampungan air dan 41,8 persen yang memusnahkan barang bekas. Penggunaan bubuk larvasida tercatat 10,6 persen, sedangkan pemasangan kasa pada ventilasi hanya 17,3 persen.

Seseorang mungkin merasa telah melaksanakan 3M karena rutin membersihkan bak mandi, padahal ember cadangan tidak tertutup atau ada wadah kecil di halaman yang terus menampung air.

2. Pencegahan terlihat mudah, tetapi harus terus diulang

Menguras bak sekali mungkin tidak sulit. Tantangannya adalah melakukannya secara rutin, memeriksa banyak lokasi, dan mempertahankan kebiasaan tersebut sepanjang tahun, termasuk ketika tidak ada kasus DBD di lingkungan sekitar.

Telur Aedes aegypti dapat melekat kuat pada dinding wadah. Karena itu, air tidak cukup hanya dibuang. Dinding wadah perlu disikat agar telur ikut terangkat. Dalam kondisi yang sesuai, perjalanan dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa dapat berlangsung sekitar 7–10 hari. Anjurannya, wadah air dikosongkan, dibersihkan, dan diperiksa setidaknya seminggu sekali.

Rutinitas tersebut bisa memakan waktu, terutama jika rumah memiliki banyak wadah air atau hanya satu anggota keluarga yang dianggap bertanggung jawab atas kebersihan.

Kesenjangan antara tahu dan melakukan juga ditemukan dalam penelitian. Tinjauan sistematis terhadap pengetahuan dan perilaku rumah tangga di Asia menyimpulkan bahwa pengetahuan dasar tentang demam berdarah sering kali tidak otomatis menghasilkan praktik pencegahan yang konsisten. Sebagian responden juga menilai pemberantasan tempat berkembang biak sebagai kegiatan yang sulit dan menghabiskan waktu.

Bahkan, penelitian terhadap 400 kader kesehatan di Malang menemukan 65,2 persen rutin membersihkan wadah air kamar mandi setidaknya seminggu sekali, tetapi hanya 52,2 persen yang secara rutin memeriksa jentik di lingkungan sekitarnya.

3. Kondisi setiap rumah tidak sama

Ilustrasi kegiatan membersihkan halaman rumah dengan menyapu area luar dan mengumpulkan daun-daun yang berserakan.
ilustrasi membersihkan halaman rumah (magnific.com/zinkevych)

Mempraktikkan 3M terdengar mudah apabila setiap rumah mempunyai aliran air stabil, tempat sampah memadai, toren dengan penutup yang cocok, dan cukup waktu untuk memeriksa halaman.

Kenyataannya, sebagian keluarga perlu menyimpan air karena pasokan tidak selalu tersedia. Wadah besar mungkin berat untuk dikuras, sementara menutupnya rapat membutuhkan penutup yang sesuai. Kasa ventilasi, obat antinyamuk, atau perbaikan talang juga memerlukan biaya.

Data SKI memperlihatkan adanya pola sosial. Pelaksanaan 3M Plus hanya 4 persen pada rumah tangga dengan kepala keluarga yang tidak pernah bersekolah, dibandingkan dengan 14,6 persen pada kelompok berpendidikan diploma atau perguruan tinggi. Pada kelompok ekonomi terbawah, cakupannya 3,2 persen; pada kelompok teratas, 14,6 persen.

Polanya menunjukkan bahwa pencegahan dipengaruhi akses terhadap informasi, sumber daya, kondisi hunian, dan layanan lingkungan.

Tinjauan sistematis mengenai partisipasi masyarakat dalam pengendalian demam berdarah juga menemukan hambatan pada tiga tingkat sekaligus, yakni individu, komunitas, dan masyarakat atau sistem yang lebih luas. Karena itu, penyuluhan kepada keluarga perlu disertai perbaikan layanan sampah, pasokan air, koordinasi wilayah, dan dukungan bagi kader.

DBD tidak boleh dibingkai sebagai akibat kegagalan ibu rumah tangga menjaga kebersihan. Tanggung jawabnya perlu dibagi oleh seluruh penghuni rumah, pengelola bangunan, lingkungan, sekolah, tempat kerja, dan pemerintah daerah.

4. Pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi fondasi pencegahan

Nyamuk Aedes berkembang biak dekat dengan tempat tinggal manusia. Wadahnya tidak selalu berupa selokan kotor atau genangan besar. Tempat minum hewan, vas bunga, tatakan pot, mainan, lipatan terpal, ban, lubang pagar, dan penampung air kulkas dapat menjadi rumah nyamuk.

Nyamuk juga dapat berpindah di sekitar permukiman. Nyamuk Aedes biasanya berada dekat tempat tinggal, tetapi dapat terbang hingga ratusan meter untuk mencari wadah berisi air. Karena itu, keluarga yang telah membersihkan rumahnya tetap dapat terpapar apabila banyak habitat nyamuk di rumah sebelah, sekolah, tempat ibadah, kebun kosong, atau bangunan umum. Inilah alasan pemeriksaan jentik perlu menjadi kegiatan lingkungan.

Intervensi berbasis masyarakat di Yogyakarta menunjukkan bahwa pengendalian yang melibatkan warga dapat meningkatkan pengetahuan, perilaku, partisipasi, dan rasa memiliki terhadap program. Kegiatannya tidak hanya berupa penyuluhan, tetapi juga menyentuh pengelolaan sampah, pembersihan wadah, dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

Fogging juga tidak dapat menggantikannya. Pengasapan menargetkan nyamuk dewasa pada area yang terpapar, sedangkan telur dan jentik di dalam wadah tetap dapat bertahan. Pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi fondasi pencegahan.

5. Buat 3M menjadi rutinitas 10 menit

Agar kebiasaan terus berlanjut, rutinitas perlu dibuat sesederhana mungkin.

Tetapkan satu waktu yang sama setiap minggu, misalnya Sabtu pagi, untuk melakukan pemeriksaan selama 10 menit. Anak dapat memeriksa tatakan pot, orang tua menguras dan menyikat bak, sementara anggota keluarga lain mengecek talang, halaman, dispenser, atau toren.

Gunakan urutan berikut:

  • Pertama, cari semua wadah yang menampung air

Mulai dari kamar mandi, dapur, halaman, garasi, hingga area jemuran. Jangan hanya mencari wadah besar. Sedikit air dalam barang kecil tetap perlu diperiksa.

  • Kedua, kosongkan dan sikat

Buang air, lalu sikat dinding wadah, terutama di sekitar bekas garis permukaan air. Isi kembali hanya jika wadah masih dibutuhkan.

  • Ketiga, tutup atau balikkan

Toren, drum, ember cadangan, dan gentong perlu ditutup rapat. Wadah kosong dibalik agar tidak menampung air hujan.

  • Keempat, singkirkan barang yang tidak digunakan

Kaleng, botol, ban, wadah makanan, dan sampah plastik sebaiknya didaur ulang, dibuang dengan benar, atau disimpan di tempat terlindung.

  • Kelima, atasi wadah yang sulit dikuras

Untuk wadah yang tidak dapat dikosongkan, konsultasikan penggunaan larvasida dengan puskesmas atau ikuti label produk secara tepat. Jangan menaburkan bahan kimia sembarangan, terutama pada air yang digunakan untuk minum atau memasak.

  • Keenam, tambahkan perlindungan dari gigitan

Pasang kasa jika memungkinkan, gunakan losion antinyamuk sesuai petunjuk, dan periksa area gelap. Perlindungan ini melengkapi 3M.

Hasil pemeriksaan dapat dicatat pada kalender atau dikirim ke grup keluarga. Di tingkat lingkungan, jadwal pemeriksaan bersama lebih berguna daripada baru bergerak setelah ada warga yang sakit DBD.

Referensi

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, "Survei Kesehatan Indonesia 2023 dalam Angka," 136–41 (PDF), diakses Agustus 2026.

World Health Organization Indonesia, “Shaping Indonesia’s Path towards Zero Dengue Deaths by 2030,” diakses Agustus 2026.

World Health Organization, “Dengue,” diakses Agustus 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Life Cycle of Aedes Mosquitoes,” diakses Agustus 2026.

Kementerian Kesehatan RI, “Cegah Demam Berdarah dengan 3M Plus,” diakses Agustus 2026.

Ahmad F. Arham et al., “Asian Households’ Dengue-Related Knowledge, Attitudes, and Practices: A Systematic Review,” Humanities and Social Sciences Communications 12 (2025), https://doi.org/10.1057/s41599-025-05017-1.

Alidha Nur Rakhmani dan Lilik Zuhriyah, “Knowledge, Attitudes, and Practices Regarding Dengue Prevention Among Health Volunteers in an Urban Area—Malang, Indonesia,” Journal of Preventive Medicine and Public Health 57, no. 2 (2024): 176–84, https://doi.org/10.3961/jpmph.23.484.

Iskandar Arfan et al., “Benefits and Barriers of Community Participation in Dengue Control: A Systematic Review,” African Journal of Reproductive Health 28, no. 10s (2024): 482–98, https://doi.org/10.29063/ajrh2024/v28i10s.49.

World Health Organization, “Dengue and Severe Dengue: Questions and Answers,” diakses Agustus 2026.

Susilowati Tana et al., “Building and Analyzing an Innovative Community-Centered Dengue-Ecosystem Management Intervention in Yogyakarta, Indonesia,” Pathogens and Global Health 106, no. 8 (2012): 469–78, https://doi.org/10.1179/2047773212Y.0000000062.

Sulistyawati et al., “Dengue Vector Control through Community Empowerment: Lessons Learned from a Community-Based Study in Yogyakarta, Indonesia,” International Journal of Environmental Research and Public Health 16, no. 6 (2019): 1013, https://doi.org/10.3390/ijerph16061013.

World Health Organization, “Promoting Dengue Vector Surveillance and Control,” diakses Agustus 2026.

Kementerian Kesehatan RI, “Menkes: Dibanding Fogging, PSN 3M Plus Lebih Utama Cegah DBD,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More