Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Manfaat Puasa untuk Kesehatan Mental, Jadi Lebih Tenang

7 Manfaat Puasa untuk Kesehatan Mental, Jadi Lebih Tenang
ilustrasi ibadah di bulan Ramadan (pexels.com/Anna Tarazevich)
Intinya Sih
  • Puasa dapat memengaruhi regulasi emosi, fokus, dan stres melalui perubahan hormonal dan metabolik.

  • Sejumlah studi menunjukkan puasa Ramadan berkaitan dengan perbaikan suasana hati pada sebagian orang sehat.

  • Puasa bukan terapi pengganti gangguan mental; kondisi tertentu tetap memerlukan penanganan profesional kesehatan mental.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Puasa sering dibahas dalam konteks kesehatan fisik, dari mulai berat badan, metabolisme, atau gula darah. Padahal, puasa juga memengaruhi otak dan sistem saraf. Tubuh dan pikiran bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung.

Secara biologis, puasa memicu perubahan pada hormon stres, sensitivitas insulin, serta produksi neurotransmiter yang berperan dalam suasana hati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa praktik puasa, termasuk puasa Ramadan, dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis, terutama pada individu sehat.

Meski begitu, respons setiap orang berbeda-beda. Faktor seperti kondisi kesehatan, kualitas tidur, dukungan sosial, dan niat spiritual berperan besar dalam menentukan apakah puasa terasa menenangkan atau justru melelahkan secara emosional.

Mau tahu apa saja manfaat puasa untuk kesehatan mental? Terus baca hingga tuntas!

Table of Content

1. Membantu regulasi stres

1. Membantu regulasi stres

Puasa melibatkan latihan pengendalian diri, yaitu menahan lapar, haus, dan dorongan impulsif. Proses ini berkaitan dengan fungsi korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang berperan dalam kontrol diri dan pengambilan keputusan.

Beberapa studi tentang puasa Ramadan menunjukkan adanya penurunan kadar kortisol (hormon stres) pada sebagian partisipan sehat. Kortisol yang lebih stabil dapat berkaitan dengan respons stres yang lebih adaptif.

Regulasi stres yang baik berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan mental dan penurunan risiko gangguan kecemasan jangka panjang.

2. Meningkatkan kesadaran diri (self-awareness)

Ilustrasi mindfulness.
ilustrasi mindfulness (freepik.com/benzoix)

Puasa sering kali membuat seseorang lebih sadar terhadap sinyal tubuh, seperti lapar, lelah, atau perubahan emosi. Kesadaran ini serupa dengan praktik mindfulness, yaitu memperhatikan pengalaman saat ini tanpa menghakimi.

Penelitian menunjukkan praktik religius yang melibatkan refleksi diri berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi.

Kesadaran diri membantu seseorang mengenali pola emosi, sehingga respons terhadap stres menjadi lebih terkontrol.

3. Memperbaiki suasana hati pada individu sehat

Beberapa penelitian observasional selama Ramadan menemukan peningkatan skor suasana hati dan penurunan gejala depresi ringan pada partisipan sehat.

Salah satu mekanismenya diduga terkait perubahan metabolik dan peningkatan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang mendukung kesehatan neuron. Studi menjelaskan bahwa pembatasan kalori intermiten dapat meningkatkan ketahanan sel saraf terhadap stres. Namun, efek ini tidak bersifat universal dan sangat bergantung pada kondisi individu.

4. Meningkatkan fokus dan kejernihan mental

Seorang perempuan fokus bekerja saat puasa Ramadan.
ilustrasi perempuan fokus bekerja saat puasa Ramadan (pexels.com/Tiger Lily )

Sebagian orang melaporkan peningkatan fokus saat puasa. Secara biologis, ketika tubuh beralih menggunakan keton sebagai sumber energi, otak dapat memanfaatkan bahan bakar ini secara efisien.

Penelitian mengenai metabolisme keton menunjukkan potensi efek neuroprotektif dan peningkatan kejernihan kognitif dalam kondisi tertentu.

Meski demikian, kurang tidur selama Ramadan dapat mengurangi manfaat ini. Kualitas istirahat tetap faktor penting dalam fungsi kognitif.

5. Menguatkan rasa kendali diri

Menahan diri dari makan dan minum melatih delayed gratification, yaitu kemampuan menunda kepuasan demi tujuan jangka panjang. Dalam psikologi, kemampuan ini berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik dan regulasi emosi yang lebih stabil.

Kemampuan regulasi diri berperan dalam mencegah perilaku impulsif yang dapat memperburuk kondisi psikologis.

Latihan pengendalian diri yang konsisten dapat memperkuat rasa kompetensi pribadi.

6. Memperkuat dukungan sosial

Ilustrasi buka bersama teman-teman.
ilustrasi buka bersama (unsplash.com/Irfan Syahmi)

Puasa Ramadan sering dijalankan bersama keluarga atau komunitas. Makan sahur dan berbuka bersama meningkatkan interaksi sosial.

Dukungan sosial terbukti merupakan faktor protektif terhadap depresi dan kecemasan. Koneksi sosial merupakan komponen penting kesejahteraan psikologis.

Rasa kebersamaan dapat menurunkan perasaan isolasi dan meningkatkan makna hidup.

7. Memberi ruang untuk refleksi dan makna hidup

Puasa bukan hanya perubahan pola makan, tetapi juga praktik spiritual. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas yang memberi makna hidup berkorelasi dengan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan risiko depresi lebih rendah.

Refleksi spiritual dapat membantu seseorang menata ulang prioritas, mengurangi distraksi, dan membangun perspektif yang lebih luas terhadap suatu masalah.

Makna hidup yang kuat sering menjadi pelindung terhadap tekanan psikologis berat.

Puasa dapat membawa sejumlah manfaat bagi kesehatan mental, mulai dari regulasi stres hingga peningkatan rasa makna hidup, terutama pada individu sehat yang menjalankannya dengan pola tidur dan nutrisi yang baik.

Namun, puasa bukan terapi pengganti untuk gangguan mental. Jika kamu mengalami gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan berat, gangguan tidur signifikan, atau pikiran menyakiti diri sendiri, segera temui psikolog atau psikiater. Kesehatan mental adalah hal serius dan layak mendapatkan bantuan profesional yang tepat.

Referensi

John F. Trepanowski et al., “Effects of Alternate-day Fasting or Daily Calorie Restriction on Body Composition, Fat Distribution, and Circulating Adipokines: Secondary Analysis of a Randomized Controlled Trial,” Clinical Nutrition 37, no. 6 (December 5, 2017): 1871–78, https://doi.org/10.1016/j.clnu.2017.11.018.

Amin Riat et al., “Ramadan Fasting in Germany (17–18 H/Day): Effect on Cortisol and Brain-Derived Neurotrophic Factor in Association With Mood and Body Composition Parameters,” Frontiers in Nutrition 8 (August 12, 2021): 697920, https://doi.org/10.3389/fnut.2021.697920.

Harold G. Koenig, “Religion, Spirituality, and Health: The Research and Clinical Implications,” ISRN Psychiatry 2012 (December 16, 2012): 1–33, https://doi.org/10.5402/2012/278730.

Danny Jandali et al., “Mental Health, Sleep Quality, and Psychological Well-Being During the Holy Month of Ramadan,” Healthcare 12, no. 13 (June 29, 2024): 1301, https://doi.org/10.3390/healthcare12131301.

Mark P. Mattson et al., “Meal Frequency and Timing in Health and Disease,” Proceedings of the National Academy of Sciences 111, no. 47 (November 17, 2014): 16647–53, https://doi.org/10.1073/pnas.1413965111.

Antonio Paoli et al., “Ketogenic Diet in Neuromuscular and Neurodegenerative Diseases,” BioMed Research International 2014 (January 1, 2014): 1–10, https://doi.org/10.1155/2014/474296.

Julianne Holt-Lunstad, Timothy B. Smith, and J. Bradley Layton, “Social Relationships and Mortality Risk: A Meta-analytic Review,” PLoS Medicine 7, no. 7 (July 27, 2010): e1000316, https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1000316.

Xiao-Xin He et al., “Meaning in Life and Psychological Distress: A Meta-analysis,” Journal of Research in Personality 104 (May 23, 2023): 104381, https://doi.org/10.1016/j.jrp.2023.104381.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More