Comscore Tracker

Beda dengan Diabetes, Ini 5 Fakta Pradiabetes yang Perlu Kamu Tahu 

Harus segera diatasi agar tidak berkembang menjadi diabetes

Pradiabetes (prediabetes) adalah kondisi gula darah seseorang melebihi batas normal, tetapi belum cukup tinggi untuk terdiagnosis sebagai diabetes. Kondisi ini juga dikenal sebagai gangguan toleransi glukosa.

"Wah, aman, dong, kalau begitu?" pikirmu.

Tidak juga! Dilansir WebMD, orang-orang dengan diabetes tipe 2 biasanya mengalami pradiabetes terlebih dulu. Maka dari itu, kamu harus tahu kondisi pradiabetes, terutama cara mengatasinya agar tidak berkembang menjadi diabetes yang bisa membawa komplikasi berbahaya.

1. Pradiabetes berbeda dengan diabetes tipe 2

Beda dengan Diabetes, Ini 5 Fakta  Pradiabetes yang Perlu Kamu Tahu unsplash.com/Tom Claes

Awam mungkin menganggap pradiabetes dan diabetes serupa, mengingat kadar gula darah keduanya di atas batas normal. Namun, sebetulnya keduanya merupakan gangguan kesehatan yang berbeda.

Berdasarkan laporan dalam jurnal "Diabetes & Vascular Disease Research" tahun 2014, pradiabetes adalah kondisi gula darah puasa (GDP) di atas normal (>100 mg/dL), tetapi masih di bawah kadar GDP diabetes 2, yaitu 125 mg/dL.

Menurut laporan dalam jurnal "Diabetes Care" tahun 2009 dan "The Lancet" tahun 2012, besar risiko pradiabetes untuk menjadi diabetes tipe 2 jika selama beberapa tahun terakhir terus meningkat dari rentang 8-15 persen, seiring dengan meningkatnya kejadian hiperglikemia (peningkatan kadar plasma glukosa darah di atas nomal).

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 dari Kementerian Kesehatan RI, prevalensi pradiabetes di Indonesia mencapai 26,3 persen dari populasi penduduk dewasa. Angka prevalensi tersebut dua kali lebih besar dari angka kejadian diabetes tipe 2.

Pradiabetes yang mengalami hiperglikemia dan tidak terkendali, berisiko mengalami diabetes tipe 2 di masa mendatang.

2. Penyebab pradiabetes

Beda dengan Diabetes, Ini 5 Fakta  Pradiabetes yang Perlu Kamu Tahu pixabay.com/unicorn_owner

Dilansir Mayo Clinic, penyebab pradiabetes belum dapat diketahui dengan pasti. Namun, faktor genetik dan gaya hidup yang tidak sehat diduga kuat menjadi faktor risiko terbesar.

Banyak mengonsumsi makanan yang tinggi gula, malas atau tidak pernah olahraga, kelebihan berat badan, dan banyak timbunan lemak (khususnya di perut) bisa memicu diabetes.

Menurut Riskesdas tahun 2018, sekitar 6,6 persen dari penduduk dewasa di Indonesia yang mengalami pradiabetes adalah perempuan. Ini karena status post-menopause dikatakan berhubungan dengan risiko hiperglikemia.

Selain itu, faktor usia dan adanya kondisi sindrom polikistik ovarium (PCOS) juga dapat berkontribusi terhadap kondisi pradiabetes.

Pradiabetes membuat tubuh kita tidak bisa mengolah glukosa dengan baik, membuat gula menumpuk di dalam darah, sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya untuk memberikan energi ke sel-sel yang membentuk otot dan jaringan.

Baca Juga: Ciri-ciri Mengidap Diabetes, Waspada Kalau Penglihatan Jadi Buram

3. Kenali gejalanya!

Beda dengan Diabetes, Ini 5 Fakta  Pradiabetes yang Perlu Kamu Tahu pixabay.com/analogicus

Mengkhawatirkannya, pradiabetes sering kali tidak disadari oleh penderitanya karena cenderung tidak bergejala. Akibatnya, pradiabetes tidak mendapatkan intervensi yang dibutuhkan, sehingga pradiabetes bisa dengan mudah "naik kelas" menjadi diabetes tipe 2.

Nah, supaya kamu tidak mengalaminya, kamu wajib tahu apa saja gejala pradiabetes. Dikutip Verywell Health, pradiabetes biasanya menyerang dewasa dengan usia antara 40-60 tahun. Kondisi ini sangat jarang diketahui karena tidak adanya gejala yang jelas. Bahkan, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), 84 juta orang di Amerika Serikat mengalami pradiabetes, dan 90 persen di antaranya tidak menyadari kondisi tersebut.

Karena tidak adanya gejala, bahkan setelah diagnosis, kebanyakan orang tidak tahu pasti kapan mereka mulai mengembangkan pradiabetes. Kondisi ini bisa stabil selama beberapa tahun sebelum berkembang menjadi diabetes.

Dalam kasus langka, ketika pradiabetes menunjukkan gejala, efeknya biasanya hampir tidak kentara dan bisa dengan mudah terlewatkan atau dikira sebagai gejala kondisi medis lainnya. Tanda-tandanya itu adalah:

  • Rasa lapar atau haus yang berlebihan
  • Kenaikan berat badan
  • Kelelahan
  • Sering buang air kecil karena peningkatan asupan cairan untuk menghilangkan rasa haus (poliuria)

4. Selain bisa berkembang jadi diabetes tipe 2, pradiabetes juga berpotensi menimbulkan masalah medis lainnya

Beda dengan Diabetes, Ini 5 Fakta  Pradiabetes yang Perlu Kamu Tahu pixabay.com/Tesa Robbins

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pradiabetes adalah kondisi "selangkah lagi" menjadi diabetes tipe 2. Selain itu, pradiabetes juga memiliki komplikasi lain yang hampir mirip dengan diabetes melitus.

Menurut informasi dari laman Houston Thyroid and Endocrine Specialists, pradiabetes bisa menyebabkan kerusakan beberapa organ tubuh sehingga tidak berjalan sesuai fungsinya, yang mana ini bisa mengakibatkan beberapa komplikasi penyakit seperti masalah pada ginjal.

Selain itu, orang-orang dengan pradiabetes juga rentan mengalami tekanan darah tinggi, yang kalau tidak ditangani dengan baik dapat memunculkan stroke dan penyakit jantung akibat. Komplikasi lainnya yang umum terjadi pada pradiabetes adalah kadar kolesterol yang tinggi.

Oleh sebab itu, orang-orang dengan pradiabetes harus menjaga pola makan dan rutin olahraga agar tekanan darah, kolesterol, dan gula darah tetap stabil.

5. Cara mengatasi pradiabetes

Beda dengan Diabetes, Ini 5 Fakta  Pradiabetes yang Perlu Kamu Tahu pexels.com/Buenosia Carol

Mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat lagi dapat membantu orang-orang dengan pradiabetes untuk menurunkan kadar gula darah kembali normal dan tidak berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Dilansir Mayo Clinic, hal-hal yang bisa dilakukan adalah dengan:

  • Menerapkan pola makan sehat: mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat seperti memperbanyak sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian
  • Rutin berolahraga
  • Menurunkan berat badan dengan mengubah pola makan
  • Hentikan kebiasaan merokok
  • Minum obat sesuai dengan resep dokter

Selain itu, kamu juga disarankan untuk cek glukosa darah secara rutin. Selain itu, memeriksa kadar hemoglobin A1c (HbA1c) juga bisa dilakukan. 

Kalau kamu terdeteksi pradiabetes sedini mungkin, dokter bisa menerapkan strategi jitu agar kondisi tersebut tidak berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Jangan lagi meremehkan pradiabetes, ya!

Baca Juga: Memahami Kadar Gula Darah Normal Tubuh untuk Ketahui Diabetes

Lois Maria Andries Photo Verified Writer Lois Maria Andries

19

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya