Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Bahaya Vape bagi Kesehatan, Risiko buat Paru-paru sampai Jantung

7 Bahaya Vape bagi Kesehatan, Risiko buat Paru-paru sampai Jantung
ilustrasi vape atau rokok elektrik (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Vape tidak aman. Aerosolnya mengandung zat berbahaya, termasuk nikotin dan zat karsinogenik.

  • Penggunaan vape dikaitkan dengan masalah pernapasan, gangguan kardiovaskular, adiksi nikotin, serta efek negatif pada perkembangan otak remaja.

  • Melepaskan diri dari vape penting karena risiko kesehatan jangka panjang yang mirip atau bahkan tambahan terhadap rokok konvensional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan vape atau rokok eletronik berkembang cepat di banyak negara, termasuk di Indonesia, hingga mendapat perhatian otoritas seperti Badan Narkotika Nasional (BNN) yang mengusulkan pelarangan vape demi melindungi kesehatan masyarakat dari penyalahgunaan narkoba.

Vape dipasarkan sebagai alternatif yang “lebih aman” dibanding rokok konvensional, tetapi bukti ilmiah menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks dan mengkhawatirkan.

Vape memang tidak menghasilkan asap tembakau seperti rokok biasa, tetapi aerosol yang dihirup tetap membawa sejumlah zat berbahaya ke dalam tubuh, termasuk nikotin, logam berat, senyawa organik beracun, dan partikel ultra halus yang dapat merusak jaringan paru.

Berbagai organisasi kesehatan menekankan bahwa tidak ada produk tembakau yang aman, termasuk vape. Selain itu, riset menemukan bahwa penggunaan vape terkait dengan gangguan fungsi pembuluh darah, pernapasan, serta risiko lain yang tidak boleh dianggap remeh.

Pemahaman menyeluruh tentang bahaya vape penting bukan hanya bagi perokok, tetapi juga untuk keluarga, pendidik, dan pembuat kebijakan. Ketahui apa saja bahaya vape bagi kesehatan di bawah ini.

Table of Content

1. Nikotin: adiksi dan efeknya pada otak

1. Nikotin: adiksi dan efeknya pada otak

Sebagian besar rokok elektrik mengandung nikotin, zat yang sangat adiktif.

Nikotin dapat merusak perkembangan otak pada remaja dan dewasa muda hingga sekitar usia 25 tahun, memengaruhi fungsi perhatian, pembelajaran, mood, dan kontrol impuls.

Nikotin juga dapat memicu kecanduan yang membuat berhenti menjadi sangat sulit dan dapat memperburuk kesehatan mental.

2. Iritasi dan bahaya aerosol yang dihirup

Seorang laki-laki memegang vape.
ilustrasi vape (freepik.com/snowing)

Aerosol vape tidak hanya berisi nikotin, tetapi juga partikel kecil yang bisa menembus jauh ke dalam paru, termasuk bahan seperti volatil organic compounds (VOC), logam berat (nikel, timah, timbal), dan bahan perasa yang aman dimakan namun berbahaya jika dihirup. Partikel-partikel ini telah dikaitkan dengan iritasi paru dan perubahan fungsi pernapasan.

3. Risiko penyakit paru-paru

Metaanalisis dan ulasan ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik berkaitan dengan berbagai masalah pernapasan, termasuk meningkatnya gejala asma, batuk, dan sesak napas.

Sebuah studi analisis besar juga menemukan bahwa mereka yang menggunakan vape mengalami peningkatan kasus penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan gejala penyakit paru lainnya dibanding orang-orang yang tidak menggunakan vape.

4. Dampak pada fungsi pembuluh darah dan risiko kardiovaskular

Bukti juga menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektronik dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu fungsi endotelium—sel yang melapisi pembuluh darah—yang merupakan faktor risiko kardiovaskular.

Sebuah studi menemukan bahwa asap/vapor dari vape dapat menyebabkan pelepasan zat pro oksidatif dan menurunkan produksi nitrogen oksida yang krusial untuk fungsi pembuluh darah yang sehat.

5. Kecanduan nikotin dan perilaku reaktif

Vape di atas meja.
ilustrasi rokok elektrik atau vape (unsplash.com/Vaporesso)

Walau sering dipasarkan sebagai alat bantu berhenti merokok, tetapi nikotin yang terkandung dalam vape tetap bersifat adiktif.

Prinsip adiktif yang sama dengan rokok konvensional berarti pengguna bisa mengalami gejala kecanduan yang serius dan relaps penggunaan tembakau lain, termasuk rokok biasa jika vape ditinggalkan secara tiba-tiba.

6. Efek negatif terhadap kesehatan mental

Penelitian pada populasi muda menunjukkan korelasi antara penggunaan vape dan meningkatnya gejala gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.

Sebuah studi yang dikumpulkan dalam jurnal terkemuka melaporkan kaitan antara vaping dan gejala internalisasi seperti kecemasan serta ADHD pada mahasiswa.

7. Efek samping akut: batuk, sakit kepala, dan kecemasan

Data survei terhadap pengguna vape menunjukkan bahwa sebagian besar mengalami kejadian samping dalam beberapa jam setelah vaping, termasuk batuk, nyeri kepala, kecemasan, dan iritasi saluran napas. Itu semua menunjukkan reaksi tubuh terhadap aerosol yang dihirup.

Cara melepaskan diri dari jerat vape

Vape, rokok elektrik, e-cigarette.
ilustrasi vape atau rokok elektrik (IDN Times/NRF)

Melepaskan diri dari vape memerlukan strategi yang mencakup aspek fisik dan psikologis, karena nikotin menyebabkan kecanduan yang nyata. Langkah-langkah praktis termasuk:

  • Mencari dukungan profesional: Konsultasikan dengan dokter atau konselor kesehatan untuk rencana berhenti yang sesuai. Program berhenti nikotin dengan dukungan terstruktur cenderung lebih efektif.
  • Mengurangi ketergantungan nikotin secara bertahap: Jika berhenti total terasa sulit, pendekatan bertahap dengan menurunkan dosis atau frekuensi bisa membantu, lalu dilanjutkan dengan berhenti sepenuhnya.
  • Mengalihkan diri dengan melakukan aktivitas sehat: Olahraga, hobi, atau teknik manajemen stres dapat membantu mengurangi keinginan untuk vape dan memperbaiki kesejahteraan umum.
  • Mendukung perubahan lingkungan: Menghindari situasi sosial yang mengaitkan dirimu dengan vaping, serta mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman, sangat berpengaruh dalam keberhasilan berhenti.

Penting diingat bahwa risiko kesehatan vape pada banyak aspek menyerupai atau saling memperkuat risiko rokok konvensional. Jadi, berhenti adalah langkah terbaik untuk kesehatan jangka panjang.

Vape tidak bisa dianggap aman hanya karena tidak menghasilkan asap tembakau tradisional. Produk ini masih mengandung nikotin yang adiktif serta berbagai bahan kimia dan partikel aerosol yang berpotensi berbahaya saat dihirup.

Bukti ilmiah terus menunjukkan hubungan antara vaping dengan gangguan pernapasan, risiko kardiovaskular, adiksi, dan dampak negatif pada kesehatan mental. Itu semua menegaskan bahwa menghindari atau berhenti menggunakan vape adalah pilihan kesehatan yang lebih bijak.

Kesadaran dan edukasi mengenai bahaya vape sangat penting, terutama di kalangan muda yang sering menjadi target pemasaran produk ini. Dukungan profesional, pendekatan bertahap, dan gaya hidup sehat bisa membantu melepaskan diri dari jerat vape dan menjaga kesehatan jangka panjang.

Referensi

“Health Effects of Vaping.” Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Februari 2026.

“New Analysis Underscores Health Risks of E-Cigarettes.” Johns Hopkins Medicine. Diakses Februari 2026.

“NIH-funded studies show damaging effects of vaping, smoking on blood vessels.” National Heart, Lung, and Blood Institute. Diakses Februari 2026.

Raphael E Cuomo et al., “Rates of Adverse Events and Related Risk Factors Following E-cigarette Use,” Journal of Public Health 46, no. 2 (January 27, 2024): e230–39, https://doi.org/10.1093/pubmed/fdad281.

Anasua Kundu et al., “Evidence Update on the Respiratory Health Effects of Vaping E-cigarettes: A Systematic Review and Meta-analysis,” Tobacco Induced Diseases 23, no. November (November 19, 2025): 1–16, https://doi.org/10.18332/tid/209954.

Fatma Magdi Ibrahim et al., “E-cigarette Usage and Mental Health Among Undergraduate Medical and Health Sciences Students,” Scientific Reports 15, no. 1 (April 16, 2025): 13169, https://doi.org/10.1038/s41598-025-94545-6.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Lea Lyliana
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More