“Asma.” Cleveland Clinic. Diakses September 2026.
“Asthma - Symptoms and Causes.” Mayo Clinic. Diakses September 2026.
“Volcanoes: Risk Factors.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Protecting Yourself During a Volcanic Eruption.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Protecting Against Ash.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.
“Human and Environmental Impact of Volcanic Ash.” National Geographic Society. Diakses September 2026.
Apakah Abu Vulkanik Bisa Memicu Asma? Kenali Risiko dan Pencegahannya

- Abu vulkanik berupa pecahan batu bergerigi mengandung silika dan dapat menyebar melalui angin, sehingga berbahaya bila terhirup, terutama bagi penderita asma.
- Pada penderita asma, abu yang masuk ke saluran napas dapat memicu peradangan, pembengkakan, dan lendir berlebih, menyebabkan sesak napas, mengi, nyeri dada, serta batuk berkepanjangan.
- Saat hujan abu, hindari aktivitas luar ruangan, tutup celah rumah, gunakan air purifier berfilter HEPA, pakaian tertutup, dan masker N95 yang diganti setelah maksimal delapan jam.
Erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa waktu lalu gak hanya melontarkan lava dan batuan, tetapi juga abu vulkanik. Namun berbeda dengan batuan yang terlempar gak terlalu jauh dari lokasi, abu vulkanik dapat terbawa angin dan naik ke lapisan atmosfer terendah sebelum akhirnya menyebar ke mana-mana. Masalahnya adalah, abu vulkanik berbeda dengan debu biasa.
Dilansir National Geographic, abu vulkanik sebenarnya merupakan pecahan batu dengan gerigi di pinggirannya. Selain itu, abu vulkanik ini juga mengandung silika yang sangat berbahaya jika terhirup ke dalam sistem pernapasan, terutama sistem orang yang memang masuk dalam kelompok berisiko, termasuk penderita asma. Sama seperti asap kebakaran hutan, abu vulkanik juga bisa memicu asma. Kenapa bisa begitu? Yuk kenali risiko dan cara pencegahannya!
1. Mengapa penderita asma lebih sensitif terhadap abu vulkanik?

gambar paru-paru manusia (unsplash.com/Aakash Dhage) Jika kamu menderita asma, maka kamu harus ekstra hati-hati saat hujan abu terjadi. Ini karena abu vulkanik sendiri dapat menyebabkan munculnya gejala asma secara tiba-tiba. Dilansir Cleveland Clinic, asma adalah kondisi yang menyebabkan peradangan jangka panjang pada saluran pernapasan.
Namun berbeda dengan penyakit lain, asma biasanya kambuh hanya jika dipicu sesuatu. Pemicu asma sendiri meliputi banyak hal. Mulai dari alergi, udara dingin, olahraga yang terlalu intens, jamur, paparan saat kerja, penyakit pernapasan seperti flu, asap rokok, stress, bahan atau bau yang terlalu menyengat, hingga polusi udara. Polusi udara di sini bukan hanya sekedar knalpot motor atau emisi pabrik, tetapi juga konsentrasi abu vulkanik dalam jumlah yang tinggi.
2. Abu vulkanik bisa memperburuk gejala asma

gambar orang yang mengalami sesak napas (magnific.com/rawpixel.com) Seperti yang disebutkan sebelumnya, paparan abu vulkanik dapat memperburuk gejala asma. Dilansir Mayo Clinic, saat abu vulkanik terhirup penderita asma, abu tersebut akan masuk ke saluran pernapasan. Pada orang yang sehat, hal ini hanya menyebabkan batuk-batuk atau sakit tenggorokan.
Namun bagi mereka yang menderita asma, masuknya abu vulkanik akan menyebabkan peradangan yang membuat saluran pernapasan membengkak dan dipenuhi lendir. Kondisi inilah yang membuat penderita asma mengalami sejumlah gejala. Mulai dari sesak napas, nyeri dada, mengi atau kesulitan menghembuskan napas, batuk-batuk yang gak kunjung membaik.
3. Cara mengurangi risiko serangan asma

gambar masker untuk melindungi saluran pernapasan (magnific.com/Azerbaijan_stockers) Cara paling efektif untuk mengurangi risiko asma adalah dengan menghindari apapun yang dapat memicu terjadinya gejala. Saat hujan abu terjadi, beraktivitas di luar ruangan jelas menjadi hal yang perlu dihindari. Sebaliknya, berlindunglah di dalam ruangan seperti rumah atau kamar yang bersih dari debu. Dilansir USGS, sebisa mungkin tutup semua jendela, pintu, atau ventilasi dengan lembaran plastik atau handuk untuk memastikan gak ada debu dari luar yang masuk ke dalam ruangan.
Jika ada, gunakan mesin air purifier dengan filter HEPA untuk menyaring udara dan mengurangi debu atau polutan yang masuk ke dalam ruangan. Kenakan pakaian berlengan panjang, celana panjang, hingga masker untuk melindungi sistem pernapasan. Untuk masker sendiri, sebaiknya gunakan jenis masker N95 yang dapat menyaring abu secara efisien. Meski begitu, masker seperti N95 sendiri hanya dirancang untuk sekali pemakaian dengan durasi pemakaian maksimal 8 jam. Setelah 8 jam, segera ganti dengan masker N95 yang baru.
Meski ukurannya sangat kecil bahkan gak terlihat mata, abu vulkanik dapat memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi tubuh. Pada orang-orang dengan gangguan pernapasan seperti asma atau PPOK, paparan abu vulkanik bisa memperburuk gejala yang sudah ada. Untuk itu, pastikan diri kamu terlindungi dengan baik, ya!
Referensi














![[QUIZ] Dari Kebiasaan Olahragamu, Kami Tebak Kamu Sudah Siap Ikut HYROX atau Belum](https://image.idntimes.com/post/20260711/3b12b7e9-1964-4f46-987d-335389a347c0_813eb20e-af68-4319-a7b7-f6b7b9c50718.jpeg)





![[QUIZ] Seberapa Siap Kamu Ikut Race Lari Pertamamu?](https://image.idntimes.com/post/20250917/pexels-olly-3764538_deef61cd-03cb-4fa4-b8c3-7902219ff32d.jpg)

