American Academy of Pediatrics, “Mask Mythbusters: Common Questions about Kids & Face Masks,” diakses September 2026.
U.S. Geological Survey, “Protecting Against Ash,” diakses September 2026.
International Volcanic Health Hazard Network, “Preparedness for Ashfall,” diakses September 2026.
American Academy of Pediatrics, “Volcano Safety: Protecting Your Family Before, During & After an Eruption,” diakses September 2026.
L. Forbes, D. Jarvis, J. Potts, dan P. J. Baxter, “Volcanic Ash and Respiratory Symptoms in Children on the Island of Montserrat, British West Indies,” Occupational and Environmental Medicine 60, no. 3 (2003): 207–11, https://doi.org/10.1136/oem.60.3.207.
Mohammad Fauzan Bin Maideen et al., “Optimal Low-Cost Cooling Strategies for Infant Strollers during Hot Weather,” Ergonomics 66, no. 12 (2023): 1935–49, https://doi.org/10.1080/00140139.2023.2172212.
Centers for Disease Control and Prevention, “Feeding Your Child Safely During a Disaster,” diakses September 2026.
Nationwide Children’s Hospital, “Respiratory Distress,” diakses September 2026.
Cara Melindungi Bayi dari Abu Vulkanis di Rumah dan saat Evakuasi

Bayi tidak boleh memakai masker; perlindungan utama adalah mengurangi paparan abu.
Jaga ruang bayi tetap bersih, batasi abu yang masuk, dan jauhkan bayi saat pembersihan.
Ikuti arahan evakuasi dan segera cari pertolongan bila bayi kesulitan bernapas.
Saat abu vulkanis mulai menempel di jendela dan halaman, orang tua mungkin segera mencari masker untuk seluruh anggota keluarga. Namun, perlindungan buat bayi berbeda.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan anak di bawah usia 2 tahun tidak boleh memakai masker karena belum dapat melepaskannya sendiri tanpa bantuan.
Lalu, bagaimana cara melindunginya? Langkah utama adalah menjauhkan bayi dari udara yang berabu. Paparan pada bayi dan anak harus diminimalkan dengan berada di lingkungan dalam ruangan yang bebas abu, apabila memungkinkan.
Table of Content
1. Siapkan ruang yang paling terlindung dari abu
Selama rumah masih aman dan belum ada perintah evakuasi, tempatkan bayi di dalam ruangan. Tutup pintu serta jendela, dan kurangi celah masuk abu, misalnya dengan meletakkan handuk lembap di bawah pintu. Batasi orang yang keluar-masuk ruangan.
Jika tersedia, nyalakan air purifier di ruangan tempat bayi paling sering berada. Namun, jika abu terus masuk atau rumah tidak lagi aman, pindah ke tempat perlindungan sesuai arahan petugas. Jangan menunda evakuasi demi bertahan di kamar tertutup.
Pentingnya membatasi paparan didukung penelitian pada anak sekolah di Montserrat. Studi tersebut menemukan hubungan paparan abu dengan keluhan pernapasan.
2. Jauhkan bayi saat membersihkan rumah
Abu yang mengendap dapat kembali beterbangan saat disapu kering atau tertiup angin. Pindahkan bayi ke ruang bersih bersama pengasuh lain sebelum pembersihan dimulai. Gunakan lap lembap atau pel basah untuk permukaan keras, dan hindari kemoceng serta menyapu kering.
Perhatikan pula abu yang terbawa melalui sepatu dan pakaian. Lepaskan pakaian luar yang berabu sebelum masuk ke ruang bersih. Jangan mengarahkan kipas ke lantai atau furnitur yang masih tertutup abu karena dapat menerbangkan partikel kembali.
3. Jangan menjadikan penutup stroller sebagai pengganti masker

ilustrasi stroller bayi (unsplash.com/Minnie Zhou) Menutup stroller dengan kain agar abu tidak masuk mungkin rasanya masuk akal. Namun, jangan menganggap cara ini sebagai perlindungan pernapasan.
Menurut penelitian, menutup stroller dengan kain kering tertentu justru menaikkan suhu di dalamnya saat cuaca panas. Studi tersebut menguji suhu stroller, bukan kemampuan kain menyaring abu. Temuan ini mengingatkan bahwa upaya melindungi bayi juga harus mempertimbangkan risiko kepanasan.
Hindari menutup stroller rapat-rapat dengan kain sebagai pengganti tempat berlindung. Pilihan utamanya tetap memindahkan bayi ke lingkungan yang terlindung dari abu.
4. Jika harus mengungsi, kurangi waktu di luar
Ikuti rute dan waktu evakuasi yang ditetapkan petugas. Saat menggunakan mobil, tutup jendela dan atur AC ke sirkulasi ulang udara kabin agar tidak menarik udara luar. Pantau bayi selama perjalanan, terutama pernapasan dan responsnya.
Siapkan popok, pakaian ganti, obat rutin, dan perlengkapan pemberian makan. Jika bayi mendapat ASI, lanjutkan menyusui. Jika menggunakan susu formula, pastikan air dan peralatan yang digunakan aman serta bersih. Jangan mengencerkan formula melebihi petunjuk.
5. Kenali tanda bayi butuh pertolongan
Segera cari pertolongan medis jika bayi bernapas lebih cepat atau tampak bekerja keras untuk bernapas, dada tertarik ke dalam, atau cuping hidung kembang-kempis. Bibir membiru dan bayi sulit dibangunkan juga merupakan tanda darurat.
Apabila bayi terus batuk atau menyusu lebih sedikit dari biasanya, hubungi tenaga kesehatan untuk penilaian, terutama jika keluhan menetap atau memburuk.
Referensi


















