Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Buah Potong Bisa Jadi Sumber Keracunan, Kok Bisa?

Buah Potong Bisa Jadi Sumber Keracunan, Kok Bisa?
ilustrasi supermarket, buah potong, semangka, melon (magnific.com/jannoon028)
  • Kuman di kulit buah dapat berpindah ke dagingnya saat dikupas atau dipotong.

  • Bakteri tertentu dapat berkembang pada buah potong jika suhu penyimpanannya tidak terjaga.

  • Pilih buah potong yang disimpan dingin, gunakan peralatan bersih, dan segera masukkan ke kulkas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sekotak semangka dan melon potong adalah camilan praktis dan menyegarkan, apalagi jika dikonsumsi saat cuaca panas. Tinggal buka kemasan, lalu makan.

Namun, sebelum sampai ke tangan pembeli, buah sudah melewati proses pencucian, pengupasan, pemotongan, dan penyimpanan. Pada tahap-tahap inilah kebersihannya perlu dijaga.

Buah potong dapat menyebabkan keracunan makanan jika tercemar kuman penyebab penyakit. Pencemaran buah dapat terjadi sejak di kebun, melalui tanah atau air, maupun setelah panen saat disimpan dan disiapkan.

  1. 1. Dikupas bukan berarti bebas kuman

    Kulit yang dibuang tidak otomatis membawa pergi seluruh kuman. Saat pisau menembus permukaan buah, bakteri dari kulit dapat ikut terbawa ke bagian yang akan dimakan. Karena itu, buah tetap perlu dicuci sebelum dikupas, termasuk melon dan semangka.

    Pencemaran juga dapat terjadi melalui peralatan. Misalnya, talenan bekas memotong daging mentah digunakan untuk buah tanpa dibersihkan terlebih dahulu. Buah yang kemudian langsung dimakan tidak melewati proses pemasakan untuk membunuh bakteri.

  2. 2. Setelah dipotong, suhu penyimpanan menjadi penting

    Ilustrasi buah potong aneka warna dalam wadah, menggambarkan sajian buah segar untuk dikonsumsi sehari-hari.
    ilustrasi buah potong (vecteezy.com/Bigc Studio)

    Sebuah penelitian dalam Journal of Food Protection menguji potongan semangka serta melon jenis cantaloupe dan honeydew yang sengaja diberi bakteri Salmonella. Peneliti lalu menyimpannya pada suhu 5 derajat Celcius atau 23 derajat Celcius selama 24 jam.

    Pada suhu 23 derajat Celcius, bakteri berkembang pesat. Pada suhu 5 derajat Celcius, jumlahnya tidak meningkat selama pengamatan, tetapi bakteri tetap dapat bertahan.

    Artinya, pendinginan membantu menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi tidak mensterilkan buah yang sudah tercemar.

    Penelitian laboratorium ini tidak menunjukkan bahwa semua buah potong mengandung Salmonella. Hasilnya menjelaskan mengapa buah yang tercemar bisa semakin berisiko jika dibiarkan dalam lingkungan hangat.

  3. 3. Jangan menunggu lama untuk memasukkannya ke kulkas

    Masukkan buah potong ke dalam kulkas dalam waktu maksimal 2 jam. Jika berada di lingkungan bersuhu di atas sekitar 32 derajat Celcius, misalnya di dalam mobil panas, batasnya menjadi 1 jam. Jaga suhu kulkas sekitar 4 derajat Celcius atau lebih rendah.

    Waktu tersebut merupakan batas maksimal, bukan anjuran untuk membiarkan buah menunggu. Jika buah potong sudah melewati batas waktu di luar pendingin, buang.

    Saat membeli, pilih buah potong yang berada di lemari pendingin atau dikelilingi es. Jika menyiapkan sendiri, cuci tangan dan peralatan, lalu bilas buah utuh di bawah air mengalir. Tidak perlu menggunakan sabun atau detergen pada buah.

    Pencucian membantu mengurangi bakteri, tetapi tidak menghilangkan semuanya.

  4. 4. Kenali keluhan yang perlu diperiksakan ke dokter

    Keracunan makanan dapat menimbulkan diare, kram perut, mual, muntah, atau demam. Gejalanya bisa muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah mengonsumsi makanan tercemar, tergantung penyebabnya.

    Temui dokter jika mengalami diare berdarah, diare lebih dari 3 hari, muntah hingga tidak bisa mempertahankan cairan yang diminum, atau tanda dehidrasi seperti jarang buang air kecil dan pusing saat berdiri.

    Buah potong tetap bisa menjadi pilihan praktis yang segar dan menyehatkan. Namun, keamanannya perlu dijaga sejak sebelum pisau menyentuh kulit buah hingga potongan terakhir dimakan.

    Referensi

    U.S. Food and Drug Administration, “Selecting and Serving Produce Safely,” diakses September 2026.

    David A. Golden, E. Jeffery Rhodehamel, and Donald A. Kautter, “Growth of Salmonella spp. in Cantaloupe, Watermelon, and Honeydew Melons,” Journal of Food Protection 56, no. 3 (1993): 194–96, https://doi.org/10.4315/0362-028X-56.3.194.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Preventing Food Poisoning,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Food Poisoning Symptoms,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More