Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Gangguan Ginjal Bisa Memengaruhi Tulang?

Mengapa Gangguan Ginjal Bisa Memengaruhi Tulang?
ilustrasi ginjal (vecteezy.com/Sirichai Puangsuwan)
Intinya Sih
  • Ginjal berperan penting dalam aktivasi vitamin D dan pengaturan kalsium; gangguan ginjal dapat menghambat proses ini, membuat tulang kehilangan mineral dan menjadi rapuh.
  • Penumpukan fosfat akibat fungsi ginjal menurun menyebabkan ketidakseimbangan mineral, memperlemah tulang, serta meningkatkan risiko kalsifikasi pembuluh darah dan penyakit jantung.
  • Diagnosis dilakukan lewat tes darah dan pencitraan; penanganan mencakup obat pengatur mineral, perubahan gaya hidup, hingga transplantasi ginjal untuk menjaga kekuatan tulang pasien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orang mengira fungsi ginjal hanya berkaitan dengan menyaring racun dari darah dan mengatur cairan tubuh. Padahal, organ kecil ini juga punya peran besar dalam menjaga kesehatan tulang. Ketika ginjal mengalami gangguan, efeknya tidak hanya terasa pada sistem urine, tetapi juga bisa memengaruhi kekuatan dan struktur tulang.

Hubungan antara ginjal dan tulang terutama terlihat pada kondisi yang dikenal sebagai chronic kidney disease–mineral bone disorder (CKD-MBD). Kondisi ini merupakan gangguan kompleks yang terjadi pada pasien penyakit ginjal kronis.

CKD-MBD menyebabkan ketidakseimbangan mineral serta hormon dalam tubuh, yang akhirnya membuat tulang menjadi lebih rapuh dan meningkatkan risiko patah tulang.

Di bawah ini dibahas kaitan antara fungsi ginjal dengan tulang, simak ya!

Table of Content

1. Bagaimana kerusakan ginjal memengaruhi tulang?

1. Bagaimana kerusakan ginjal memengaruhi tulang?

Ginjal yang sehat memiliki peran penting dalam mengaktifkan vitamin D. Vitamin D yang diperoleh dari makanan atau sinar matahari sebenarnya masih dalam bentuk tidak aktif. Ginjal kemudian mengubahnya menjadi bentuk aktif yang disebut kalsitriol.

Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, proses aktivasi vitamin D ini terganggu. Akibatnya, tubuh menjadi kesulitan menyerap kalsium dari makanan di usus. Ketika kadar kalsium dalam darah menurun, tubuh akan mencoba mengimbanginya dengan cara lain.

Kelenjar paratiroid kemudian meningkatkan produksi hormon paratiroid (PTH). Hormon ini bertugas menjaga kadar kalsium darah tetap stabil. Namun, jika jumlahnya terlalu tinggi, PTH akan mengambil kalsium dari tulang untuk menaikkan kadar kalsium dalam darah. Proses ini lama-kelamaan menyebabkan tulang kehilangan mineral pentingnya. Akibatnya, tulang menjadi lebih tipis dan lemah, terutama pada bagian tulang pinggul dan tulang belakang.

2. Penumpukan fosfat juga memperburuk kondisi

Masalah lain yang muncul pada gangguan ginjal adalah ketidakmampuan tubuh membuang fosfat secara efektif. Ginjal yang sehat biasanya membantu mengeluarkan kelebihan fosfat melalui urine. Namun, pada penyakit ginjal kronis, fosfat dapat menumpuk dalam darah.

Kadar fosfat yang tinggi dapat mengikat kalsium dalam darah. Hal ini membuat tubuh kembali mengambil kalsium dari tulang untuk menjaga keseimbangan mineral. Selain melemahkan tulang, kondisi ini juga dapat menyebabkan kalsifikasi pada pembuluh darah, yang meningkatkan risiko penyakit jantung.

Perubahan metabolisme mineral ini dapat berkembang menjadi kondisi yang disebut osteodistrofi renal. Gangguan ini memiliki beberapa bentuk, tergantung pada bagaimana tulang mengalami perubahan.

3. Gejala yang muncul

Ilustrasi telapak kaki sakit.
ilustrasi kaki sakit (pexels.com/Erwans Socks)

Gejala gangguan tulang akibat penyakit ginjal dapat bervariasi. Pada beberapa kasus, seseorang mungkin mengalami nyeri tulang, terutama pada tulang panjang, seperti kaki dan lengan. Pada kondisi tertentu, tulang juga bisa mengalami perubahan bentuk.

Ada juga jenis gangguan tulang yang berkembang secara diam-diam. Pada kondisi ini, rasa sakit mungkin tidak terlalu terasa, tetapi tulang menjadi lebih rapuh sehingga mudah patah.

Pada kasus lain, seseorang bisa mengalami osteomalasia, yaitu kondisi ketika tulang tidak mengalami proses mineralisasi dengan baik. Gejalanya bisa berupa nyeri tulang menyeluruh, kelemahan otot, hingga patah tulang pada bagian tubuh yang menopang berat badan.

Risiko patah tulang juga meningkat seiring perkembangan penyakit ginjal. Bahkan sebelum pasien memerlukan dialisis, perubahan pada struktur tulang sudah bisa terjadi.

4. Dampak jangka panjang

Gangguan mineral dan tulang akibat penyakit ginjal dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang yang mirip osteoporosis. Namun, pada kasus penyakit ginjal, kerusakan sering kali lebih menargetkan bagian tulang yang disebut tulang kortikal, yaitu lapisan keras di bagian luar tulang.

Pada anak-anak, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan tulang dan menyebabkan deformitas. Sementara, pada orang dewasa, kerusakan tulang yang berkelanjutan dapat meningkatkan risiko patah tulang yang berbahaya.

Selain itu, penumpukan kalsium pada jaringan lunak dan pembuluh darah juga dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada pasien penyakit ginjal kronis.

5. Diagnosis dan penanganan

Untuk mengetahui apakah gangguan tulang berkaitan dengan penyakit ginjal, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan.

Tes darah digunakan untuk melihat kadar hormon paratiroid, kalsium, fosfat, serta vitamin D.

Pada beberapa kasus, dokter juga dapat menggunakan pemeriksaan pencitraan atau biopsi tulang untuk melihat kondisi tulang secara lebih detail.

Penanganan biasanya berfokus pada memperbaiki keseimbangan mineral dalam tubuh. Beberapa terapi yang digunakan antara lain obat pengikat fosfat, analog vitamin D, serta obat yang membantu mengontrol kadar hormon paratiroid.

Selain pengobatan, perubahan gaya hidup juga penting. Pola makan yang seimbang, olahraga ringan secara rutin, serta upaya mencegah jatuh dapat membantu mengurangi risiko patah tulang. Pada beberapa pasien, transplantasi ginjal dapat memperbaiki gangguan metabolisme mineral yang terjadi.

Gangguan tulang akibat penyakit ginjal sering berkembang secara perlahan. Karena itu, deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Pemantauan kesehatan biasanya mulai dianjurkan pada tahap awal penyakit ginjal kronis. Dengan pengelolaan yang tepat, risiko patah tulang dan komplikasi lain dapat ditekan, sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga.

Referensi

Cleveland Clinic. Diakses pada Maret 2026. "Renal Osteodystrophy."

Felix Hospital. Diakses pada Maret 2026. "Renal Osteodystrophy: How Kidney Disease Affects Your Bone."

National Institues of Health. Diakses pada Maret 2026. "Mineral & Bone Disorder in Chronic Kidney Disease."

Salera, D., Merkel, N., Bellasi, A., & De Borst, M. H. (2025). "Pathophysiology of chronic kidney disease–mineral bone disorder (CKD-MBD): from adaptive to maladaptive mineral homeostasis." Clinical Kidney Journal, 18(Supplement_1), i3–i14. https://doi.org/10.1093/ckj/sfae431

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More