Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hindari Pakai Baju Baru Tanpa Dicuci Dulu, Ini 6 Bahayanya

Hindari Pakai Baju Baru Tanpa Dicuci Dulu, Ini 6 Bahayanya
ilustrasi belanja baju baru (pexels.com/Ivan Samkov)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Baju baru bisa mengandung sisa bahan kimia, pewarna, debu, jamur, dan mikroorganisme dari proses produksi hingga distribusi.

  • Formaldehida, pewarna tekstil, dan bahan pelapis kain dapat memicu iritasi atau dermatitis kontak, terutama pada orang dengan kulit sensitif.

  • Mencuci baju baru sebelum dipakai membantu mengurangi residu bahan kimia, kotoran, dan potensi paparan dari orang lain yang pernah mencobanya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Baju baru sering kali terasa bersih karena terlihat rapi, masih berlabel, dan memiliki aroma khas toko. Namun, itu tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya.

Sebelum sampai ke tangan pembeli, pakaian biasanya melewati proses panjang. Dari mulai diproduksi di pabrik, disimpan di gudang, dikirim dalam kontainer, dipajang di toko, lalu dicoba oleh banyak orang.

Dalam setiap tahap itu, kain bisa terpapar berbagai bahan kimia, debu, jamur, bakteri, bahkan residu dari kulit dan keringat orang lain. Karena itu, banyak ahli kesehatan menyarankan agar baju baru dicuci terlebih dahulu sebelum dipakai, terutama jika akan bersentuhan langsung dengan kulit dalam waktu lama.

Table of Content

1. Bisa memicu iritasi dan ruam kulit

1. Bisa memicu iritasi dan ruam kulit

Salah satu bahaya paling umum dari memakai baju baru tanpa dicuci adalah iritasi kulit. Banyak pakaian baru masih mengandung residu pewarna, pelapis kain, atau bahan finishing yang dipakai agar kain terlihat lebih halus, tidak mudah kusut, atau warnanya tampak lebih tajam.

Saat bahan-bahan tersebut bersentuhan langsung dengan kulit, beberapa orang bisa mengalami kemerahan, gatal, rasa perih, atau ruam. Risiko ini lebih tinggi pada orang yang memiliki kulit sensitif, riwayat eksim, dermatitis, atau alergi kulit.

Pewarna tekstil sintetis, terutama pada kain poliester dan nilon, diketahui dapat memicu dermatitis kontak alergi. Reaksi ini sering muncul di area yang banyak berkeringat atau mengalami gesekan, seperti leher, ketiak, pinggang, paha, dan lipatan siku. Penelitian menunjukkan bahwa disperse dyes (pewarna sintetis yang tidak larut dalam air, digunakan terutama untuk mewarnai serat sintetis, misalnya polyester, dengan bantuan panas agar warna masuk ke dalam serat) pada tekstil dapat menimbulkan dermatitis yang gejalanya mirip eksim atau dermatitis atopik, sehingga sering tidak disadari sebagai reaksi akibat pakaian.

2. Dapat menyebabkan dermatitis karena formaldehida

Ilustrasi seorang laki-laki memilih baju di toko.
ilustrasi seorang laki-laki memilih baju di toko (pexels.com/Antoni Shkraba)

Sebagian pakaian, terutama yang berlabel "wrinkle-free", "easy care", "permanent press", atau "anti kusut", dapat mengandung formaldehida atau resin berbasis formaldehida. Bahan ini digunakan untuk membantu kain tetap rapi, tidak mudah kusut, dan lebih tahan selama penyimpanan dan pengiriman.

Masalahnya, formaldehida adalah salah satu bahan yang cukup sering dikaitkan dengan dermatitis kontak. Pada orang yang sensitif, paparan formaldehida dari pakaian dapat menyebabkan kulit terasa panas, gatal, kering, bersisik, bahkan muncul ruam yang cukup luas.

Beberapa penelitian menemukan formaldehida pada tekstil memang dapat memicu dermatitis kontak alergi. Laporan di jurnal JAMA mendokumentasikan pasien yang mengalami dermatitis setelah memakai pakaian dengan kandungan formaldehida.

Studi lain juga menyebutkan bahwa alergi terhadap resin formaldehida pada pakaian kemungkinan masih sering tidak terdiagnosis karena gejalanya mirip eksim biasa.

Penelitian tambahan menunjukkan mencuci pakaian dapat membantu menurunkan kadar formaldehida yang tersisa pada kain.

3. Bisa membawa bakteri, jamur, dan kotoran

Selama proses produksi, penyimpanan, dan distribusi, pakaian bisa terpapar debu, kotoran, jamur, bakteri, bahkan serangga kecil. Kondisi lembap di gudang atau kontainer pengiriman juga dapat meningkatkan risiko pertumbuhan jamur pada kain.

Selain itu, pakaian di toko sering dicoba oleh banyak orang sebelum akhirnya dibeli. Artinya, baju tersebut mungkin pernah bersentuhan dengan kulit, keringat, parfum, deodoran, atau mikroorganisme dari tubuh orang lain.

Risiko infeksi dari pakaian baru memang relatif kecil, tetapi tetap ada kemungkinan paparan bakteri, jamur, atau parasit seperti kutu pada pakaian yang belum dicuci. Para ahli mikrobiologi dan dermatologi mengatakan bahwa pencucian sederhana sebelum memakai baju baru dapat membantu mengurangi paparan ini secara signifikan.

4. Bisa memperburuk eksim dan kulit sensitif

Ilustrasi mencoba baju baru.
ilustrasi mencoba baju baru (pexels.com/Ivan Samkov)

Orang dengan eksim, dermatitis atopik, atau kulit sangat sensitif biasanya memiliki skin barrier yang lebih lemah. Artinya, lapisan pelindung kulit mereka lebih mudah terganggu oleh bahan kimia, gesekan, keringat, dan panas.

Pada kondisi ini, baju baru yang belum dicuci dapat menjadi pemicu flare-up. Kulit bisa terasa lebih gatal, merah, kering, atau bahkan pecah-pecah, terutama jika pakaian terbuat dari bahan sintetis atau menggunakan pewarna kuat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pewarna tekstil, resin anti kusut, dan bahan tambahan lain pada pakaian dapat memperburuk dermatitis pada orang yang sudah memiliki riwayat masalah kulit. Gejalanya kadang menyerupai eksim biasa sehingga penyebab utamanya sering tidak dikenali.

5. Bisa mengandung residu bahan kimia lain

Selain formaldehida dan pewarna, pakaian baru juga dapat mengandung berbagai bahan kimia lain dari proses produksi. Misalnya, bahan antijamur, pelapis antiair, pelembut kain industri, pestisida untuk penyimpanan, atau bahan pengusir serangga pada pakaian tertentu.

Sebagian pakaian outdoor atau travel bahkan diproduksi dengan lapisan repelan serangga, seperti permethrin. Meski umumnya dianggap aman jika digunakan sesuai petunjuk, tetapi bahan kimia seperti ini tetap sebaiknya tidak menempel terlalu lama di kulit, terutama pada anak-anak, ibu hamil, atau orang dengan kulit sensitif.

Paparan jangka pendek dari residu bahan kimia pada pakaian memang jarang menyebabkan masalah serius pada kebanyakan orang. Namun, mencuci pakaian baru tetap menjadi langkah sederhana untuk mengurangi jumlah residu yang mungkin masih tertinggal di permukaan kain.

6. Membuat area tubuh yang banyak berkeringat lebih teriritasi

Ilustrasi celana baru.
ilustrasi celana baru (pexels.com/Kaboompics.com)

Area seperti leher, ketiak, lipatan paha, pinggang, dan dada biasanya lebih mudah berkeringat dan bergesekan. Saat area tersebut bersentuhan dengan pakaian baru yang masih mengandung pewarna atau bahan finishing, risiko iritasi meningkat.

Keringat dapat membantu melarutkan residu pewarna dan bahan kimia pada kain, lalu membuatnya lebih mudah berpindah ke kulit. Gesekan dari pakaian ketat atau bahan sintetis juga dapat memperparah kondisi ini.

Karena itu, reaksi kulit akibat baju baru sering kali muncul justru di area tubuh yang lembap dan tertutup. Gejalanya bisa berupa rasa gatal, perih, ruam merah, atau bentol-bentol kecil yang muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah pakaian dipakai.

Mencuci baju baru sebelum dipakai mungkin terdengar seperti langkah kecil, tetapi manfaatnya cukup besar. Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi residu bahan kimia, pewarna, debu, kotoran, dan mikroorganisme yang menempel pada kain selama proses produksi hingga distribusi. Bagi orang dengan kulit sensitif, eksim, atau alergi, mencuci baju baru bisa menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mencegah ruam dan iritasi.

Referensi

Silas E. O’Quinn, “Contact Dermatitis Due to Formaldehyde in Clothing Textiles,” JAMA 194, no. 6 (November 8, 1965): 593, https://doi.org/10.1001/jama.1965.03090190015003.

Rachel M. Novick et al., “The Effect of Clothing Care Activities on Textile Formaldehyde Content,” Journal of Toxicology and Environmental Health 76, no. 14 (July 18, 2013): 883–93, https://doi.org/10.1080/15287394.2013.821439.

Cecilia Svedman, Malin Engfeldt, and Laura Malinauskiene, “Textile Contact Dermatitis: How Fabrics Can Induce Dermatitis,” Current Treatment Options in Allergy 6, no. 1 (February 8, 2019): 103–11, https://doi.org/10.1007/s40521-019-0197-5.

Abdiweli A. Mohamoud and Flemming Andersen, “Allergic Contact Dermatitis Caused by Textile Dyes Mimicking Atopic Dermatitis,” Contact Dermatitis 76, no. 2 (January 17, 2017): 119–20, https://doi.org/10.1111/cod.12630.

Joseph F. Fowler, Steven M. Skinner, and Donald V. Belsito, “Allergic Contact Dermatitis From Formaldehyde Resins in Permanent Press Clothing: An Underdiagnosed Cause of Generalized Dermatitis,” Journal of the American Academy of Dermatology 27, no. 6 (December 1, 1992): 962–68, https://doi.org/10.1016/0190-9622(92)70295-q.

United States Environmental Protection Agency. “Repellent-Treated Clothing.” Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More