Hasilnya tidak 100 persen akurat, tetapi cukup mendekati. Alat tes ovulasi memiliki akurasi 99 persen. Namun, penting untuk diketahui bahwa hasil tes ovulasi positif palsu dapat terjadi.
Satu studi menemukan bahwa dalam 7 persen kasus, ada hasil tes positif palsu. Itu berarti tes tersebut membuat seolah-olah orang tersebut akan berovulasi. Namun, ketika orang tersebut dievaluasi seminggu atau lebih kemudian, ternyata orang tersebut belum berovulasi (Fertility and Sterility, 2004).
Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh masalah pada tes, atau kamu mungkin tidak mendapatkan cukup urine pada stik. Jika kamu curiga mendapatkan hasil positif palsu, kamu dapat mencoba tes lain dan melihat apakah kamu mendapatkan hasil yang berbeda.
Secara keseluruhan, alat tes ovulasi dapat menjadi alat bantu yang praktis untuk mengenali masa subur dengan lebih tepat. Dengan penggunaan yang benar dan konsisten, alat ini bisa membantu pasangan memahami siklus tubuh dengan lebih baik saat merencanakan kehamilan.
Referensi
"Ovulation Tests: How They Work and When to Take Them." Flo. Diakses pada April 2026.
Peter G. McGovern et al., “Absence of Secretory Endometrium After False-positive Home Urine Luteinizing Hormone Testing,” Fertility and Sterility 82, no. 5 (November 1, 2004): 1273–77, https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2004.03.070.
"Ovulation Home Test." National Library of Medicine. Diakses pada April 2026.
"Ovulation Test Kits: How They Work." Thomson Medical. Diakses pada April 2026.
"How to Use an Ovulation Test." WebMD. Diakses pada April 2026.