Tae-Geun Gweon, Jane Ha, Hanseul Kim, Mengxi Du, Mingyang Song, and Andrew T. Chan, “Association between Sugar-Sweetened and Artificially Sweetened Beverage Intake and Gastric Cancer Incidence,” Gastro Hep Advances (2026), https://doi.org/10.1016/j.gastha.2026.101097.
National Cancer Institute, “Stomach Cancer Causes and Risk Factors,” diakses Agustus 2026.
National Cancer Institute, “Helicobacter pylori (H. pylori) and Cancer,” diakses Agustus 2026.
Minum Minuman Manis Tiap Hari Dikaitkan dengan Kanker Lambung

Studi terhadap 112.284 orang menemukan konsumsi lebih dari satu porsi minuman berpemanis gula per hari berkaitan dengan risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan hampir tidak pernah mengonsumsinya.
Hubungan tersebut ditemukan pada minuman berpemanis gula, tetapi tidak pada minuman berpemanis buatan.
Penelitian bersifat observasional sehingga tidak membuktikan minuman manis menyebabkan kanker lambung. H. pylori tetap merupakan salah satu faktor risiko utama yang sudah mapan.
Segelas es teh manis saat makan siang, minuman olahraga setelah latihan di gym, lalu minuman manis lain pada malam hari. Jika pola ini terjadi hampir setiap hari, penelitian terbaru menunjukkan ada alasan lain untuk memperhatikan jumlahnya, bukan hanya karena gula dan kalorinya.
Studi prospektif yang dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances menemukan bahwa konsumsi tinggi minuman yang dimaniskan dengan gula (sugar-sweetened beverages/SSB) berkaitan dengan peningkatan kejadian kanker lambung.
Yang termasuk SSB dalam penelitian ini adalah minuman berkarbonasi bergula, punch, limun, dan minuman olahraga. Satu porsinya ditetapkan sebesar 8 ons atau sekitar 237 mililiter.
Table of Content
Lebih dari satu porsi per hari dikaitkan dengan risiko 2,45 kali
Para peneliti menggunakan data dari dua kohort besar di Amerika Serikat (AS), yaitu Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-up Study. Totalnya mencakup 112.284 perempuan dan laki-laki. Pola makan mereka diperiksa berulang melalui kuesioner makanan setiap empat tahun.
Selama lebih dari 3,2 juta person-years pengamatan, terdapat 278 kasus kanker lambung. Setelah memperhitungkan sejumlah faktor lain, orang yang mengonsumsi lebih dari satu porsi minuman berpemanis gula per hari memiliki hazard ratio 2,45 untuk kanker lambung dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah mengonsumsinya. Dengan kata lain, tingkat kejadian pada kelompok tersebut sekitar 2,45 kali lebih tinggi.
Hubungan tersebut terlihat pada perempuan maupun laki-laki. Setiap kenaikan satu porsi SSB per minggu juga berkaitan dengan kenaikan risiko sekitar 6 persen dalam keseluruhan kelompok.
Perlu diketahui bahwa hazard ratio membandingkan tingkat kejadian antara kelompok selama periode penelitian, bukan peluang absolut seseorang untuk terkena kanker.
Kenapa minuman manis mungkin berhubungan dengan lambung?

ilustrasi minuman manis (unsplash.com/Shayna Douglas) Para peneliti mengemukakan beberapa kemungkinan yang sebelumnya juga dikaitkan dengan tingginya konsumsi minuman bergula, antara lain kenaikan berat badan, resistansi insulin, inflamasi, gangguan keseimbangan hormon, perubahan mikrobioma, dan kerusakan DNA.
Analisis penelitian ini juga menemukan hubungan positif antara asupan total fruktosa dan kejadian kanker lambung. Namun, mekanisme biologisnya masih perlu diteliti lebih lanjut.
Penulis senior Andrew T. Chan dari Massachusetts General Hospital dan Harvard Medical School menjelaskan bahwa hasil tersebut membuka kemungkinan adanya hubungan antara gangguan metabolik dan risiko kanker lambung.
Ini juga bukan berarti gula kini menjadi faktor utama kanker lambung. National Cancer Institute mencatat infeksi Helicobacter pylori sebagai faktor risiko penting, selain merokok serta pola makan tertentu seperti konsumsi tinggi makanan asin, diasap, atau diawetkan.
Bagaimana dengan minuman berpemanis buatan?
Penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan antara minuman dengan pemanis buatan (artificially sweetened beverages/ASB) dan kejadian kanker lambung.
Dalam studi ini, ASB terutama merujuk pada minuman berkarbonasi rendah kalori.
Hasil itu juga tidak berarti minuman berpemanis buatan otomatis terbukti aman atau melindungi dari kanker. Penelitian ini hanya menunjukkan tidak ada hubungan statistik dengan kanker lambung dalam kelompok yang diteliti.
Penelitian ini belum membuktikan sebab-akibat
Penelitian ini bersifat observasional, sehingga tidak dapat memastikan bahwa SSB secara langsung menyebabkan kanker lambung.
Informasi H. pylori juga hanya tersedia pada sebagian kecil peserta. Peneliti tidak memiliki informasi lengkap mengenai lokasi anatomis kanker lambung, riwayat kanker lambung dalam keluarga, maupun riwayat endoskopi.
Selain itu, sebagian besar peserta berkulit putih dan merupakan tenaga kesehatan, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada populasi lain.
Penulis menyebut penelitian ini sebagai studi pertama yang menunjukkan hubungan antara konsumsi SSB dan kejadian kanker lambung, sementara penelitian sebelumnya menghasilkan temuan yang belum konsisten. Karena itu, hasilnya perlu dikonfirmasi dalam populasi dan penelitian lain sebelum minuman berpemanis gula dapat disebut sebagai penyebab kanker lambung.
Meski demikian, memperhatikan seberapa sering minuman manis menjadi bagian dari keseharian tetap disarankan. Panduan umumnya pada orang sehat, batas anjuran konsumsi gula harian adalah 50 gram per hari atau setara dengan 4 sendok makan per orang per hari.
Referensi





![[QUIZ] Warna Tumbler Kamu Bisa Ungkap Tipe Self-Care Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260503/pexels-cottonbro-3737803_749b93ce-12fb-4e36-a427-a18f836f46ef.jpg)




![[QUIZ] Tebak Risiko Penyakit dari Kebiasaan Kamu Minum Kopi](https://image.idntimes.com/post/20260326/16576_5a2f7a67-3d4e-4672-9881-c5c068073f61.jpg)








![[QUIZ] Uji Pengetahuan Kamu soal Sosiopat, Mana yang Mitos dan Fakta](https://image.idntimes.com/post/20230311/pexels-mart-production-7278806-feeb9d49d6ab3b201b4525c030a4f62b.jpg)

