Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mitos atau Fakta: Anemia Cuma Dialami Perempuan
ilustrasi kelelahan karena anemia (freepik.com/jcomp)

  • Anemia bukan hanya dialami perempuan; kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin.

  • Data menunjukkan anemia lebih sering menyerang perempuan usia produktif dan ibu hamil, namun sekitar 12,7 persen laki-laki dewasa juga mengalaminya.

  • Penyebab anemia berbeda antar gender: perempuan rentan karena menstruasi dan kehamilan, sedangkan laki-laki sering terkait penyakit kronis atau perdarahan saluran cerna.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Anemia sering dianggap sebagai penyakit "eksklusif" perempuan. Banyak orang percaya bahwa hampir semua perempuan pasti pernah mengalami anemia, terutama karena menstruasi. Namun, apakah benar anemia cuma dialami oleh perempuan, atau ini sekadar mitos yang berkembang di masyarakat?

Anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin, dan bisa terjadi pada siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki.

Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah normal, sehingga kemampuan darah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Hemoglobin sendiri adalah protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh.

Secara global, data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang menunjukkan bahwa anemia lebih sering terjadi pada perempuan, terutama usia produktif dan ibu hamil. Sekitar 30 persen perempuan usia 15–49 tahun dan 37 persen ibu hamil mengalami anemia. Namun, bukan berarti laki-laki kebal. WHO juga mencatat sekitar 12,7 persen laki-laki dewasa di dunia mengalami anemia.

Penyebab kesenjangan angka

Perbedaan angka antara laki-laki dan perempuan ini lebih disebabkan oleh faktor biologis. Sementara itu, pada laki-laki, anemia sering berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti perdarahan saluran cerna (misalnya akibat tukak lambung atau kanker), penyakit ginjal kronis hingga gangguan penyerapan zat besi.

Prevalensi anemia pada laki-laki dewasa memang lebih rendah, sekitar 1–4 persen. Namun, angkanya bisa meningkat signifikan pada laki-laki usia lanjut atau yang memiliki penyakit kronis. Bahkan, studi menunjukkan angka anemia pada laki-laki di kelompok tertentu bisa mencapai lebih dari 20 persen, tergantung kondisi kesehatan dan faktor risiko.

Perbedaan penyebab anemia pada laki-laki dan perempuan

ilustrasi laki-laki dan perempuan (pexels.com/fauxels)

Beberapa penyebab anemia pada perempuan antara lain:

  • Kehilangan darah (paling sering)

    • Menstruasi berlebihan (menoragia)

    • Perdarahan saat persalinan

    • Keguguran

  • Kebutuhan akan zat besi meningkat

    • Kehamilan

    • Menyusui

  • Asupan nutrisi kurang

    • Kurang konsumsi zat besi

    • Defisiensi vitamin B12 atau asam folat

    • Pola makan vegetarian tanpa pengganti nutrisi yang tepat

  • Gangguan penyerapan

    • Penyakit saluran cerna (misalnya gastritis, penyakit celiac)

  • Penyakit kronis

    • Infeksi kronis

    • Penyakit ginjal

    • Penyakit autoimun

  • Faktor gaya hidup

    • Diet ketat ekstrem

    • Kurang konsumsi protein

    • Kebiasaan minum teh/kopi berlebihan (menghambat penyerapan zat besi)

Faktor ini dijelaskan dalam laporan WHO bahwa proses biologis seperti menstruasi dan kehamilan meningkatkan risiko anemia pada perempuan.

Sementara pada laki-laki, anemia sering berkaitan dengan kondisi medis seperti:

  • Perdarahan kronis

    • Perdarahan saluran cerna (maag, tukak lambung)

    • Kanker usus atau lambung

  • Penyakit kronis

    • Penyakit ginjal kronis

    • Penyakit hati

    • Infeksi kronis

  • Kekurangan nutrisi

    • Jarang, tetapi bisa terjadi pada pola makan buruk

  • Gangguan sumsum tulang

    • Leukemia

    • Aplasia sumsum tulang

  • Penyakit genetik

    • Talasemia

    • Anemia sel sabit

Bahkan, anemia pada laki-laki dewasa, terutama usia lanjut, perlu dievaluasi lebih lanjut karena bisa menjadi indikator penyakit serius.

Gejala umum anemia

Orang dengan anemia umumnya mengalami gejala seperti di bawah ini:

  • Lelah.

  • Pusing.

  • Sesak napas.

  • Kulit pucat.

Gejala ini tidak spesifik gender, sehingga bisa dialami siapa saja.

Menyebut anemia hanya dialami perempuan itu tidak benar. Perempuan memang lebih berisiko, tetapi data menunjukkan laki-laki juga terdampak dalam jumlah yang tidak sedikit, dengan penyebab yang sering kali berbeda, bahkan lebih serius.

Kapan harus berobat?

ilustrasi seorang laki-laki sedang berkonsultasi dengan dokter mengenai anemia (freepik.com/freepik)

Segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami:

  • Gejala ringan tapi menetap

    • Lelah terus-menerus tanpa sebab jelas

    • Pucat yang tidak hilang

  • Menstruasi tidak normal

    • Darah sangat banyak

    • Menstruasi lebih dari 7 hari

  • Kehamilan

    • Semua ibu hamil sebaiknya skrining anemia

  • Gejala berat

    • Pusing sampai hampir pingsan

    • Sesak napas

    • Jantung berdebar hebat

  • Kelompok risiko tinggi

    • Remaja putri

    • Perempuan hamil

    • Perempuan dengan diet ketat

Referensi

"Anaemia Fact Sheet". World Health Organization (WHO). Diakses Maret 2026.

"Iron-Deficiency Anemia". NIH StatPearls. Diakses Maret 2026

"Anemia Prevalence US". CDC. Diakses Maret 2026.

Asma A Alboueishi et al., “An Examination of Iron-Deficiency Anemia and Its Associated Risk Factors Among Libyan Workers and Their Families,” Cureus 17, no. 2 (February 6, 2025): e78606, https://doi.org/10.7759/cureus.78606.

Editorial Team