Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mitos vs Fakta Seputar Asma yang Masih Banyak Dipercaya, Kamu Termasuk?

Mitos vs Fakta Seputar Asma yang Masih Banyak Dipercaya, Kamu Termasuk?
gambar penderita asma memegang inhaler perawatan (unsplash.com/CNordik Nordik)
Intinya Sih
  • Asma adalah penyakit kronis tidak menular yang menyerang saluran pernapasan dan memengaruhi ratusan juta orang di dunia menurut data WHO 2023.
  • Penggunaan inhaler secara rutin bukan tanda kecanduan, justru penting untuk mengendalikan gejala asma agar tidak sering kambuh.
  • Penderita asma tetap bisa berolahraga dengan pengawasan dokter, serta perlu memahami bahwa asma tidak dapat disembuhkan permanen namun bisa dikontrol.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Asma merupakan salah satu penyakit yang cukup umum di dunia ini. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2023 lalu, asma mempengaruhi 363 juta orang dan menyebabkan 442.000 kematian. Asma sendiri merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Namun berbeda dengan kebanyakan penyakit pernapasan lain, asma sama sekali gak menular.

Dilansir Mayo Clinic, asma merupakan kondisi peradangan jangka panjang yang bersifat kronis pada saluran pernapasan. Ketika peradangan terjadi, saluran pernapasan akan menyempit (bronkospasme), membengkak, dan dipenuhi lendir sehingga membuat penderitanya kesulitan bernapas, batuk, dan mengi. Peradangan pada asma sendiri bisa dipicu oleh banyak hal, di antaranya adalah serbuk sari, olahraga, atau bahkan udara yang dingin. 

Sayangnya meski saat ini penyakit maupun informasi mengenai asma cukup mudah didapatkan, tetapi masih banyak mitos seputar asma yang dipercaya oleh banyak orang. Jadi apa aja mitos seputar asma yang beredar, dan seperti apa faktanya? Berikut penjelasannya!

1. Obat-obatan asma dapat menyebabkan kecanduan

Inhaler untuk asma
gambar inhaler untuk asma (magnific.com/Freepik)

Salah satu mitos yang cukup mengkhawatirkan tentang asma adalah, bahwa obat-obatan asma dapat menyebabkan kecanduan. Nyatanya hal ini gak sepenuhnya tepat. Dilansir Healthline, penderita asma biasanya menggunakan dua jenis inhaler untuk membantu mengobati kondisi mereka. Satu inhaler perawatan atau pengendali jangka panjang yang digunakan setiap hari. Fungsi inhaler ini adalah untuk membantu mengelola serta mencegah gejala asma agar gak kambuh. Meski begitu, orang yang menggunakan obat ini mungkin gak merasakan perbaikan secara instan. 

Namun hanya karena seseorang menggunakan obat/inhaler asma secara rutin, bukan berarti mereka kecanduan. Bagaimanapun ada perbedaan besar antara seseorang yang memang butuh, dan mereka yang mengalami kecanduan obat. Mengingat inhaler ini merupakan pengobatan jangka panjang, penggunaan secara rutin justru sangat dibutuhkan. 

Inhaler kedua adalah obat pereda cepat yang dapat membantu meredakan gejala asma dalam keadaan darurat. Sebetulnya bagi mereka yang rutin menggunakan obat jangka panjang, penggunaan obat pereda cepat gak terlalu dibutuhkan. Sayangnya kadang ada aja penderita asma yang gak disiplin dalam mengonsumsi obat secara rutin. Alhasil asma mereka jadi gak terkontrol dan selalu membutuhkan inhaler penyelamat untuk meredakan gejalanya. Dalam jangka waktu panjang, hal inilah yang dapat menyebabkan perasaan bahwa mereka bergantung pada inhaler penyelamat.

2. Penderita asma gak boleh olahraga

Seorang pemain menginjak bola di lapangan
gambar seorang pemain menginjak bola di lapangan (unsplash.com/Surya Kumar Chintapula)

Gak dipungkiri, ada jenis asma yang dapat kambuh karena beraktivitas fisik. Dikenal dengan exercise induced-asthma, merupakan kondisi penyempitan saluran pernapasan yang dipicu oleh aktivitas fisik secara intens. Namun hal itu bukan berarti orang yang memiliki asma sama sekali gak boleh berolahraga. Sebaliknya dilansir dari American Lung Association, olahraga secara rutin membantu meningkatkan kapasitas paru-paru, yaitu jumlah maksimum oksigen yang dapat digunakan oleh tubuh.

Manfaat lainnya adalah, olahraga dapat meningkatkan aliran darah ke paru-paru, yang kemudian mendukung aliran jantung ke darah dalam memompa oksigen ke seluruh tubuh. Namun bagi penderita asma, sebelum mulai berolahraga ada baiknya untuk lebih dulu berkonsultasi dengan dokter dan mencari tahu olahraga apa aja yang perlu dihindari. Selain itu, mereka yang menderita asma mungkin perlu mengkonsumsi obat tertentu sebelum olahraga dimulai. Mulai lah dengan melakukan pemanasan, dan pendinginan setelah olahraga selesai.

Batasi olahraga atau aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara sedang gak sehat (kategori orange), dan tutupi hidung serta mulut dengan syal saat udara sedang dingin. Terakhir, jika kamu mulai merasakan nyeri di dada, batuk, sesak napas saat berolahraga, segera berhenti dan gunakan inhaler pereda cepat yang kamu miliki. Duduk dan cobalah untuk berlatih pernapasan perut untuk rileksasi. Bagi penderita asma, mengenali gejala sangatlah penting agar kita bisa mengambil langkah cepat saat asma kambuh.

3. Asma adalah penyakit anak-anak dan sembuh setelah dewasa

Pasien asma yang sedang melakukan pengobatan
gambar pasiem asma yang sedang melakukan pengobatan (umsplash.com/Sincerely Media)

Memang benar bahwa asma biasanya berkembang di masa kanak-kanak. Namun hal itu gak lantas bikin asma jadi penyakit anak-anak. Nyatanya dilansir Cleveland Clinic, asma juga bisa muncul saat usia dewasa. Biasanya hal ini dipicu oleh beberapa faktor seperti riwayat keluarga, merokok, obesitas, perubahan hormon (khusus perempuan), mengalami alergi, hingga kondisi medis lainnya. Malahan asma yang muncul diusia dewasa cenderung menunjukkan gejala yang lebih parah dan sulit untuk dikendalikan.

Salah satu alasannya karena orang dewasa seringkali mengabaikan gejala yang muncul. Di sisi lain, anggapan asma adalah penyakit anak-anak muncul karena setelah dewasa, gejala asma seringkali membaik. Ini karena seiring bertambahnya usia, paru-paru akan membesar dan sistem kekebalan tubuh juga bekerja lebih baik dibandingkan saat kita masih kanak-kanak. 

4. Asma dapat disembuhkan secara permanen

Pasien asma berkonsultasi dengan dokter
gambar pasien asma berkonsultasi dengan dokter (magnific.com/partstock)

Asma adalah kondisi kronis yang membuat penderitanya mengalami sejumlah gejala seperti sesak napas, mengi, dan batuk berulang. Gejala ini akan terus berlanjut hingga penderita mengkonsumsi atau menghirup obat pereda cepat yang dapat menenangkan paru-paru. Dilansir Health University of Utah, sayangnya sampai saat ini para ahli belum menemukan penyebab pasti maupun obat untuk menyembuhkan asma secara permanen.

Alhasil ketika seseorang terkena asma, dia harus mengalami kondisi ini sepanjang hidupnya. Kabar baiknya meski asma sendiri belum bisa disembuhkan, penyakit ini bisa dikendalikan agar gejalanya gak sering kambuh. Caranya adalah dengan menghirup inhaler perawatan juga konsumsi obat tertentu yang diresepkan secara rutin. Dalam banyak kasus, gejala asma pada anak bahkan bisa membaik setelah ia beranjak dewasa. 

Asma memang bukan penyakit yang asing di telinga banyak orang. Sayangnya masih aja ada banyak mitos seputar asma yang beredar dan dipercaya oleh banyak orang. Satu-satunya cara agar kita gak termakan mitos ini adalah dengan mencari informasi tentang asma pada sumber yang tepat. Misalnya berkonsultasi dengan dokter dan tenaga kesehatan, atau mencari informasi di website kesehatan klinik atau rumah sakit yang terpercaya.

Referensi

“Is Albuterol Addictive?” Healthline. Diakses pada Mei 2026.

“Can You Become Dependent on Asthma Medication?” Allergy Partners. Diakses pada Mei 2026.

“Asthma and Exercise.” American Lung Association. Diakses pada Mei 2026.

“Why Does Asthma Hit You Harder as an Adult?” Cleveland Clinic. Diakses pada Mei 2026.

“Asthma.” Cleveland Clinic. Diakses pada Mei 2026.

“Can Asthma Go Away?” Healthline. Diakses pada Mei 2026.

“Asthma.” World Health Organization (WHO). Diakses pada Mei 2026.

“Can Asthma Be Cured?” University of Utah Health. Diakses pada Mei 2026.

“Myths About Asthma.” Allergy & Asthma Network. Diakses pada Mei 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Related Articles

See More