Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Studi: Obat COVID-19 Ini Tak Selalu Cegah Rawat Inap

Studi: Obat COVID-19 Ini Tak Selalu Cegah Rawat Inap
ilustrasi obat COVID-19 Paxlovid (commons.wikimedia.org/James Heilman, MD)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Paxlovid tidak menurunkan risiko rawat inap atau kematian pada pasien berisiko tinggi yang sudah divaksinasi.

  • Obat ini tetap mempercepat pemulihan dan menurunkan viral load.

  • Penggunaan Paxlovid kini lebih tepat dipertimbangkan secara individual, bukan rutin.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Peran obat antivirus dalam penanganan COVID-19 terus berkembang, seiring perubahan lanskap pandemi. Vaksinasi luas dan kekebalan populasi yang meningkat membuat efektivitas terapi yang dulu sangat menjanjikan perlu dievaluasi ulang.

Temuan terbaru dari uji klinis besar yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa manfaat Paxlovid tidak lagi sama seperti di awal pandemi—terutama pada populasi yang sudah divaksinasi. Namun, cerita tentang obat ini tidak sesederhana “efektif” atau “tidak efektif”.

Table of Content

Temuan penelitian

Temuan penelitian

Dua uji klinis besar—PANORAMIC di Inggris dan CanTreatCOVID di Kanada—mengamati efektivitas Paxlovid (nirmatrelvir–ritonavir) pada pasien COVID-19 berisiko tinggi yang sudah divaksinasi. Para peserta adalah orang dewasa yang terinfeksi dalam waktu kurang dari lima hari, dengan mayoritas memiliki faktor risiko seperti usia di atas 50 tahun atau penyakit penyerta seperti diabetes dan asma.

Hasilnya konsisten: tidak ada penurunan signifikan dalam angka rawat inap atau kematian. Dalam uji PANORAMIC, sekitar 0,8 persen pasien yang menerima Paxlovid dirawat atau meninggal, dibandingkan 0,7 persen pada kelompok tanpa obat. Sementara di CanTreatCOVID, angkanya 0,6 persen vs 1,2 persen. Secara statistik, perbedaan ini tidak cukup kuat untuk menyimpulkan manfaat dalam mencegah hasil akhir yang berat.

Temuan ini menandai pergeseran penting. Studi sebelumnya (seperti EPIC-HR) menunjukkan penurunan risiko hingga 89 persen, tetapi dilakukan pada populasi yang belum divaksinasi. Dalam konteks sekarang—di mana sebagian besar orang sudah memiliki kekebalan—manfaat tersebut tampaknya berkurang.

Paxlovid masih memberikan manfaat

Kotak obat Paxlovid produksi Pfizer berisi tablet nirmatrelvir dan ritonavir untuk penggunaan oral dalam pengobatan COVID-19.
ilustrasi obat COVID-19 Paxlovid (en.wikipedia.org/Kches16414)

Walaupun tidak menurunkan risiko rawat inap atau kematian, tetapi Paxlovid tetap menunjukkan manfaat klinis yang nyata dalam hal pemulihan. Pasien yang menerima obat ini pulih lebih cepat.

Dalam studi PANORAMIC, median waktu pemulihan adalah 14 hari pada kelompok Paxlovid, dibandingkan 21 hari pada kelompok perawatan biasa. Dalam studi CanTreatCOVID, perbedaannya 6 hari vs 9 hari. Ini berarti Paxlovid membantu mempercepat fase akut penyakit secara signifikan.

Selain itu, sub-studi menunjukkan bahwa viral load SARS-CoV-2 lebih rendah pada akhir pengobatan dengan Paxlovid. Ini mengindikasikan bahwa obat tersebut tetap memiliki aktivitas antivirus yang kuat, meskipun dampaknya terhadap hasil akhir yang berat tidak terlihat dalam populasi ini.

Namun, efek samping juga cukup sering dilaporkan, terutama gangguan rasa dan masalah gastrointestinal. Beberapa pasien bahkan menghentikan pengobatan sebelum selesai. Ini menjadi pertimbangan tambahan dalam penggunaan klinis.

Lantas, apakah ke depannya penggunaan Paxlovid akan dihentikan?

Temuan ini tidak berarti Paxlovid menjadi tidak berguna. Justru, pendekatannya menjadi lebih selektif dan berbasis individu.

Editorial dalam New England Journal of Medicine oleh Anthony Fauci dan kolega menekankan bahwa manfaat obat ini tetap relevan dalam konteks tertentu. Misalnya, pada lansia, individu dengan sistem imun lemah, atau mereka yang membutuhkan pemulihan lebih cepat karena kondisi tertentu.

Mereka juga mengingatkan agar hasil studi tidak diinterpretasikan secara berlebihan. Penurunan viral load dan percepatan pemulihan tetap merupakan indikator efektivitas klinis, meskipun tidak terlihat pada outcome paling berat seperti kematian.

Dengan kata lain, keputusan penggunaan Paxlovid kini lebih bersifat personal. Dokter perlu mempertimbangkan profil risiko pasien, status imun, dan kebutuhan klinis secara menyeluruh sebelum meresepkan obat ini.

Ke depan, strategi pengobatan COVID-19 kemungkinan akan makin terarah dan individual. Tidak semua pasien butuh intervensi yang sama, terutama dalam populasi dengan tingkat kekebalan yang sudah tinggi.

Paxlovid masih memiliki tempat dalam terapi, tetapi bukan lagi sebagai solusi universal. Memahami konteks penggunaan menjadi kunci dalam memaksimalkan manfaatnya.

Referensi

"Paxlovid doesn’t reduce hospitalization, death rates in vaccinated high-risk COVID outpatients, trial shows." CIDRAP. Diakses April 2026.

Barbra A. Dickerman et al., “Weight Change, Obesity and Risk of Prostate Cancer Progression Among Men With Clinically Localized Prostate Cancer,” International Journal of Cancer 141, no. 5 (May 24, 2017): 933–44, https://doi.org/10.1002/ijc.30803.

"COVID antiviral speeds recovery but doesn't reduce hospitalization in vaccinated patients, trials find." EurekAlert! Diakses April 2026.

Barbra A. Dickerman et al., “Weight Change, Obesity and Risk of Prostate Cancer Progression Among Men With Clinically Localized Prostate Cancer,” International Journal of Cancer 141, no. 5 (May 24, 2017): 933–44, https://doi.org/10.1002/ijc.30803.

Share
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More