Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tubuh Gemuk Lebih Rentan Kepanasan, Benarkah?
ilustrasi seorang laki-laki dengan berat badan berlebih kepanasan saat berolahraga di luar ruangan (magnific.com/freepik)
  • Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan obesitas lebih rentan terhadap stres panas karena lapisan lemak menghambat pelepasan panas dan meningkatkan suhu inti tubuh saat cuaca terik.
  • Tubuh besar menghasilkan lebih banyak panas selama aktivitas fisik, sementara luas permukaan kulit yang relatif kecil membuat proses pendinginan melalui keringat menjadi kurang efisien.
  • Risiko heat exhaustion dan heat stroke meningkat pada orang dengan obesitas, terutama di tengah perubahan iklim yang memicu gelombang panas lebih sering dan intens.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat cuaca sedang terik, ada orang yang masih bisa beraktivitas dengan nyaman, dan ada pula yang baru berjalan beberapa menit keringat sudah bercucuran, wajah memerah, dan merasa seperti kepanasan dari dalam.

Kondisi ini sering dianggap cuma toleransi terhadap cuaca, padahal komposisi tubuh berkontribusi terhadap cara seseorang menghadapi panas.

Para peneliti menemukan bahwa individu yang obesitas berisiko lebih tinggi mengalami gangguan akibat panas, mulai dari ketidaknyamanan ringan hingga kondisi serius seperti heat exhaustion dan heat stroke. Berkaitan dengan cara tubuh menghasilkan, menyimpan, dan melepaskan panas, yuk terus baca penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Tubuh terus menghasilkan panas

Setiap detik, tubuh menghasilkan panas. Bahkan saat kamu duduk diam, sel-sel tubuh terus membakar energi untuk mempertahankan fungsi organ, sirkulasi darah, dan aktivitas metabolisme. Saat berjalan, naik tangga, berolahraga, atau melakukan pekerjaan fisik, produksi panas meningkat lebih besar.

Agar suhu inti tubuh tetap berada di sekitar 37 derajat Celsius, panas tersebut harus dibuang. Tubuh memiliki beberapa mekanisme utama untuk melakukannya:

  • Mengalirkan panas ke kulit melalui sirkulasi darah.

  • Mengeluarkan panas melalui radiasi ke lingkungan.

  • Melepaskan panas melalui penguapan keringat.

Masalah terjadi ketika panas yang dihasilkan lebih besar daripada panas yang bisa dibuang. Nah, obesitas bisa mengganggu keseimbangan ini, membuat tubuh lebih sulit mempertahankan suhu yang aman selama terpapar panas.

Obesitas dan kesulitan membuang panas

Lemak memiliki kemampuan menghantarkan panas yang lebih rendah dibanding jaringan tubuh lain. Dalam praktiknya, lapisan lemak yang lebih tebal dapat bertindak seperti isolasi termal.

Dalam lingkungan dingin, kondisi tersebut menguntungkan karena membantu mempertahankan panas tubuh. Namun, ketika cuaca panas atau saat tubuh menghasilkan panas dalam jumlah besar, isolasi tersebut justru menjadi hambatan. Panas yang diproduksi di dalam tubuh menjadi lebih sulit mencapai permukaan kulit untuk dibuang.

Peneliti dari Universitas Ottawa, Kanada, menjelaskan bahwa peningkatan ketebalan jaringan lemak dapat mengurangi efisiensi perpindahan panas dari inti tubuh ke lingkungan sekitar. Akibatnya, suhu inti tubuh dapat meningkat lebih cepat dibanding individu dengan kadar lemak tubuh yang lebih rendah.

Tubuh besar menghasilkan lebih banyak panas

ilustrasi pria sedang minum air mineral dalam kemasan (pexels.com/Artem Podrez)

Makin besar ukuran tubuh, makin banyak jaringan yang harus dipertahankan dan makin tinggi energi yang dibutuhkan untuk bergerak.

Ibaratnya, dua orang berjalan dengan kecepatan yang sama. Orang dengan berat badan lebih besar umumnya harus mengeluarkan energi lebih besar untuk memindahkan massa tubuhnya. Karena sebagian besar energi tersebut akhirnya berubah menjadi panas, produksi panas tubuh juga meningkat.

Penelitian menunjukkan individu dengan obesitas mengalami penyimpanan panas tubuh (heat storage) yang lebih tinggi selama aktivitas fisik dibanding kelompok dengan berat badan normal. Artinya, tubuh mereka cenderung mengumpulkan panas lebih cepat.

Berkeringat lebih banyak belum tentu lebih efektif

Banjir keringat bukan berarti tubuh lebih baik dalam mendinginkan diri. Akan tetapi, penelitian menunjukkan, orang dengan obesitas sering menghasilkan lebih banyak keringat secara total. Namun, pendinginan tubuh bergantung pada seberapa banyak keringat yang menguap, bukan cuma yang keluar. Jika keringat hanya menetes dari kulit atau terserap pakaian, efek pendinginannya jauh berkurang.

Selain itu, luas permukaan tubuh relatif terhadap massa tubuh cenderung lebih kecil pada individu dengan obesitas. Kondisi ini mengurangi kemampuan tubuh membuang panas ke lingkungan.

Dengan kata lain, tubuh bisa saja banjir keringat namun menyimpan panas berlebih.

Risiko heat exhaustion dan heat stroke meningkat

Dampak paling penting dari mekanisme-mekanisme yang dijelaskan di atas adalah meningkatnya risiko penyakit terkait panas. Dan, obesitas merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penyakit akibat panas.

Kondisi yang perlu diwaspadai meliputi:

Heat exhaustion

Kondisi ini terjadi ketika tubuh kehilangan banyak cairan dan kesulitan mengendalikan suhu. Gejalanya meliputi:

  • Kelelahan berat.

  • Pusing.

  • Mual.

  • Keringat berlebihan.

  • Detak jantung cepat.

  • Sakit kepala.

Heat stroke

Ini merupakan kondisi darurat medis. Suhu tubuh dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius dan mekanisme pendinginan tubuh mulai gagal. Gejalanya antara lain:

  • Kebingungan.

  • Bicara tidak jelas.

  • Hilang kesadaran.

  • Kejang.

  • Kulit terasa sangat panas.

Tanpa penanganan cepat, heat stroke dapat menyebabkan kerusakan organ permanen hingga kematian.

Mengapa risiko ini kini makin penting?

ilustrasi obesitas (pexels.com/Andres Ayrton)

Perubahan iklim membuat gelombang panas terjadi lebih sering dan lebih intens di banyak wilayah.

Para peneliti menyebut obesitas dan paparan panas ekstrem sebagai kombinasi yang makin mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat global.

Bagi jutaan orang yang hidup dengan obesitas, kemampuan tubuh mengelola panas dapat menjadi faktor kesehatan yang penting, terutama saat suhu lingkungan terus meningkat.

Tips agar tidak mudah kepanasan

Kabar baiknya, ada banyak langkah praktis yang dapat membantu.

  • Jaga hidrasi dengan baik. Kekurangan cairan membuat tubuh lebih sulit memproduksi keringat dan mempertahankan sirkulasi darah ke kulit.

  • Hindari aktivitas berat saat sedang panas-panasnya. Biasanya antara pukul 10.00 hingga 16.00.

  • Gunakan pakaian yang ringan dan mudah menyerap keringat. Pakaian yang terlalu tebal atau tidak memiliki ventilasi baik dapat memerangkap panas.

  • Cari lingkungan yang lebih sejuk. Kipas angin, pendingin ruangan, atau area teduh dapat membantu mengurangi beban panas tubuh.

  • Tingkatkan kebugaran secara bertahap. Kebugaran kardiorespirasi yang lebih baik dapat meningkatkan toleransi tubuh terhadap panas.

  • Jika memungkinkan, turunkan berat badan secara bertahap. Penurunan berat badan dapat memperbaiki kemampuan tubuh dalam mengatur suhu dan mengurangi risiko stres panas.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa tubuh dengan kadar lemak berlebih memang menghadapi tantangan yang lebih besar dalam membuang panas. Lapisan lemak yang berfungsi sebagai isolasi, produksi panas yang lebih tinggi saat bergerak, serta efisiensi pendinginan tubuh yang lebih rendah membuat orang dengan obesitas lebih rentan mengalami stres panas.

Namun, ini bisa diatasi. Dengan hidrasi yang cukup, kebugaran yang baik, strategi menghadapi cuaca panas, dan pengelolaan berat badan, tubuh tetap dapat beradaptasi dan mengurangi risiko gangguan akibat panas.

Referensi

G. P. Kenny et al., “Heat Stress in Older Individuals and Patients With Common Chronic Diseases,” Canadian Medical Association Journal 182, no. 10 (August 24, 2009): 1053–60, https://doi.org/10.1503/cmaj.081050.

Margaret C. Morrissey et al., “The Impact of Body Fat on Thermoregulation During Exercise in the Heat: A Systematic Review and Meta-analysis,” Journal of Science and Medicine in Sport 24, no. 8 (June 12, 2021): 843–50, https://doi.org/10.1016/j.jsams.2021.06.004.

Daniel S. Moran et al., “Heat Intolerance: Does Gene Transcription Contribute?,” Journal of Applied Physiology 100, no. 4 (December 15, 2005): 1370–76, https://doi.org/10.1152/japplphysiol.01261.2005.

G. P. Kenny et al., “Heat Stress in Older Individuals and Patients With Common Chronic Diseases,” Canadian Medical Association Journal 182, no. 10 (August 24, 2009): 1053–60, https://doi.org/10.1503/cmaj.081050.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "Heat and Health." Diakses Juni 2026.

Christian A. Koch et al., “Climate Change and Obesity,” Hormone and Metabolic Research 53, no. 09 (September 1, 2021): 575–87, https://doi.org/10.1055/a-1533-2861.

Périard JD, Racinais S, Jay O, editors. "Heat Stress in Sport and Exercise: Thermophysiology of Health and Performance." Springer; 2019. ISBN 978‑3‑319‑93514‑0.

Editorial Team

Related Article