Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Panduan BIAS 2026: Jadwal dan Sasaran Imunisasi Anak
ilustrasi imunisasi anak (magnific.com/magnific)
  • BIAS merupakan program imunisasi rutin anak usia sekolah yang dilaksanakan dua kali setahun, pada Agustus dan November. Jenis vaksinnya berbeda menurut kelas atau usia anak.

  • Pada Agustus, sasaran utama meliputi MR untuk kelas 1 dan HPV untuk kelas 5 serta kelompok imunisasi kejar. Pada November diberikan DT untuk kelas 1 serta Td untuk kelas 2 dan kelas 5.

  • Ada perubahan penting pada 2026: vaksin HPV mulai diberikan kepada anak laki-laki kelas 5/usia 11 tahun secara bertahap, dengan tahap awal di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perlindungan lewat imunisasi yang dibentuk sejak bayi perlu dilanjutkan pada usia sekolah, sementara ada vaksin tertentu memang diberikan ketika usia anak sudah lebih besar.

Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) menjadi bagian dari Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) dan ditujukan agar anak usia sekolah mendapatkan imunisasi lanjutan sesuai usianya. Kementerian Kesehatan menetapkan BIAS berlangsung setiap tahun dalam dua periode, yaitu Agustus dan November.

Jadwal dan sasaran BIAS 2026

BIAS tidak memberikan vaksin yang sama kepada semua anak. Vaksin disesuaikan dengan kelas atau usia sasaran.

Berdasarkan jadwal dari Kementerian Kesehatan dan pelaksanaan BIAS 2026 di daerah, pembagiannya adalah sebagai berikut:

Waktu

Sasaran sekolah

Usia

Imunisasi

Agustus

Kelas 1 SD/MI/sederajat

7 tahun

Campak-Rubela (MR)

Agustus

Kelas 5

11 tahun

HPV 1 dosis*

Agustus

Kelas 6

12 tahun

HPV imunisasi kejar**

Agustus

Kelas 9

15 tahun

HPV imunisasi kejar**

November

Kelas 1

7 tahun

DT

November

Kelas 2

8 tahun

Td

November

Kelas 5

11 tahun

Td

* Untuk anak perempuan merupakan sasaran rutin. Pada 2026, pemberian kepada anak laki-laki mulai diperluas secara bertahap.

** Kementerian Kesehatan mencantumkan imunisasi kejar HPV bagi anak perempuan usia 12 dan 15 tahun yang belum pernah mendapatkannya. Untuk anak laki-laki usia 12 tahun, imunisasi kejar berlaku di daerah yang telah memulai program HPV pada anak laki-laki.

Tanggal pelaksanaan ditentukan berdasarkan jadwal dinas kesehatan, puskesmas, dan sekolah di masing-masing wilayah.

Kenapa masih perlu imunisasi saat sudah sekolah?

ilustrasi imunisasi anak (magnific.com/magnific)

BIAS bukan cuma mengulang vaksin yang pernah diterima ketika bayi.

Untuk campak, misalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan dua dosis vaksin yang mengandung campak sebagai standar program imunisasi karena tidak semua anak menghasilkan kekebalan setelah dosis pertama. Dosis berikutnya memberi kesempatan perlindungan kepada anak yang belum merespons dosis sebelumnya dan membantu mempertahankan cakupan populasi yang tinggi.

Hal serupa berlaku pada difteri dan tetanus. Setelah seri primer pada masa bayi, dosis booster diperlukan untuk mempertahankan perlindungan jangka panjang. WHO merekomendasikan pemberian booster vaksin yang mengandung toksoid difteri dan tetanus pada masa kanak-kanak dan remaja.

DT mengandung toksoid difteri dalam konsentrasi lebih tinggi bersama tetanus dan digunakan pada anak lebih kecil, sedangkan Td mengandung kadar toksoid difteri yang lebih rendah dan digunakan sebagai booster pada kelompok usia yang lebih besar.

Pemberian vaksin MR juga penting karena masih adanya penularan campak. Sebagai contoh, hingga minggu ke-8 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 8.372 kasus campak dan 45 kejadian luar biasa (KLB) di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Tinjauan sistematis mengenai program vaksinasi berbasis sekolah menemukan bahwa sekolah memungkinkan program menjangkau banyak anak dalam waktu relatif singkat, meskipun keberhasilannya tetap bergantung pada koordinasi sekolah, tenaga kesehatan, komunikasi dengan orang tua, serta mekanisme mengejar anak yang belum divaksinasi.

Yang berbeda pada BIAS 2026: vaksin HPV untuk anak laki-laki

Sejak 2025, Indonesia mengubah jadwal HPV dalam program menjadi satu dosis. Untuk imunisasi rutin, sasaran utamanya adalah anak perempuan kelas 5 atau usia 11 tahun, ditambah imunisasi kejar pada anak perempuan usia 12 dan 15 tahun yang belum pernah divaksinasi.

Kenapa satu dosis?

Dalam uji acak KEN SHE terhadap 2.275 perempuan muda usia 15–20 tahun, satu dosis vaksin HPV 9-valen memberikan efektivitas 98,8 persen terhadap infeksi persisten HPV 16/18 setelah tiga tahun. Perlindungan terhadap tujuh tipe HPV onkogenik yang tercakup vaksin 9-valen mencapai 95,5 persen. Tidak ditemukan kejadian serius yang berkaitan dengan vaksin.

Pada 2026, program HPV mulai diperluas kepada anak laki-laki kelas 5 atau usia 11 tahun.

Tahap awal atau pilot dilaksanakan di tiga provinsi: DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali.

Kementerian Kesehatan menyatakan perluasan kepada anak laki-laki dilakukan secara bertahap. HPV juga berkaitan dengan kanker anus, penis, dan orofaring serta kutil kelamin pada laki-laki.

Kalau anak tidak sekolah atau tidak masuk saat BIAS, bagaimana?

ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Ron Lach)

Hak mendapatkan imunisasi tidak terbatas pada anak yang bersekolah formal.

Kementerian Kesehatan menggunakan padanan usia untuk anak yang tidak bersekolah: usia 7 tahun untuk sasaran kelas 1, 8 tahun untuk kelas 2, 11 tahun untuk kelas 5, 12 tahun untuk kelas 6, dan 15 tahun untuk kelas 9.

Pelayanan dapat diberikan di puskesmas, posyandu, fasilitas kesehatan, maupun pos imunisasi di tempat berkumpulnya anak seperti panti asuhan, rumah singgah, lembaga kesejahteraan sosial, dan sekolah nonformal.

Anak yang sakit, tidak hadir, atau terlewat pada hari BIAS di sekolah juga tidak otomatis kehilangan kesempatan. Kemenkes menyebut imunisasi yang belum didapat bisa diberikan melalui puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Orang tua sebaiknya menghubungi sekolah atau puskesmas pengampu untuk mengetahui jadwal susulan di wilayah masing-masing.

Setelah imunisasi, reaksi ringan seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan dan demam dapat terjadi dan biasanya membaik dalam beberapa hari. Kemenkes menyebut KIPI serius setelah imunisasi sangat jarang. Anak perlu dinilai tenaga kesehatan bila keluhan berat muncul atau gejala tidak membaik.

BIAS melengkapi satu rangkaian panjang imunisasi sejak bayi. MR pada kelas 1, booster DT/Td, serta HPV pada usia menjelang remaja memiliki tujuan yang berbeda, tetapi prinsipnya sama, yaitu membangun perlindungan sebelum anak berhadapan dengan penyakit yang dapat dicegah.

Orang tua atau pengasuh perlu melihat pemberitahuan dari sekolah dan puskesmas, memeriksa riwayat imunisasi anak, serta memanfaatkan jadwal susulan bila ada dosis yang terlewat.

Referensi

World Health Organization (WHO), “Measles Vaccines: WHO Position Paper—April 2017,” Weekly Epidemiological Record 92, no. 17 (2017): 205–227.

WHO, “Diphtheria Vaccines: WHO Position Paper—August 2017,” Weekly Epidemiological Record 92, no. 31 (2017): 417–436.

WHO, “Tetanus Vaccines: WHO Position Paper—February 2017,” Weekly Epidemiological Record 92, no. 6 (2017): 53–76.

Sarah Perman et al., “School-Based Vaccination Programmes: A Systematic Review of the Evidence on Organisation and Delivery in High Income Countries,” BMC Public Health 17 (2017): 252.

Ruanne V. Barnabas et al., “Durability of Single-Dose HPV Vaccination in Young Kenyan Women: Randomized Controlled Trial 3-Year Results,” Nature Medicine 29, no. 12 (2023): 3224–3232.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), “Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS),” Ayo Sehat, diakses Agustus 2026.

Kemenkes, “Vaksin HPV, Mencegah Kanker Leher Rahim Demi Mewujudkan Generasi Sehat,” Ayo Sehat, diakses Agustus 2026.

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, “Agustus 2026 Imunisasi HPV Anak Laki-Laki di Kota Yogyakarta,” diakses Agustus 2026.

Kemenkes, "Waspada Campak Jelang Libur Lebaran, Kemenkes Percepat Imunisasi Anak di Wilayah Risiko," diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article