ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Ron Lach)
Hak mendapatkan imunisasi tidak terbatas pada anak yang bersekolah formal.
Kementerian Kesehatan menggunakan padanan usia untuk anak yang tidak bersekolah: usia 7 tahun untuk sasaran kelas 1, 8 tahun untuk kelas 2, 11 tahun untuk kelas 5, 12 tahun untuk kelas 6, dan 15 tahun untuk kelas 9.
Pelayanan dapat diberikan di puskesmas, posyandu, fasilitas kesehatan, maupun pos imunisasi di tempat berkumpulnya anak seperti panti asuhan, rumah singgah, lembaga kesejahteraan sosial, dan sekolah nonformal.
Anak yang sakit, tidak hadir, atau terlewat pada hari BIAS di sekolah juga tidak otomatis kehilangan kesempatan. Kemenkes menyebut imunisasi yang belum didapat bisa diberikan melalui puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Orang tua sebaiknya menghubungi sekolah atau puskesmas pengampu untuk mengetahui jadwal susulan di wilayah masing-masing.
Setelah imunisasi, reaksi ringan seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan dan demam dapat terjadi dan biasanya membaik dalam beberapa hari. Kemenkes menyebut KIPI serius setelah imunisasi sangat jarang. Anak perlu dinilai tenaga kesehatan bila keluhan berat muncul atau gejala tidak membaik.
BIAS melengkapi satu rangkaian panjang imunisasi sejak bayi. MR pada kelas 1, booster DT/Td, serta HPV pada usia menjelang remaja memiliki tujuan yang berbeda, tetapi prinsipnya sama, yaitu membangun perlindungan sebelum anak berhadapan dengan penyakit yang dapat dicegah.
Orang tua atau pengasuh perlu melihat pemberitahuan dari sekolah dan puskesmas, memeriksa riwayat imunisasi anak, serta memanfaatkan jadwal susulan bila ada dosis yang terlewat.
Referensi
World Health Organization (WHO), “Measles Vaccines: WHO Position Paper—April 2017,” Weekly Epidemiological Record 92, no. 17 (2017): 205–227.
WHO, “Diphtheria Vaccines: WHO Position Paper—August 2017,” Weekly Epidemiological Record 92, no. 31 (2017): 417–436.
WHO, “Tetanus Vaccines: WHO Position Paper—February 2017,” Weekly Epidemiological Record 92, no. 6 (2017): 53–76.
Sarah Perman et al., “School-Based Vaccination Programmes: A Systematic Review of the Evidence on Organisation and Delivery in High Income Countries,” BMC Public Health 17 (2017): 252.
Ruanne V. Barnabas et al., “Durability of Single-Dose HPV Vaccination in Young Kenyan Women: Randomized Controlled Trial 3-Year Results,” Nature Medicine 29, no. 12 (2023): 3224–3232.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), “Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS),” Ayo Sehat, diakses Agustus 2026.
Kemenkes, “Vaksin HPV, Mencegah Kanker Leher Rahim Demi Mewujudkan Generasi Sehat,” Ayo Sehat, diakses Agustus 2026.
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, “Agustus 2026 Imunisasi HPV Anak Laki-Laki di Kota Yogyakarta,” diakses Agustus 2026.
Kemenkes, "Waspada Campak Jelang Libur Lebaran, Kemenkes Percepat Imunisasi Anak di Wilayah Risiko," diakses Agustus 2026.