Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Paparan 'Forever Chemical' Bisa Ganggu Proses Awal Kehamilan

Ilustrasi kesehatan reproduksi perempuan.
ilustrasi kesehatan reproduksi perempuan (vecteezy.com/Dzianis Vasilyeu)
Intinya sih...
  • Paparan terhadap perfluorooctanoic acid (PFOA), senyawa PFAS umum, dapat mengganggu proses awal kehamilan.
  • Studi pada hewan menunjukkan PFOA menurunkan hormon penting dan mengubah struktur rahim yang mendukung implantasi.
  • Karena paparan ini terjadi sehari-hari, penting memahami peran PFAS dalam kesehatan reproduksi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Paparan terhadap bahan kimia lingkungan tampaknya merupakan isu kesehatan masa kini, tetapi bukan sekadar masalah polusi visual atau kualitas udara. Ada kelas zat kimia yang disebut per-and poly fluoroalkyl substances (PFAS) yang sering disebut forever chemicals karena kemampuannya bertahan lama di lingkungan dan tubuh manusia.

Salah satu PFAS yang paling banyak dibahas adalah perfluorooctanoic acid (PFOA), yang digunakan dalam berbagai produk industri, tahan panas, dan tahan air, seperti kemasan makanan, peralatan masak antilengket, tekstil, dan air minum yang terkontaminasi.

Para ilmuwan telah lama mencurigai bahwa paparan PFAS bisa berdampak pada kesehatan reproduksi, termasuk gangguan menstruasi, menopause dini, dan cadangan ovarium yang menurun. Namun sampai saat ini, masih banyak pertanyaan, terutama terkait bagaimana PFOA bisa memengaruhi tahap awal kehamilan, yang pada waktu ini embrio harus menempel pada dinding rahim untuk memulai masa pertumbuhan.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Reproductive and Developmental Medicine mencoba menjawab pertanyaan ini. Dalam studi pada tikus yang diberikan PFOA secara oral selama jendela kritis implantasi, para peneliti menemukan bahwa PFOA tidak hanya memengaruhi hormon reproduksi, tetapi juga mengubah struktur dan sinyal biokimia yang diperlukan agar embrio bisa menempel dengan sukses di dalam rahim.

Cara PFOA mengganggu kehamilan sejak awal

Salah satu rangkaian temuan utama studi ini adalah bahwa paparan PFOA mengurangi kadar progesteron dalam darah. Progesteron merupakan hormon kunci yang diproduksi setelah ovulasi untuk mempersiapkan lapisan rahim agar bisa menerima embrio. Ketika kadar progesteron menurun, kemampuan rahim menjadi “reseptif” atau peka terhadap benih kehidupan juga berkurang.

Lebih dari itu, para peneliti melihat perubahan mikroskopis pada permukaan endometrium (lapisan rahim), khususnya pada struktur yang disebut pinopode.

Pinopode adalah tonjolan kecil pada jaringan rahim yang berperan sebagai tempat utama lampiran embrio pada tahap awal kehamilan. Dalam penelitian ini, tikus yang terpapar PFOA menunjukkan penurunan jumlah pinopode sesuai dengan dosis PFOA, sebuah indikasi bahwa rahim menjadi kurang siap untuk menerima embrio.

Selain itu, ekspresi dua sitosin penting untuk komunikasi antar jaringan saat implantasi, yaitu interleukin-1β (IL-1β) dan interleukin-6 (IL-6), juga mengalami penurunan. Kedua molekul ini memainkan peran besar dalam “percakapan” antara embrio dan lapisan rahim selama jendela implantasi. Ketika sinyal ini terganggu, kemampuan embrio untuk menempel dan tumbuh bisa berkurang secara signifikan.

Studi ini tidak hanya menunjukkan bahwa PFOA memengaruhi satu atau dua target, tetapi bahwa PFOA mengubah beberapa jalur kunci dalam proses biologi reproduksi—dari hormon hingga struktur jaringan dan sinyal imunologi di rahim—sehingga keseluruhan lingkungan mikro pada awal kehamilan menjadi kurang kondusif bagi keberhasilan implantasi.

Implikasi bagi kesehatan reproduksi dan langkah selanjutnya

Ilustrasi kesehatan reproduksi.
ilustrasi kesehatan reproduksi perempuan (freepik.com/atlascompany)

Temuan ini menggema di tengah kekhawatiran yang lebih luas tentang forever chemicals dan kesehatan reproduksi. Metaanalisis populasi yang mengumpulkan berbagai laporan epidemiologi menemukan bahwa paparan PFAS, termasuk PFOA, secara konsisten terkait dengan penurunan fecundability (kemungkinan hamil) serta peningkatan risiko infertilitas pada perempuan.

Selain itu, bukti dari penelitian klinis menunjukkan bahwa PFAS bisa berdampak negatif bahkan pada perempuan yang menjalani prosedur bantu reproduksi seperti IVF, dengan paparan tinggi berhubungan dengan sejumlah indikator fertilitas yang lebih rendah.

Kesimpulannya, paparan PFAS bisa menjadi faktor risiko tersembunyi yang memengaruhi keberhasilan kehamilan. Para peneliti menekankan perlunya studi lanjutan pada manusia dan juga upaya kesehatan masyarakat untuk mengurangi paparan terhadap bahan kimia yang diketahui mengganggu sistem endokrin ini.

Referensi

Li, Bowen, et al. “The Effect of Perfluorooctanoic Acid on Ovarian Progesterone Production and Endometrial Receptivity,” Reproductive and Developmental Medicine (January 2025). https://journals.lww.com/rdm/fulltext/2025/12000/the_effect_of_perfluorooctanoic_acid_on_ovarian.3.aspx.

“Perfluorooctanoic Acid (PFOA) Exposure Compromises Fertility by Affecting Ovarian and Oocyte Development,” International Journal of Molecular Sciences (2024).

“Per- and Polyfluoroalkyl Substances (PFAS) Affect Female Reproductive Health,” Toxics 12, no.9 (2023).

“The Effects of Per- and Polyfluoroalkyl Substances on Female Fertility: A Systematic Review and Meta-analysis,” PubMed (2022).

“Associations between PFAS and Reproductive Outcomes in Women Undergoing IVF/ICSI,” PubMed (2025).

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

14 Penyebab Kemandulan pada Pria, Bikin Khawatir!

30 Jan 2026, 22:22 WIBHealth