Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jalan Kaki 10 Menit Sekaligus atau Dicicil, Mana Lebih Baik?

4 min read
Jalan Kaki 10 Menit Sekaligus atau Dicicil, Mana Lebih Baik?
ilustrasi jalan kaki saat istirahat makan siang (pexels.com/Zen Chung)
  • Jalan kaki tidak harus dilakukan minimal 10 menit berturut-turut agar aktivitasnya dihitung.

  • Jika total durasi dan intensitasnya sama, jalan kaki sekaligus maupun dicicil memberi manfaat serupa untuk banyak indikator kesehatan.

  • Yang penting adalah mengumpulkan cukup aktivitas per minggu. Jalan cepat dengan intensitas sedang berarti kamu masih bisa berbicara, tetapi sulit bernyanyi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat istirahat makan siang, kamu mungkin cuma punya waktu jalan kaki 5 menit. Sore harinya, ada waktu 5 menit lagi. Apakah dua sesi pendek itu tetap bermanfaat, atau harus menunggu sampai punya waktu untuk berjalan 10 menit penuh?

Menurut pedoman aktivitas fisik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidak ada lagi syarat bahwa aktivitas aerobik harus dilakukan setidaknya 10 menit berturut-turut agar dihitung. Aktivitas dengan durasi lebih pendek tetap berkontribusi pada kesehatan.

Artinya, jalan kaki 10 menit sekaligus dan jalan kaki yang dibagi menjadi beberapa sesi sama-sama bisa menjadi pilihan. Namun, perbandingannya paling adil jika total durasi dan intensitasnya setara. Jalan cepat selama 10 menit, misalnya, tidak sama dengan berjalan santai selama 2 menit jika tujuan kamu mengumpulkan aktivitas berintensitas sedang.

  1. Apa kata penelitian?

    Metaanalisis terhadap 19 studi dengan total 1.080 peserta membandingkan olahraga sekaligus dengan olahraga yang dibagi menjadi beberapa sesi, ketika jenis aktivitas, intensitas, dan total durasinya sama. Hasilnya menunjukkan kedua pola memberikan manfaat serupa untuk sejumlah indikator, termasuk kebugaran jantung dan paru, tekanan darah, serta sebagian besar penanda gula darah dan lemak darah. Sejumlah kecil studi menemukan perbedaan pada berat badan dan kolesterol LDL, tetapi jumlah studinya terbatas.

    Riset yang lebih baru juga menyoroti manfaat sesi pendek sebagai jeda dari duduk terlalu lama. Sebuah tinjauan dan konsensus ahli pada 2025 menelaah 27 tinjauan sistematis dan 135 studi tentang aktivitas singkat yang dilakukan beberapa kali sehari. Penulisnya melaporkan bahwa sesi pendek untuk memutus waktu duduk dapat membantu memperbaiki respons gula darah setelah makan. Namun, kajian itu mencakup beragam bentuk aktivitas, bukan hanya jalan kaki. Temuan tersebut juga tidak berarti sesi pendek selalu lebih baik untuk semua manfaat kesehatan.

    Jadi, jika pekerjaan membuat kamu duduk lama, menyisipkan beberapa kali jalan kaki singkat bisa menjadi cara praktis untuk bergerak lebih sering. Jika lebih nyaman berjalan 10 menit sekaligus, itu juga pilihan yang baik.

  2. Hitung totalnya dalam seminggu

    Ilustrasi seorang pejalan kaki berjalan di trotoar kawasan perkotaan dengan gedung dan jalan raya di sekitarnya.
    ilustrasi pejalan kaki, perkotaan, jalan kaki (unsplash.com/Zhiqiang Wang)

    Untuk orang dewasa, WHO menganjurkan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu, atau 75 menit aktivitas intensitas berat, atau kombinasi keduanya.

    Untuk manfaat tambahan, orang dewasa dapat meningkatkan aktivitas sedang hingga 300 menit per minggu. Dianjurkan juga untuk melakukan latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu.

    Karena itu, jalan kaki 10 menit setiap hari tetap menjadi awal yang baik, tetapi jumlahnya baru 70 menit per minggu—belum mencapai target aktivitas sedang. Target 150 menit, misalnya, bisa dicapai dengan berjalan cepat selama 30 menit pada lima hari dalam seminggu, atau dengan membaginya menjadi sesi yang lebih pendek.

    Untuk mengecek intensitasnya, gunakan tes bicara, yaitu saat berjalan dengan intensitas sedang, kamu biasanya masih bisa berbicara, tetapi sulit bernyanyi.

    Jeda singkat bisa membantu mengisi waktu yang tersedia; sesi lebih panjang dapat dipilih jika lebih cocok dengan rutinitas. Yang perlu dijaga adalah total aktivitasnya terus bertambah dan dilakukan secara teratur. Jika baru mulai bergerak, sesi pendek pun bisa menjadi langkah awal yang baik, lalu durasi dan kecepatannya ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan.

    Referensi

    Fiona C. Bull et al., “World Health Organization 2020 Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour,” British Journal of Sports Medicine 54, no. 24 (2020): 1451–62, https://doi.org/10.1136/bjsports-2020-102955.

    World Health Organization, "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour: At a Glance," diakses 24 Oktober 2024.

    Marie H. Murphy, Ian M. Lahart, Angela Carlin, and Elaine Murtagh, “The Effects of Continuous Compared to Accumulated Exercise on Health: A Meta-Analytic Review,” Sports Medicine 49, no. 10 (2019): 1585–1607, https://doi.org/10.1007/s40279-019-01145-2.

    Mingyue Yin et al., “Short Bouts of Accumulated Exercise: Review and Consensus Statement on Definition, Efficacy, Feasibility, Practical Applications, and Future Directions,” Journal of Sport and Health Science 15 (2026): 101088. Published online September 18, 2025. https://doi.org/10.1016/j.jshs.2025.101088.

    World Health Organization, “Physical Activity,” diakses 24 Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “How to Measure Physical Activity Intensity,” diakses 24 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More