Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Mudik Bisa Memicu Stres pada Banyak Orang
ilustrasi suami tampak stres saat perjalanan mudik (freepik.com/jcomp)
  • Perjalanan panjang, kemacetan, dan kelelahan fisik dapat memicu stres selama mudik.

  • Tekanan sosial dan ekspektasi keluarga juga bisa memengaruhi kondisi emosional seseorang.

  • Stres selama perjalanan berkaitan dengan respons biologis tubuh terhadap situasi yang dianggap menantang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mudik memang dinanti banyak orang karena memberi kesempatan untuk berkumpul kembali dengan keluarga setelah lama berpisah. Namun, mudik juga bisa menjadi pengalaman yang melelahkan secara fisik dan emosional.

Stres yang dirasakan selama mudik sebenarnya merupakan respons tubuh terhadap berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan. Memahami penyebabnya bisa membantu kamu mengelola kondisi tersebut dengan lebih baik.

1. Perjalanan panjang dan kelelahan fisik

Perjalanan mudik sering melibatkan waktu tempuh yang panjang, terutama jika dilakukan dengan kendaraan darat. Duduk berjam-jam di kendaraan dapat menyebabkan kelelahan fisik, kurang tidur, dan ketidaknyamanan tubuh.

Kelelahan fisik dapat memicu respons stres karena tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis.

Kondisi seperti kemacetan lalu lintas, keterlambatan transportasi, dan perubahan jadwal tidur dapat memperburuk kelelahan selama perjalanan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kemacetan lalu lintas berkaitan dengan peningkatan tingkat stres dan emosi negatif pada pengemudi.

2. Tekanan sosial dan ekspektasi keluarga

ilustrasi perempuan mengalami stres (pexels.com/Mikhail Nilov)

Banyak orang merasa punya tanggung jawab untuk memenuhi harapan keluarga saat pulang ke kampung halaman.

Tekanan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Pertanyaan tentang pekerjaan atau karier.

  • Harapan untuk membawa hadiah atau oleh-oleh.

  • Ekspektasi untuk mengikuti berbagai kegiatan keluarga.

Interaksi sosial yang intens selama periode liburan dapat memicu stres, terutama jika kamu merasa harus memenuhi berbagai harapan sekaligus.

Penelitian juga menunjukkan bahwa tekanan sosial dapat memengaruhi kesehatan mental dan meningkatkan tingkat stres pada individu.

3. Perubahan rutinitas dan ketidakpastian

Mudik biasanya membuat rutinitas harian berubah secara drastis. Pola tidur, waktu makan, hingga aktivitas sehari-hari sering kali menjadi tidak teratur.

Perubahan ini dapat memengaruhi sistem biologis tubuh. Ketidakpastian dan perubahan lingkungan dapat memicu respons stres karena otak mencoba beradaptasi dengan situasi baru.

Saat kamu berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, misalnya menghadapi kemacetan atau jadwal perjalanan yang berubah, otak akan mengaktifkan sistem respons stres.

Respons ini melibatkan pelepasan hormon seperti kortisol, yang membantu tubuh menghadapi tantangan. Namun jika berlangsung lama, malah bisa menyebabkan kelelahan emosional.

4. Stres perjalanan memengaruhi tubuh dan emosi

ilustrasi stres saat perjalanan mudik (freepik.com/diana.grytsku)

Stres selama perjalanan tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga kondisi fisik.

Stres dapat memicu berbagai gejala seperti:

  • Sakit kepala.

  • Gangguan tidur.

  • Ketegangan otot.

  • Mudah marah.

Stres kronis dapat memengaruhi sistem hormon dan respons imun tubuh. Karena itu, mengelola stres selama perjalanan penting agar mudik tetap terasa menyenangkan, bukannya membebani.

Mudik punya makna emosional, tetapi perjalanan ini juga dapat memicu stres bagi banyak orang. Perjalanan panjang, kelelahan fisik, tekanan sosial, dan perubahan rutinitas dapat memicu respons stres pada tubuh.

Memahami penyebabnya dapat membantu kamu mencari cara untuk mengelolanya, misalnya dengan merencanakan perjalanan lebih matang, beristirahat cukup, dan menjaga ekspektasi yang realistis. Dengan begitu, kamu tetap bisa merasakan momen menyenangkan dan bermakna bersama keluarga di kampung halaman.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. “Stress at Work.” Diakses Maret 2026.

American Psychological Association. “Stress Effects on the Body.” Diakses Maret 2026.

National Institute of Mental Health. “Stress.” Diakses Maret 2026.

World Health Organization. “Stress.” Diakses Maret 2026.

Robert M Sapolsky, “Stress and the Brain: Individual Variability and the inverted-U,” Nature Neuroscience 18, no. 10 (September 25, 2015): 1344–46, https://doi.org/10.1038/nn.4109.

Hennessy, D.A. and Wiesenthal, D.L. (1999), Traffic congestion, driver stress, and driver aggression. Aggr. Behav., 25: 409-423. https://doi.org/10.1002/(SICI)1098-2337(1999)25:6<409::AID-AB2>3.0.CO;2-0.

Raymond W. Novaco, “Chapter 7 Aggression on Roadways,” in Advances in Psychology, 1991, 253–326, https://doi.org/10.1016/s0166-4115(08)61060-2.

Debra Umberson and Jennifer Karas Montez, “Social Relationships and Health: A Flashpoint for Health Policy,” Journal of Health and Social Behavior 51, no. 1_suppl (March 1, 2010): S54–66, https://doi.org/10.1177/0022146510383501.

Editorial Team