ilustrasi stres saat perjalanan mudik (freepik.com/diana.grytsku)
Stres selama perjalanan tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga kondisi fisik.
Stres dapat memicu berbagai gejala seperti:
Sakit kepala.
Gangguan tidur.
Ketegangan otot.
Mudah marah.
Stres kronis dapat memengaruhi sistem hormon dan respons imun tubuh. Karena itu, mengelola stres selama perjalanan penting agar mudik tetap terasa menyenangkan, bukannya membebani.
Mudik punya makna emosional, tetapi perjalanan ini juga dapat memicu stres bagi banyak orang. Perjalanan panjang, kelelahan fisik, tekanan sosial, dan perubahan rutinitas dapat memicu respons stres pada tubuh.
Memahami penyebabnya dapat membantu kamu mencari cara untuk mengelolanya, misalnya dengan merencanakan perjalanan lebih matang, beristirahat cukup, dan menjaga ekspektasi yang realistis. Dengan begitu, kamu tetap bisa merasakan momen menyenangkan dan bermakna bersama keluarga di kampung halaman.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention. “Stress at Work.” Diakses Maret 2026.
American Psychological Association. “Stress Effects on the Body.” Diakses Maret 2026.
National Institute of Mental Health. “Stress.” Diakses Maret 2026.
World Health Organization. “Stress.” Diakses Maret 2026.
Robert M Sapolsky, “Stress and the Brain: Individual Variability and the inverted-U,” Nature Neuroscience 18, no. 10 (September 25, 2015): 1344–46, https://doi.org/10.1038/nn.4109.
Hennessy, D.A. and Wiesenthal, D.L. (1999), Traffic congestion, driver stress, and driver aggression. Aggr. Behav., 25: 409-423. https://doi.org/10.1002/(SICI)1098-2337(1999)25:6<409::AID-AB2>3.0.CO;2-0.
Raymond W. Novaco, “Chapter 7 Aggression on Roadways,” in Advances in Psychology, 1991, 253–326, https://doi.org/10.1016/s0166-4115(08)61060-2.
Debra Umberson and Jennifer Karas Montez, “Social Relationships and Health: A Flashpoint for Health Policy,” Journal of Health and Social Behavior 51, no. 1_suppl (March 1, 2010): S54–66, https://doi.org/10.1177/0022146510383501.