Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Polusi Tersembunyi dari Bakaran Sampah dan Renovasi Rumah
ilustrasi merenovasi rumah (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Anak-anak lebih rentan terhadap polusi udara karena saluran napas kecil dan laju pernapasan cepat, membuat mereka menghirup lebih banyak polutan di sekitar permukaan tanah.

  • Membakar sampah rumah tangga menghasilkan partikel berbahaya seperti PM2.5, gas toksik, dan logam berat yang dapat memicu bronkitis, gangguan jantung, hingga kerusakan sistem saraf pada anak.

  • Aktivitas renovasi rumah melepaskan debu konstruksi dan senyawa VOC dari cat atau lem yang bisa menyebabkan ISPA berulang serta penurunan fungsi paru pada anak jika terpapar terus-menerus.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Anak-anak termasuk kelompok yang sensitif terhadap kualitas udara di sekitarnya. Saluran napas mereka lebih kecil dan kebutuhan cairannya lebih tinggi, sehingga lebih rentan terhadap gangguan kesehatan. Oleh sebab itu mereka butuh bantuan orang dewasa untuk memberikan perlindungan.

Menurut dr. Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp.Respi.(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), laju pernapasan mereka 2–3 kali lebih cepat dibanding orang dewasa dan tinggi badan yang lebih rendah membuat mereka menghirup polutan lebih banyak di dekat permukaan tanah.

Bakar sampah tidak hanya soal bau menyengat

Membakar sampah adalah kebiasaan umum ditemui. Banyak yang mengira membakar sampah di halaman rumah adalah solusi instan agar pekarangan bersih. Pernyataan ini didukung data yang menunjukkan bahwa 62,5 persen sampah rumah tangga tidak dikelola dengan baik, yang mana 6,7 persen berakhir dibakar.

Asap hasil pembakaran ini bukan cuma bau menyengat, tetapi mengandung materi partikular (PM2.5, PM.10), gas berbahaya (CO, NO2, SO2), hingga logam berat dan zat kimia beracun seperti PAH. Ini adalah musuh utama sistem pernapasan anak yang bisa memicu bronkitis hingga gangguan jantung jangka panjang.

“Semua zat-zat toksik ini bisa memicu efek, tidak hanya ke saluran napas sebetulnya, tapi ke sistemik, bisa bronkitis, infeksi atau sesak bahkan juga memicu gangguan di paru-paru dan di jantung ataupun di sistem saraf,” ujar dr. Cynthia.

Bahaya tersembunyi dari aktivitas renovasi rumah

ilustrasi renovasi rumah (pexels.com/Blue Bird)

Melakukan renovasi rumah menjadi sumber polusi udara tersembunyi bagi anak. Debu konstruksi bukan debu biasa. Partikel halus dari cat, semen, atau material bangunan lainnya bisa terhirup anak dan memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berulang.

Sering kali orang tua atau pengasuh merasa aman selama anak tidak batuk saat itu juga, padahal paparan terus-menerus bisa menyebabkan kerusakan paru yang sifatnya menetap hingga anak dewasa nanti.

“Kalau kita merenovasi rumah dengan membobok tembok misalnya, kegiatan ngebor, potong keramik, itu semua debu, debu semen, debu silika, materinya akan terbang yang memicu batuk, anak yang asma jadi mengi sampai penurunan fungsi paru,” dr. Cynthia menjelaskan.

Terlebih bau dari cat, lem, atau tiner yang mengeluarkan volatile organic compounds (VOC), berpotensi menyakitkan bagi mata, hidung, kepala sampai memicu asma. Bau cat yang hilang belum tentu aman karena bisa saja senyawa VOC masih ada di material renovasi.

Hal-hal yang harus diingat dan dilakukan

Keluarga adalah garda terdepan dalam meminimalkan paparan polusi bagi anak. Langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan:

  • Hentikan kebiasaan berbahaya: Jangan pernah membakar sampah di lingkungan rumah dan pastikan tidak ada anggota keluarga yang merokok di dekat anak.

  • Waspada renovasi: Tunda membawa anak ke area yang sedang dalam proses renovasi guna menghindari paparan debu konstruksi yang berbahaya bagi pernapasan.

  • Proteksi diri: Gunakan masker saat diperlukan, terutama jika berada di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk.

  • Hindari area polusi tinggi: Hindari jalanan atau area yang terpapar polusi tinggi. Jika sedang berkendara di area tersebut, pastikan jendela kendaraan tertutup rapat agar udara di dalam kendaraan tetap terjaga kebersihannya.

  • Monitor kualitas udara: Selalu pantau kadar polusi udara melalui aplikasi Indeks Kualitas Udara (AQI).

  • Pembersih udara: Gunakan alat pembersih udara (air purifier) yang dilengkapi dengan filter HEPA untuk membantu menyaring partikel polutan di dalam ruangan.

Polusi udara dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada berbagai organ tubuh. Bagi anak-anak, paparan polusi udara dapat membahayakan kesehatan karena paru-paru mereka masih dalam tahap tumbuh kembang hingga usia dewasa muda.

Anggota keluarga harus lebih peka dan waspada terhadap ancaman polusi udara yang ada di lingkungan sekitar rumah. Risiko bisa diminimalkan apabila setiap individu sadar akan lingkungan sekitar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article