ilustrasi post-earthquake dizziness syndrome (pexels.com/Picas Joe)
Penelitian terhadap penduduk yang mengalami Gempa Kumamoto 2016 di Jepang menemukan 1.543 dari 3.656 peserta atau 42,2 persen mengalami sensasi tubuh bergoyang setelah gempa.
Keluhan paling sering berupa perasaan tanah masih bergerak, muncul dalam satu minggu pertama, dan pada sebagian peserta bertahan hingga beberapa minggu.
Prevalensi PEDS dalam penelitian tersebut tidak berkaitan secara signifikan dengan jumlah gempa susulan di masing-masing wilayah. Dengan kata lain, sensasi bergoyang yang dirasakan belum tentu berarti sedang terjadi gempa susulan.
PEDS lebih sering ditemukan pada orang yang mengalami kecemasan, memiliki riwayat mabuk perjalanan, mengalami keluhan telinga seperti tinitus (telinga berdenging) atau rasa penuh, serta berada di lantai yang lebih tinggi saat gempa terjadi.
Peran faktor psikologis ini juga terlihat pada studi setelah gempa Türkiye 2023. Gejala kecemasan yang lebih tinggi dan gejala post-traumatic stress disorder (PTSD) berkaitan dengan PEDS yang menetap.