Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Masih Merasa Lantai Bergoyang setelah Gempa, Ini Fakta PEDS
Pegawai dan wisatawan asing melihat gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). (ANTARA FOTO/Gecio Viana)
  • Post-earthquake dizziness syndrome (PEDS) dapat membuat seseorang merasa tubuh atau lantai masih bergoyang meski gempa sudah berhenti.

  • Mekanismenya diduga melibatkan ketidakselarasan informasi dari mata, sistem keseimbangan telinga dalam, dan propriosepsi, ditambah respons stres dan sistem saraf otonom.

  • PEDS dapat berlangsung beberapa hari hingga minggu, tetapi pusing berat, berkepanjangan, atau disertai gejala neurologis perlu diperiksa bisa menandakan sesuatu yang lebih serius.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gempa sudah berhenti, benda-benda di ruangan terlihat diam, tetapi tubuh rasanya seperti masih terombang-ambing. Sebagian orang bahkan beberapa kali mengecek lampu gantung atau benda di sekitarnya untuk memastikan apakah terjadi gempa susulan.

Sensasi tersebut dikenal sebagai post-earthquake dizziness syndrome (PEDS). Keluhannya dapat berupa pusing, kehilangan keseimbangan, atau ilusi seolah tubuh dan permukaan tempat berpijak masih bergoyang.

Otak masih beradaptasi setelah tubuh diguncang

Keseimbangan tidak hanya bergantung pada telinga dalam. Otak terus menggabungkan informasi dari sistem vestibular di telinga dalam, penglihatan, serta propriosepsi, yaitu kemampuan tubuh mengetahui posisi anggota tubuhnya.

Ketika gempa menghasilkan gerakan yang kuat dan tidak dapat diprediksi, informasi dari ketiga sistem tersebut dapat menjadi tidak selaras. Para peneliti menduga sensory conflict ini turut menjelaskan mengapa seseorang masih merasakan gerakan setelah gempa selesai. Stres psikologis dan perubahan aktivitas sistem saraf otonom juga diperkirakan berkontribusi. Namun, mekanisme pasti PEDS belum sepenuhnya diketahui.

Mirip sensasi masih terombang-ambing sesaat setelah turun dari kapal, otak butuh waktu untuk menyesuaikan kembali persepsi tubuh dengan lingkungan yang sudah stabil.

Cukup banyak orang mengalaminya

ilustrasi post-earthquake dizziness syndrome (pexels.com/Picas Joe)

Penelitian terhadap penduduk yang mengalami Gempa Kumamoto 2016 di Jepang menemukan 1.543 dari 3.656 peserta atau 42,2 persen mengalami sensasi tubuh bergoyang setelah gempa.

Keluhan paling sering berupa perasaan tanah masih bergerak, muncul dalam satu minggu pertama, dan pada sebagian peserta bertahan hingga beberapa minggu.

Prevalensi PEDS dalam penelitian tersebut tidak berkaitan secara signifikan dengan jumlah gempa susulan di masing-masing wilayah. Dengan kata lain, sensasi bergoyang yang dirasakan belum tentu berarti sedang terjadi gempa susulan.

PEDS lebih sering ditemukan pada orang yang mengalami kecemasan, memiliki riwayat mabuk perjalanan, mengalami keluhan telinga seperti tinitus (telinga berdenging) atau rasa penuh, serta berada di lantai yang lebih tinggi saat gempa terjadi.

Peran faktor psikologis ini juga terlihat pada studi setelah gempa Türkiye 2023. Gejala kecemasan yang lebih tinggi dan gejala post-traumatic stress disorder (PTSD) berkaitan dengan PEDS yang menetap.

Kapan pusing menandakan sesuatu yang lebih serius?

Sensasi bergoyang ringan setelah gempa memang bisa menandakan PEDS, tetapi pusing memiliki banyak penyebab lain, mulai dari gangguan telinga dalam hingga masalah neurologis.

Segera temui dokter jika keluhan terus berulang, berlangsung lama, memberat, atau sampai mengganggu aktivitas.

Jangan menunda mencari pertolongan medis jika pusing berat disertai sakit kepala hebat mendadak, kelemahan atau mati rasa pada wajah atau anggota tubuh, sulit bicara, penglihatan ganda, sulit berjalan, pingsan, perubahan pendengaran mendadak, atau muntah terus-menerus.

Referensi

Toru Miwa, Hidetake Matsuyoshi, Yasuyuki Nomura, and Ryosei Minoda, “Post-earthquake Dizziness Syndrome Following the 2016 Kumamoto Earthquakes, Japan,” PLOS ONE 16, no. 8 (2021): e0255816, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0255816.

Toru Miwa, Keishi Fujiwara, Hidetake Matsuyoshi, and Yasuyuki Nomura, “Post-earthquake Dizziness Syndrome (PEDS): A Comprehensive Review of Recent Advances,” Auris Nasus Larynx 52, no. 3 (2025): 253–257, https://doi.org/10.1016/j.anl.2025.04.003.

Seda Bozduman Çelebi and Berhan Akdağ, “Identifying Predictors of Persistent Post-earthquake Dizziness among Adolescents after the 2023 Earthquakes in Türkiye: A Cross-sectional, Multicenter Study,” Auris Nasus Larynx 51, no. 6 (2024): 1081–1084, https://doi.org/10.1016/j.anl.2024.10.013.

Mayo Clinic, “Dizziness: When to See a Doctor,” diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article