- Air minum dalam kemasan.
- Biskuit, crackers, granola atau energy bar.
- Kacang-kacangan atau trail mix.
- Selai kacang dalam kemasan kecil.
- Buah kering.
- Sereal kering yang bisa langsung dimakan.
- Lauk siap makan, misalnya tuna, sarden, ayam, atau daging dalam kaleng/pouch.
- Makanan siap santap dalam kemasan retort.
- Susu UHT ukuran kecil untuk anggota keluarga yang biasa mengonsumsinya.
- Sedikit makanan yang familier atau disukai keluarga.
- Pembuka kaleng manual jika membawa makanan kaleng.
- Sendok atau alat makan sederhana.
- Makanan khusus sesuai kebutuhan anggota keluarga.
Checklist Makanan dan Minuman untuk Tas Siaga Bencana

BNPB menganjurkan tas siaga untuk kebutuhan sekitar tiga hari, dengan air aman dan cadangan rumah terpisah karena akses listrik, dapur, serta sumber air bisa terputus saat bencana.
Pilih makanan tahan lama, ringkas, berenergi, dan siap santap seperti biskuit, kacang, selai kacang, lauk kaleng atau pouch, serta makanan retort; sertakan pembuka kaleng dan alat makan.
Sesuaikan bekal bagi bayi dan anggota keluarga berkebutuhan khusus, simpan oralit untuk diare, lalu periksa kedaluwarsa serta kemasan secara rutin dan buang makanan yang terkontaminasi banjir.
Indonesia berada di wilayah yang dikenal sebagai ring of fire, tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik dunia. Kondisi geografis ini membuat Indonesia rentan mengalami berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, hingga banjir dan tanah longsor.
Ketika harus meninggalkan rumah dengan cepat akibat gempa, banjir, longsor, atau bencana lainnya, akses ke warung, listrik, air bersih, dan dapur bisa terputus tanpa banyak peringatan. Pada kondisi seperti ini, isi tas siaga bisa membantu memastikan tubuh tetap mendapat cairan dan energi sampai bantuan atau akses makanan kembali tersedia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menganjurkan keluarga menyiapkan tas siaga bencana untuk kebutuhan sekitar tiga hari. Berikut ini anjuran isinya.
Table of Content
1. Air minum
Tubuh jauh lebih cepat terdampak ketika kekurangan cairan. Para ahli merekomendasikan persediaan darurat sekitar 1 galon atau 3,8 liter air per orang per hari untuk minum dan kebutuhan dasar lainnya, dengan persediaan minimal tiga hari. Kebutuhannya dapat lebih tinggi pada cuaca panas, orang sakit, ibu hamil, atau kondisi tertentu.
Jumlah tersebut bisa terlalu berat jika harus masuk dalam satu ransel. Karena itu, sesuaikan antara air yang bisa dibawa ketika evakuasi dan cadangan air darurat yang disimpan di rumah. Yang terpenting, jangan mengandalkan sumber air yang belum dipastikan aman setelah bencana.
Banjir dapat mencemari sumber air dengan mikroorganisme penyebab penyakit.
2. Apa saja makanan yang sebaiknya masuk tas bencana?

ilustrasi air minum dalam kemasan dan makanan kalengan (pexels.com/cottonbro studio) Prinsipnya, makanan harus tahan lama, ringkas, memberikan cukup energi, dan tidak bergantung pada kulkas atau kompor.
Checklist-nya bisa berupa:
Daging kaleng siap santap, selai kacang, kraker, granola bar, dan trail mix adalah contoh makanan darurat berenergi tinggi. Dianjurkan menyiapkan makanan siap santap ketika ketika krisis membuat fasilitas memasak tidak tersedia.
3. Jangan mengisi tas dengan makanan yang harus dimasak dulu
Mi instan bisa masuk ke tas siaga, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya makanan. Ini karena setelah bencana, air bersih dan sumber energi untuk memasak mungkin tidak tersedia.
Menurut sebuah penelitian yang menginventarisasi persediaan makanan 100 rumah tangga, ketika akses air untuk menyiapkan makanan tidak tersedia, jumlah kalori dari persediaan yang benar-benar dapat digunakan diperkirakan turun 28 persen. Apabila energi untuk memasak tidak tersedia, penurunannya mencapai 35 persen, dan ketika keduanya tidak tersedia sekitar 38 persen.
Jadi, makanan yang bisa langsung dibuka dan dimakan lebih berharga dalam kondisi darurat.
4. Tidak perlu hanya membawa makanan manis

ilustrasi aneka cokelat dan permen (pexels.com/Terrance Barksdale) Cokelat atau permen memang praktis dan memberikan energi dengan cepat. Namun, jangan memenuhi tas siaga dengan jenis makanan tersebut.
Coba kombinasikan makanan sumber karbohidrat dengan makanan yang memberikan protein dan lemak, misalnya kraker dengan selai kacang, granola dengan kacang-kacangan, atau lauk kaleng dengan makanan siap santap.
Angka sekitar 2.100 kkal per orang per hari digunakan sebagai angka perencanaan kebutuhan energi minimum untuk populasi yang menerima bantuan pangan dalam situasi kemanusiaan, dengan 10–12 persen energi berasal dari protein dan setidaknya 17 persen dari lemak.
Meski demikian, kebutuhan individu berbeda menurut usia, ukuran tubuh, aktivitas, kondisi kesehatan, hingga suhu lingkungan. Prinsipnya, isi tas dengan makanan yang tahan lama sekaligus memberikan cukup energi dan variasi zat gizi.
5. Bayi dan orang dengan yang berkebutuhan khusus perlu bekal sendiri
Jika ada orang dengan alergi makanan, diabetes, kesulitan mengunyah atau menelan, penyakit tertentu, atau kebutuhan diet khusus, sediakan makanan yang bisa mereka konsumsi. Persediaan juga perlu menyesuaikan kebutuhan bayi dan anak kecil.
Untuk bayi yang menggunakan formula, rekomendasinya formula cair siap minum atau ready-to-feed (RTF) merupakan pilihan paling aman saat bencana karena tidak perlu dicampur dengan air dan tersedia dalam kemasan steril. Formula bubuk butuh air yang aman sekaligus peralatan minum yang dapat dibersihkan dengan baik—dua hal yang mungkin sulit diperoleh dalam kondisi darurat.
Jika bayi masih menyusu langsung, menyusui tetap menjadi pilihan paling aman selama bencana dan dapat membantu melindungi bayi dari infeksi ketika air dan sanitasi terganggu.
6. Perlu bawa oralit?

ilustrasi oralit, larutan rehidrasi oral, garam rehidrasi oral (pexels.com/laura adai) Kamu bisa memasukkan beberapa saset oralit atau garam rehidrasi oral dalam perlengkapan kesehatan keluarga, terutama untuk menghadapi kemungkinan diare.
Namun, oralit bukan pengganti air minum sehari-hari. Garam rehidrasi oral direkomendasikan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare dan dehidrasi. Larutan harus dibuat menggunakan air yang aman dan sesuai jumlah air yang tertulis pada kemasan.
7. Cek isi tas secara berkala
Tas siaga yang sudah disiapkan lalu dilupakan bertahun-tahun bisa kehilangan fungsinya. Air dan makanan bisa kedaluwarsa, kemasan dapat rusak, sementara kebutuhan anggota keluarga berubah.
BNPB menyarankan tas diletakkan di lokasi yang mudah dijangkau. Persediaan makanan dan minuman sebaiknya diperiksa secara rutin, lalu gunakan sistem sederhana: konsumsi produk yang mendekati kedaluwarsa dalam kehidupan sehari-hari dan ganti dengan persediaan baru.
Perhatikan pula kondisi kemasan setelah bencana. Disarankan untuk membuang makanan yang terkena air banjir atau air badai serta makanan dalam kemasan yang tidak tahan air. Makanan mudah rusak yang terlalu lama berada tanpa pendinginan juga tidak aman hanya karena bau atau tampilannya masih normal.
Jadi, tas siaga terbaik adalah yang berisi makanan dan minuman yang benar-benar dapat digunakan ketika kondisi normal tidak lagi tersedia. Isi tas dengan air yang aman, makanan tahan lama yang dapat langsung dimakan, sumber energi dan protein, serta bekal yang sesuai kebutuhan setiap anggota keluarga.
Referensi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana, bagian “Tas Siaga Bencana,” diakses Agustus 2026.
American Red Cross, “What Do You Need in a Survival Kit?,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “How to Create and Store an Emergency Water Supply,” diakses Agustus 2026.
“Infectious Diarrhea Risks as a Public Health Emergency in Floods: A Systematic Review and Meta-Analysis,” 2024.
Federal Emergency Management Agency, Community Emergency Response Team Basic Training: Participant Manual, section on disaster supply food items, diakses Agustus 2026.
Sphere Association, The Sphere Handbook: Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response, Food Security and Nutrition, 2018.
Devon L. Golem and Carol Byrd-Bredbenner, “Emergency Food Supplies in Food Secure Households,” Prehospital and Disaster Medicine 30, no. 4 (2015): 359–364, doi:10.1017/S1049023X15004884.
Centers for Disease Control and Prevention, “Facts About Infant Feeding During Emergencies,” updated 2024; Centers for Disease Control and Prevention, “Special Considerations for Emergencies,” updated 2025.
World Health Organization, Oral Rehydration Salts: Production of the New ORS (Geneva: WHO, 2006).
Centers for Disease Control and Prevention, “Keep Food Safe After a Disaster or Emergency,” diakses Agustus 2026.






















