Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Cara Menghentikan Kebiasaan Masturbasi, Butuh Strategi

6 Cara Menghentikan Kebiasaan Masturbasi, Butuh Strategi
ilustrasi laki-laki yang kecanduan masturbasi (magnific.com/magnific)
Intinya Sih
  • Masturbasi tidak otomatis menjadi masalah hanya karena dilakukan cukup sering. Hal yang perlu dinilai adalah kemampuan mengendalikan dorongan dan dampaknya terhadap kehidupan.

  • Mengandalkan niat saja biasanya tidak cukup. Kenali pemicu, ubah lingkungan, dan siapkan respons pengganti sebelum dorongan muncul.

  • Bantuan psikolog atau psikiater diperlukan jika perilaku terus berulang meski sudah berusaha berhenti, menyebabkan luka, atau mengganggu pekerjaan dan hubungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Masturbasi adalah aktivitas menyentuh area genital untuk mendapatkan stimulasi seksual. Ini merupakan perilaku yang normal dan umum, tetapi pada sebagian orang bisa berkembang menjadi kebiasaan berlebihan hingga sulit dikendalikan.

Banyak orang berusaha berhenti, tetapi dorongan biasanya muncul kembali saat stres, bosan, kesepian, atau sulit tidur.

Penting dipahami bahwa tidak ada jumlah masturbasi yang otomatis dianggap berlebihan. Perhatian baru diperlukan jika dorongan terasa tak terkendali, tetap dilakukan meski menimbulkan konsekuensi, atau mulai mengganggu kesehatan, pekerjaan, hubungan, dan tanggung jawab lain. Rasa bersalah semata karena penilaian moral tidak cukup untuk menyebut adanya gangguan perilaku seksual kompulsif.

Keputusan berhenti sepenuhnya adalah pilihan pribadi, tetapi lebih efektif jika fokus pada perubahan kebiasaan, bukan menghukum diri sendiri.

Meski kecanduan masturbasi bukan diagnosis resmi dalam kesehatan mental, tetapi perilaku ini bisa memengaruhi fungsi sehari-hari. Karena itu, jika sudah di luar kendali, penting untuk segera mengambil langkah untuk keluar dari pola adiktif.

Berikut tips menghentikan kebiasaan masturbasi agar bisa terlepas dari jerat kecanduan.

1. Tentukan masalah yang sebenarnya ingin diubah

Tanyakan kepada diri sendiri, apakah kebiasaan masturbasi:

  • Menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur atau bekerja.
  • Selalu disertai penggunaan pornografi yang sulit dikendalikan.
  • Dilakukan untuk melarikan diri dari stres atau kesepian.
  • Menyebabkan iritasi atau luka.
  • Mengganggu hubungan dengan pasangan.
  • Atau sebenarnya tidak mengganggu kehidupan, tetapi memicu rasa bersalah?

Jawabannya bisa menentukan solusi yang dibutuhkan. Jika masalah utamanya adalah menonton pornografi, target awal dapat difokuskan pada akses terhadap konten tersebut. Kalau masturbasi menjadi cara menghadapi kecemasan, menghapus akses saja kemungkinan tidak cukup karena sumber kecemasannya tetap ada.

Para ahli menyarankan agar penilaian perilaku seksual memperhatikan fungsi perilaku tersebut, situasi ketika masalah muncul, konsekuensinya, serta faktor emosional dan rutinitas yang mempertahankannya.

2. Catat pola dan pemicunya

Pemicu dapat berupa emosi, pikiran, waktu, tempat, atau akses terhadap konten tertentu. Selama beberapa hari, catat beberapa hal ini:

  • Kapan dorongan muncul.
  • Apa yang sedang dirasakan.
  • Apa yang dilakukan sebelumnya.
  • Perangkat atau konten yang digunakan.
  • Serta apa yang dirasakan sesudahnya.

Dari situ mungkin terlihat pola, misalnya dorongan paling sering muncul ketika membawa HP ke tempat tidur, setelah melihat konten tertentu di media sosial, atau saat merasa kesepian sepulang kerja.

Gangguan regulasi emosi bisa mendorong perilaku seksual kompulsif. Aktivitas seksual kadang dijadikan cara cepat untuk meredakan rasa bosan, cemas, kesepian, atau suasana hati buruk. Dengan mengenali pola ini, kamu bisa lebih memahami kebutuhan sebenarnya dan mencari cara yang lebih sehat untuk memenuhinya.

3. Langkah bertahap mengatasi kecanduan masturbasi

Seorang pria mengenakan jubah hitam sedang berbaring di tempat tidur sambil memegang ponsel, di sampingnya terdapat buku dan headphone.
ilustrasi seorang laki-laki kecanduan masturbasi (unsplash.com/Nubelson Fernandes)

Ketika dorongan sudah sangat kuat, mengandalkan kemauan semata menjadi lebih sulit. Karena itu, siapkan respons alternatif saat tanda awal muncul.

Begitu menyadari pemicu, segera ubah situasi. Bangun dari tempat tidur, pindah ke ruangan lain, berjalan sebentar, mandi, menghubungi teman, atau mengerjakan aktivitas yang butuh kedua tangan dan perhatian penuh.

Dorongan bisa muncul, tapi bukan berarti kamu harus menurutinya. Pendekatan seperti terapi perilaku kognitif dapat membantu mengenali hubungan antara situasi, pikiran, emosi, dorongan, dan tindakan, kemudian melatih respons yang lebih sesuai dengan tujuannya.

Jika target berhenti total terasa sulit, pertimbangkan taget bertahap. Contohnya, mengurangi frekuensi, tidak melakukannya saat jam kerja, atau memisahkan masturbasi dari penggunaan pornografi. Kemajuan tidak harus dimulai dari perubahan yang sempurna.

4. Ubah lingkungan yang mempermudah kebiasaan

Niat baik akan sulit bertahan kalau akses tetap terbuka lebar. Buat perilaku itu lebih susah dilakukan otomatis. Langkah praktis yang bisa dicoba:

  • Letakkan HP di luar kamar saat tidur.
  • Berhenti mengikuti akun pemicu.
  • Pasang pemblokir situs di perangkat.
  • Hindari internet sendirian di waktu yang paling rentan.
  • Kurangi berlama-lama di tempat yang biasanya jadi tempat masturbasi.

Pembatasan akses dan perubahan lingkungan merupakan bagian dari penanganan perilaku seksual kompulsif. Membuat konten seksual lebih sulit diakses dan perilaku kurang tersembunyi membantu memutus siklus berulang.

Meski begitu, pembatasan digital bukan solusi tunggal. Penting juga belajar tentang cara menghadapi emosi atau situasi yang sebelumnya ditangani lewat masturbasi.

5. Siapkan cara lain untuk memenuhi kebutuhan yang sama

Jika masturbasi digunakan untuk meredakan stres, tubuh membutuhkan pilihan lain yang cukup realistis untuk memberikan kelegaan.

Aktivitas pengganti harus disesuaikan dengan pemicunya. Sebagai contoh:

  • Saat stres: bergerak, berolahraga, latihan pernapasan, atau menulis.
  • Saat bosan: mengerjakan aktivitas terstruktur, keluar rumah, atau melakukan hobi.
  • Saat kesepian: menghubungi teman, bergabung dengan komunitas, atau menghabiskan waktu di ruang bersama.
  • Saat sulit tidur: membangun rutinitas tidur tanpa layar dan menjaga jadwal bangun yang konsisten.
  • Saat terpicu konten digital: menutup aplikasi, mengubah rekomendasi konten, dan memindahkan perangkat.

Penanganan perilaku seksual kompulsif umumnya tidak hanya berusaha menekan dorongan seksual, tetapi juga mengembangkan keterampilan menghadapi stres, pikiran, dan emosi dengan cara yang lebih sehat.

6. Menghadapi dorongan tanpa rasa malu

Seorang pria berbaring di tempat tidur sambil memegang ponsel di atasnya dengan latar belakang tirai putih di kamar.
ilustrasi pria berbaring di tempat tidur (unsplash.com/Ahmed Nishaath)

Rasa malu dapat membuat masalah makin tersembunyi dan menghalangi seseorang mencari pertolongan.

Sebuah panel ilmiah dari International Society for Sexual Medicine memperingatkan agar perilaku seksual yang normal tidak dipatologikan hanya karena bertentangan dengan norma pribadi atau sosial.

Penanganan juga tidak seharusnya memaksakan nilai moral tertentu ataupun secara otomatis menuntut pantang total dari semua aktivitas seksual.

Jika kebiasaan terulang, jangan langsung merasa usaha gagal. Evaluasi pemicu yang terlewat dan perbaiki rencana. Kekambuhan justru memberi informasi tentang bagian kebiasaan yang masih perlu ditangani.

Kapan perlu meminta bantuan profesional?

Pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang memahami kesehatan seksual apabila:

  • Sudah berulang kali mencoba berhenti tetapi selalu kehilangan kendali.
  • Masturbasi menjadi pusat kegiatan sehari-hari.
  • Pekerjaan, pendidikan, hubungan, atau tidur mulai terganggu.
  • Perilaku tetap dilakukan meskipun tidak lagi memberikan kepuasan.
  • Muncul luka, perdarahan, mati rasa, atau nyeri.
  • Kebiasaan berkaitan dengan depresi, kecemasan, trauma, penggunaan alkohol atau narkoba.
  • Muncul keinginan menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Psikoterapi dapat membantu. Menurut sebuah tinjauan sistematis, intervensi dengan komponen terapi perilaku kognitif termasuk pendekatan yang paling sering digunakan, meskipun kualitas bukti secara keseluruhan masih terbatas.

Dalam uji acak terhadap 137 laki-laki dengan gangguan hiperseksual, program terapi perilaku kognitif kelompok selama 7 minggu menghasilkan penurunan gejala dan kompulsivitas seksual yang lebih besar dibanding kelompok waiting list (belum menerima terapi). Perbaikan terlihat hingga masa tindak lanjut 3 dan 6 bulan, tetapi hasilnya belum tentu sama pada perempuan atau semua orang dengan masalah masturbasi.

Obat-obatan kadang dipertimbangkan jika kondisi penyerta atau gejala yang berat. Namun, penggunaannya harus berdasarkan evaluasi dokter. Tujuan pertolongan profesional adalah membantu seseorang kembali memiliki kendali dan menjalani kehidupan sesuai nilai serta kebutuhannya.

Referensi

Peer Briken et al., “Assessment and Treatment of Compulsive Sexual Behavior Disorder: A Sexual Medicine Perspective,” Sexual Medicine Reviews 12, no. 3 (2024): 355–370, https://doi.org/10.1093/sxmrev/qeae014.

Shane W. Kraus et al., “Compulsive Sexual Behaviour Disorder in the ICD-11,” World Psychiatry 17, no. 1 (2018): 109–110, https://doi.org/10.1002/wps.20499.

Mayo Clinic Staff, “Compulsive Sexual Behavior: Diagnosis and Treatment,” Mayo Clinic, 19 April 2023, https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/compulsive-sexual-behavior/diagnosis-treatment/drc-20360453.

Stephanie Antons et al., “Treatments and Interventions for Compulsive Sexual Behavior Disorder with a Focus on Problematic Pornography Use: A Preregistered Systematic Review,” Journal of Behavioral Addictions 11, no. 3 (2022): 643–666, https://doi.org/10.1556/2006.2022.00061.

Jonas Hallberg et al., “A Randomized Controlled Study of Group-Administered Cognitive Behavioral Therapy for Hypersexual Disorder in Men,” The Journal of Sexual Medicine 16, no. 5 (2019): 733–745, https://doi.org/10.1016/j.jsxm.2019.03.005.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More