Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Stop Kebiasaan Buka Botol Pakai Gigi, Waspadai Risiko Ini
ilustrasi membuka tutup botol (magnific.com/magnific)
  • Membuka tutup botol dengan gigi dapat menyebabkan gigi pecah, retak, serta merusak tambalan.

  • Kerusakan bisa menimbulkan nyeri saat mengunyah hingga infeksi jika jaringan di dalam gigi ikut terdampak.

  • Gigi yang pecah atau terasa sakit setelah membuka botol perlu diperiksa; retakan tidak menyatu kembali dengan sendirinya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tutup botol yang sulit dibuka, atau tidak ada pembuka botol, sering membuat sebagian orang memanfaatkan gigi sebagai alat bantu.

Cara ini memang terlihat cepat dan praktis ketika berhasil. Namun, jika sering dilakukan, ini bisa memberi tekanan besar pada gigi sehingga meningkatkan risiko gigi retak atau patah.

Tidak hanya itu, tambalan gigi yang sudah ada juga bisa rusak akibat beban yang diterima saat membuka botol.

Bisa membuat gigi retak atau patah

Saat gigi digunakan untuk mencengkeram dan mengungkit tutup botol, tekanan bekerja pada bagian gigi yang bersentuhan dengan tutup tersebut. Kerusakannya dapat berupa serpihan kecil yang terlepas, retakan, atau patahan yang lebih besar. Penggunaan gigi sebagai alat dapat menyebabkan gigi bergeser akibat tekanan dan tarikan.

Karena itu, berhasil membuka tutup botol tidak menunjukkan bahwa gigi mampu menanggung kebiasaan tersebut dengan aman. Gunakan pembuka yang sesuai dan hindari memakai gigi untuk membuka kemasan atau menggigit benda keras.

Dampaknya bisa mencapai bagian dalam gigi

ilustrasi gigi retak (unsplash.com/Ozkan Guner)

Di bawah lapisan keras gigi terdapat pulpa, yaitu jaringan lunak yang mengandung saraf dan pembuluh darah. Saat gigi retak, tekanan mengunyah dapat menggerakkan bagian yang retak dan mengiritasi jaringan tersebut. Retakan yang luas juga dapat disertai infeksi yang menyebar ke jaringan di sekitar gigi.

Bakteri beserta produk yang dihasilkannya dapat masuk melalui garis retakan dan berperan dalam gangguan pulpa.

Nyeri tidak harus terasa terus-menerus

Menurut American Association of Endodontists, gigi retak dapat menimbulkan nyeri saat mengunyah, ketika tekanan gigitan dilepas, atau saat terkena suhu panas maupun dingin. Keluhannya bisa datang dan pergi, sehingga sumber nyeri kadang sulit dikenali.

Nyeri yang mereda tidak berarti retakan gigi sudah pulih, karena retakan tidak menyatu kembali dengan sendirinya. Jika gigi terasa sakit saat mengunyah atau terkena minuman panas maupun dingin setelah membuka botol, periksakan ke dokter gigi untuk mengetahui penyebab dan tingkat kerusakannya.

Apa yang perlu dilakukan jika gigi telanjur rusak?

Jika ada bagian gigi yang pecah, simpan serpihannya dalam wadah berisi susu atau air liur, lalu bawa ke dokter gigi. Dalam kondisi tertentu, pecahan tersebut masih dapat direkatkan kembali. Gigi yang retak atau patah tetap perlu diperiksa meskipun keluhannya ringan.

Perawatannya dapat berupa tambalan atau mahkota pelindung gigi. Jika kerusakan mencapai bagian dalam, perawatan saluran akar mungkin diperlukan; pada kerusakan berat tertentu, gigi tidak dapat dipertahankan. Jenis tindakan ditentukan setelah pemeriksaan.

Referensi

Oral Health Foundation, “Opening Bottles, Tearing Clothing Tags and Doing Up Zips—The Most Alternative Uses for Our Teeth Revealed,” diakses September 2026.

American Association of Endodontists, “Cracked Teeth,” diakses September 2026.

Angeliki Kakka, Dimitrios Gavriil, and John Whitworth, “Treatment of Cracked Teeth: A Comprehensive Narrative Review,” Clinical and Experimental Dental Research 8, no. 5 (2022): 1218–48, https://doi.org/10.1002/cre2.617.

National Health Service, “Chipped, Broken or Cracked Tooth,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article